Perbudakan: Islam Gunakan Metode Evolusi Bukan Revolusi
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
فَإِذَا لَقِيتُمُ الَّذِينَ كَفَرُوا فَضَرْبَ الرِّقَابِ حَتَّىٰ إِذَا أَثْخَنتُمُوهُمْ فَشُدُّوا الْوَثَاقَ فَإِمَّا مَنًّا بَعْدُ وَإِمَّا فِدَاءً حَتَّىٰ تَضَعَ الْحَرْبُ أَوْزَارَهَا
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti” [Muhammad/47 : 4]
Tidak Mengharamkan
"Jika kita berlaku jujur bahwa metode yang paling bijaksana dalam memecahkan problem perbudakan adalah Islam," tulis Hanif Luthfi, Lc, MA dalam bukunya "Budak dalam Literatur Fiqih Klasik". (Baca juga: Hari Kedua Perang Kadisiah: Pasukan Persia Tanpa Gajah, Pasukan Muslim di Atas Angin )
Pada awal kemunculannya, Islam memang tidak mengharamkan sistem perbudakan. Namun, dalam memecahkan persoalan yang terkait dengan perbudakan ini, Islam menggunakan metode tidak secara revolusioner melainkan secara evolusi atau bertahap.
Hal itu bisa dilihat misalnya, beberapa ayat Al-Qur'an telah mencantumkan baik secara tegas maupun secara tersirat tentang berbagai upaya untuk menghapus perbudakan.
Bahkan Hanif menegaskan jika ayat-ayat itu dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh, maka akan tampak bahwa Islam sangat menghendaki hapusnya perbudakan, baik dalam arti sempit atau harfiah maupun dalam arti luas atau kontekstual. (Baca juga: Perang Pecah, Pasukan Gajah Ngamuk di Tengah Ramalan Buruk tentang Persia )
"Jika kita lihat lagi kapan dan di mana Islam muncul pertama, kita patutnya bangga bahwa Islam sudah memulai menyadarkan manusia bahwa derajat manusia itu sama," katanya.
Karena pada hakikatnya asal dari manusia itu adalah merdeka dan hal ini ditegaskan Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 30 yang artinya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'."
Dalam ayat lain, tepatnya surat Al Israa ayat 70 manusia telah mendapatkan kemuliaan di antara para makhluk yang telah Allah ciptakan bertebaran di muka bumi.
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Baca juga: Detik-Detik Jelang Pecah Perang, Penyakit Sa'ad bin Abi Waqqash Kambuh )
Pahala
Pada awal-awal kemunculan Islam di tengah peradaban Mesir Kuno, Babilonia, Hittit, Yunani Kuno, Kanaan, Israel, Persia, Kushit, dan lain-lain, Islam telah berlaku ramah dan membela budak dengan memberikan pahala jika budak taat kepada tuannya.
"Seorang budak yang ikhlas dalam melaksanakan tugasnya sebagai budak dan berbakti kepada tuannya maka ia mendapat pahala yang besar, dua kali lipat," katanya.
“Apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kamu telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kamu boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti” [Muhammad/47 : 4]
Tidak Mengharamkan
"Jika kita berlaku jujur bahwa metode yang paling bijaksana dalam memecahkan problem perbudakan adalah Islam," tulis Hanif Luthfi, Lc, MA dalam bukunya "Budak dalam Literatur Fiqih Klasik". (Baca juga: Hari Kedua Perang Kadisiah: Pasukan Persia Tanpa Gajah, Pasukan Muslim di Atas Angin )
Pada awal kemunculannya, Islam memang tidak mengharamkan sistem perbudakan. Namun, dalam memecahkan persoalan yang terkait dengan perbudakan ini, Islam menggunakan metode tidak secara revolusioner melainkan secara evolusi atau bertahap.
Hal itu bisa dilihat misalnya, beberapa ayat Al-Qur'an telah mencantumkan baik secara tegas maupun secara tersirat tentang berbagai upaya untuk menghapus perbudakan.
Bahkan Hanif menegaskan jika ayat-ayat itu dirangkai dalam satu kesatuan yang utuh, maka akan tampak bahwa Islam sangat menghendaki hapusnya perbudakan, baik dalam arti sempit atau harfiah maupun dalam arti luas atau kontekstual. (Baca juga: Perang Pecah, Pasukan Gajah Ngamuk di Tengah Ramalan Buruk tentang Persia )
"Jika kita lihat lagi kapan dan di mana Islam muncul pertama, kita patutnya bangga bahwa Islam sudah memulai menyadarkan manusia bahwa derajat manusia itu sama," katanya.
Karena pada hakikatnya asal dari manusia itu adalah merdeka dan hal ini ditegaskan Al-Qur'an surat Al Baqarah ayat 30 yang artinya: "Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: 'Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi'."
Dalam ayat lain, tepatnya surat Al Israa ayat 70 manusia telah mendapatkan kemuliaan di antara para makhluk yang telah Allah ciptakan bertebaran di muka bumi.
"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (Baca juga: Detik-Detik Jelang Pecah Perang, Penyakit Sa'ad bin Abi Waqqash Kambuh )
Pahala
Pada awal-awal kemunculan Islam di tengah peradaban Mesir Kuno, Babilonia, Hittit, Yunani Kuno, Kanaan, Israel, Persia, Kushit, dan lain-lain, Islam telah berlaku ramah dan membela budak dengan memberikan pahala jika budak taat kepada tuannya.
"Seorang budak yang ikhlas dalam melaksanakan tugasnya sebagai budak dan berbakti kepada tuannya maka ia mendapat pahala yang besar, dua kali lipat," katanya.
Lihat Juga :