Ketika Ada Dusta Di Antara Pasutri, Bagaimana Hukumnya?

loading...
Ketika Ada Dusta Di Antara Pasutri, Bagaimana Hukumnya?
Berbohong pada pasangan ada yang diperbolehkan menurut syariat, asal memenuhi syarat dan kaidah yang tidak melanggar hak dan kewajibannya masing-masing. Foto ilustrasi/ist
Dalam sebuah perjalanan rumah tangga, masalah akan kerap muncul. Sebagai suami atau istri, fitrahnya sebagai manusia, mereka juga tidak lepas dari khilaf dan dosa. Karena kekhilafan menjadi sifat yang tak mungkin tertolak.

Bahkan, keluarga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dengan Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu'anha juga pernah diuji dengan kabar dusta yang beredar saat Aisyah tertinggal dari rombongan.

Apabila, kesalahan atau aib masa lalu yang kita tutupi rapat-rapat tiba-tiba tersingkap oleh pasangan, bolehkah seorang istri atau suami berdusta? Atau ketika ada masalah rumah tangga lantas istri atau suami berbohong tentangnya, sebab jika harus jujur masalah lebih besar akan datang. Bolehkah berdusta dalam hal seperti itu?

(Baca juga :Malaikat Berebut Membaca Zikir Pendek Ini)



Berkata dusta atau bohong, sebenarnya termasuk di antara perkara yang dilarang oleh Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar (jujur).” (QS. At-Taubah : 119)



Dapat dipahami dari ayat di atas yaitu larangan untuk menjadi atau bersama dengan orang-orang yang berkata dusta atau bohong. Ancaman nyata dari orang yang gemar berdusta, yakni neraka. Karena seseorang yang gemar mengungkapkan perkataan dusta, akan menyeretnya untuk melakukan perbuatan maksiat lainnya.
halaman ke-1 dari 4
cover top ayah
وَقُلْ لِّـلۡمُؤۡمِنٰتِ يَغۡضُضۡنَ مِنۡ اَبۡصَارِهِنَّ وَيَحۡفَظۡنَ فُرُوۡجَهُنَّ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا مَا ظَهَرَ مِنۡهَا‌ وَلۡيَـضۡرِبۡنَ بِخُمُرِهِنَّ عَلٰى جُيُوۡبِهِنَّ‌ۖ وَلَا يُبۡدِيۡنَ زِيۡنَتَهُنَّ اِلَّا لِبُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اٰبَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اٰبَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآٮِٕهِنَّ اَوۡ اَبۡنَآءِ بُعُوۡلَتِهِنَّ اَوۡ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اِخۡوَانِهِنَّ اَوۡ بَنِىۡۤ اَخَوٰتِهِنَّ اَوۡ نِسَآٮِٕهِنَّ اَوۡ مَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُهُنَّ اَوِ التّٰبِعِيۡنَ غَيۡرِ اُولِى الۡاِرۡبَةِ مِنَ الرِّجَالِ اَوِ الطِّفۡلِ الَّذِيۡنَ لَمۡ يَظۡهَرُوۡا عَلٰى عَوۡرٰتِ النِّسَآءِ‌ۖ وَلَا يَضۡرِبۡنَ بِاَرۡجُلِهِنَّ لِيُـعۡلَمَ مَا يُخۡفِيۡنَ مِنۡ زِيۡنَتِهِنَّ‌ ؕ وَتُوۡبُوۡۤا اِلَى اللّٰهِ جَمِيۡعًا اَيُّهَ الۡمُؤۡمِنُوۡنَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُوۡنَ
Dan katakanlah kepada para perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putra-putra mereka, atau putra-putra suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara laki-laki mereka, atau putra-putra saudara perempuan mereka, atau para perempuan (sesama Islam) mereka, atau hamba sahaya yang mereka miliki, atau para pelayan laki-laki (tua) yang tidak mempunyai keinginan (terhadap perempuan) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat perempuan. Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertobatlah kamu semua kepada Allah, wahai orang-orang yang beriman, agar kamu beruntung.

(QS. An-Nur:31)
cover bottom ayah
preload video