4 Cara Agar Bisa Istiqamah dalam Ketaatan

loading...
4 Cara Agar Bisa Istiqamah dalam Ketaatan
Ustaz Saeful Huda (pengasuh Pondok Pesantren Sultan Fatah Semarang) menyampaikan tausiyahnya beberapa waktu lalu. Foto/Ist
Berbahagialah orang yang istiqomah dalam ketaatan, sebab para Ulama mengatakan " Istiqamah itu lebih baik daripada 1000 karomah". Bahkan Nabi صلى الله عليه وسلم pernah bersabda: " Amalan yang paling dicintai oleh Allah yaitu yang dikerjakan secara terus-menerus ( istiqamah ) walaupun sedikit".

Pengasuh Pondok Pesantren Sultan Fatah Ustaz Saeful Huda menukil salah satu Hadis Rasulullah صلى الله عليه وسلم yang menyandingkan iman dengan istiqamah . (Baca Juga: Istiqamah, Jangan Pernah Lelah Menjaga Ketaatan )

عَنْ أَبِي عَمْرٍو وَقِيلَ: أَبِي عَمْرَةَ سُفْيَانَ
بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ: "قُلْت: يَا رَسُولَ اللَّهِ! قُلْ لِي
فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَك؛
قَالَ: قُلْ: آمَنْت بِاَللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ

Hadis di atas adalah jawaban Rasulullah صلى الله عليه وسلم atas pertanyaan yang dikemukakan oleh Sufyan bin Abdullah Ats-Tsaqafi. Ketika itu Sufyan bertanya, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku satu ucapan dalam Islam yang tidak akan kutanyakan lagi kepada selainmu". Kemudian Rasulullah صلى الله عليه وسلم menjawab, "Ucapkanlah: 'Aku beriman kepada Allah, lalu istiqamahlah ".

Apa yang dimaksud dengan istiqamah ? Secara bahasa istiqamah berarti tegak, lurus, persistensi, taat asas, atau kuat pendirian. Ada banyak definisi tentang istiqamah ini, tapi kesemuanya merujuk pada makna-makna di atas. Raghib Al-Asfahanny menyatakan, "Seseorang disebut istiqamah apabila ia tetap berada di jalan yang lurus, sebagaimana yang Allah Ta'ala firmankan:

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟

"Dan orang-orang yang mengatakan: 'Rabb kami adalah Allah', lalu mereka meneguhkan diri." (QS Al-Fushilat: 30)".

Secara umum istiqamah terbagi ke dalam tiga macam, yaitu istiqamah dengan lisan, istiqamah dengan hati, dan istiqamah dengan jiwa.

Istiqamah dengan lisan berarti menjaga lisan dari ucapan yang tidak baik dan melenceng dari makna syahadat. Istiqamah dengan hati berarti selalu menjaga lurusnya niat dan sikap ikhlas. Sedangkan istiqamah dengan jiwa berarti terus-menerus melakukan ibadah dan ketaatan pada Allah Ta'ala. (Baca Juga: Hati-hati, Inilah Faktor-faktor yang Bisa Merusak Keistiqamahan )

Bagaimana caranya agar kita istiqamah dalam ketaatan dan kebenaran? Ustaz Saeful Huda menyebutkan ada empat cara, yaitu:

1. Istiqamah Berdasarkan Ilmu
Kita jangan bertahan dalam kesalahan (jumud, takhaluf). Karenanya kita harus banyak membaca, banyak mendengar, dan harus banyak tahu, sehingga segala sesuatu yang kita lakukan selalu diback-up dengan data yang akurat. Semakin tinggi ilmu, maka akan semakin mampu berbuat istiqamah .

2. Membuat Jaringan Kebenaran (Sistem)
Untuk istiqamah kita harus membuat jaringan kebenaran (sistem). Kita tidak bisa benar sendiri, kita membutuhkan banyak teman. Di sinilah arti penting kita bergaul dengan orang-orang yang mampu mendorong kita untuk taat asas. Sebagai contoh, kita akan sulit untuk tidak merokok bila kita berada di lingkungan para perokok. Tapi sebaliknya, kita akan berhenti merokok di lingkungan orang-orang yang tidak suka merokok.

3. Memiliki Pengetahun tentang Resiko dan Hasil
Segala pengetahun tentang konsekuensi, akibat, reward, akan kita dapatkan dari sikap istiqamah . Apabila kita tahu resiko dan hasil, maka kita akan mampu bertahan dalam keistiqamahan itu. Contoh kenapa kita mau berlapar-lapar saat Ramadhan? Karena kita tahu bahwa Allah memberi ampunan dan jaminan surga kepada orang yang shaum di bulan tersebut. Jika kita tahu hasil dari apa yang kita lakukan, maka hal itu akan mempermudah kita untuk istiqamah . Kegamangan akan timbul bila kita tidak tahu gambaran akhir dari apa yang kita lakukan.

4. Mempertahankan Prinsip atau Komitmen dalam Menghadapi Resiko
Agar istiqamah , kita harus mampu mempertahankan prinsip atau komitmen dalam menghadapi resiko. Para sahabat sangat istiqamah dalam berjuang, walaupun sulit dan penuh bahaya, karena mereka tahu apa ujung dari cerita perjuangannya itu. Seorang sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم: "Wahai Rasul, kalau saya beriman kepada Allah dan engkau, dan saya berjuang untuk Islam, apa keuntungan yang saya dapatkan?" Beliau menjawab: "Di dunia kamu akan bahagia, dan di akhirat kamu akan mendapat surga". Sahabat itu kemudian berkata, "Wahai Rasul, dua hal itu sudah cukup bagi saya".

(Baca Juga: Amalan Kecil Tapi Istiqamah, Lebih Dicintai Allah Ta'ala )

Semoga Bermanfaat
Ponpes Sultan Fatah Semarang
(rhs)
preload video