Santri Sebagai Agen Perubahan, Mereka Itu Istimewa!

loading...
Santri Sebagai Agen Perubahan, Mereka Itu Istimewa!
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
Imam Shamsi Ali
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Presiden Nusantara Foundation

Satu hal yang akan diingat oleh sejarah di negeri tercinta adalah bahwa di negeri ini ada satu hari yang diperingati sebagai Hari Santri. Konon ini jadi bagian dari perjuangan teman-teman Nahdlatul Ulama (NU) yang pada akhirnya diterima dan ditetapkan oleh pemerintah dengan sebuah Kepres.

Usaha ditetapkannya Hari Santriini mengingatkan saya bagaimana lika-liku perjuangan kami komunitas Muslim di Kota New York memperjuangkan ditetapkannya Idul Fitri dan Idul Adha sebagai Hari Libur di Kota New York. Perjuangan itu memakan waktu kurang lebih tujuh tahun. Hingga pada akhirnya ketika Bill de Blasio, terpilih menjadi Wali Kota New York kami berhasil meyakinkan beliau. (Baca Juga: Menuntut Ilmu Memang Sulit, Ini Nasehat Imam Al-Bukhari)

Perjuangan kami cukup panjang. Sejak saat Michael Bloomberg sebagai wali kota kami telah melakukan pendekatan itu. Setelah berhasil meloloskan resolusi dukungan DPRD New York, kami mendesak wali kota untuk menanda tangani Resolusi itu untuk menjadi UU di Kota New York. Sayang hingga akhir tugasnya sebagai walikota New York, Michael Bloomberg gagal meresmikan Id sebagai hari libur Kota New York.



Hingga ketika calon wali kota Bill de Blasio meminta dukungan pada pilkada ketika itu, kami mengikat dukungan itu dengan komitmen Walikota nantinya untuk meresmikan Id sebagai hari libur. Beliau setuju dan jadilah Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur di Kota New York.

Benar tidaknya tentang proses penetapan Hari Santri ini sebagai bagian dari konsesi dukung mendukung ketika itu, pastinya memang kita tidak bisa lepas dari koneksi politik itu. Dan bagi saya itu sah-sah saja. Di situlah harusnya salah satu makna jihad di jalan politik. Maka ormas Islam memang harusnya menjadi bagian dari perjalanan atau proses itu. Memperjuangkan kepentingan umat lewat proses-proses politik tanpa berpolitik.

Sebagai santri, saya sendiri tentunya bangga bahwa pada akhirnya santri mendapat pengakuan resmi. Saya katakan resmi karena sesungguhnya pengakuan bangsa ini kepada santri menjadi bagian dari kesyukuran dan paham sejarah negeri. Bahwa santri tidak akan bisa dipisahkan dari sejarah perjalanan besar bangsa ini. (Baca Juga: Kemenag Gelontorkan Rp2,599 Triliun untuk 21.173 Pesantren)



Santri itu Pilihan dan Mutamayyiz (Istimewa)
Di masa lalu ada semacam persepsi yang terbangun seolah anak-anak yang disekolahkan di pesantren itu adalah pembuangan. Artinya hanya mereka yang tidak lolos masuk negeri yang dimasukkan ke pesantren. Maka pesantren misalnya identik dengan anak-anak nakal seperti saya.
halaman ke-1 dari 3
cover top ayah
وَلَوۡ اَنَّ اَهۡلَ الۡقُرٰٓى اٰمَنُوۡا وَاتَّقَوۡا لَـفَتَحۡنَا عَلَيۡهِمۡ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَالۡاَرۡضِ وَلٰـكِنۡ كَذَّبُوۡا فَاَخَذۡنٰهُمۡ بِمَا كَانُوۡا يَكۡسِبُوۡنَ‏
Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.

(QS. Al-A’raf:96)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!
preload video