Ini Karamah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani yang Tak Masuk di Akal

loading...
Ini Karamah Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani yang Tak Masuk di Akal
Hadrat Syaikh Abdul Qadir/Foto/Ilustrasi/Ist/mhy
HIDUP Syaikh Abdul Qadir al-Jilani diwarnai kisah-kisah kesalehan serta karamahnya . Pembantu Syaikh Al-Jailani, Abu Abdillah Muhammad bin Abdul Fatah al-Harawi bercerita:

“Saya membantu Syaikh Abdul Qadir, selama 40 tahun. Bila salat subuh dengan wudhunya salat isya’. Jika ia berhadas segera berwudhu dan salat sunat dua rakaat. Setelah salat isya’ ia berkhalwat dan tidak ada seorangpun yang dapat menggangunya hingga terbit fajar. Beberapa kali khalifah datang ke rumahnya namun tak pernah berhasil menemuinya.”

Pernyataan Ibnu al-Fatah ini dikutip Imam al-Sya’roni dalam kitabnya yang berjudul Thabaqat al-Kubra. (Baca juga: Syaikh Abdul Qadir al-Jilani Islamkan 100.000 Penjahat, 5.000 Orang Kristen dan Yahudi )

Selanjutnya Ibnu al-Fatah menceritakan: “Saya pernah bermalam di rumah Syaikh, dan saya melihat ia salat sunnat di awal malam dan berzikir hingga sepertiganya malam yang awal.

Kemudian ia membaca: Al-Muhithu (Dia-lah yang meliputi), Al-Rabbu (Dia-lah yang membimbing), Al-Syahidu (Dia-lah Dzat yang menyaksikan sehingga tak ada satu barangpun yang ghaib bagi-Nya), Al-Hasibu (Dia-lah Dzat yang mencukupi dan memperhatikan segala hal yang telah diciptakan-Nya, dengan seteliti-telitinya), Al-Fa’alu (Dia-lah Dzat yang maha mengerjakan), Al-Khaliqu (Dia-lah Dzat yang menciptakan segalanya), Al-Khalaqu (lihat : Al-Khaliqu), Al-Bari’u (Dia-lah yang merencanakan segala sesuatu sebelum terjadi), Al-Mushawwiru (Dia-lah menciptakan segala bentuk dan rupa).

Kemudian beliau salat dan membaca Al-Qur’an sampai habis sepertiganya malam yang kedua”. (Baca juga: Kisah Abdul Qadir al-Jilani: Murid Pertamanya Adalah Pemimpin Perampok )

Sikapnya kepada Khalifah
Al-Jilani dikenal tidak mau mencari muka kepada kaum elit, baik kepada orang-orang kaya para pembesar kerajaan. Pernah suatu ketika ia didatangi oleh Khalifah , ia tidak langsung menemuinya tetapi ditinggalkan beberapa waktu dalam khalwatnya.

Diceritakan oleh Abdullah al-Mashalli bahwa pernah suatu ketika al-Mustanjid Billah salah seorang khalifah Abasiyah (555-566 H) datang ke rumah al-Jilani guna meminta nasehat. Ia meminta sesuatu yang bisa menentramkan hatinya, yaitu buah apel yang langka di tanah Irak . Lalu al-Jilani mengadahkan tangannya ke langit memohon kepada Allah, maka sekejap itupun dua buah apel tergenggam di tangannya. Maka diberikanlah sebuah untuk khalifah dan sebuah lagi untuk dirinya. (Baca juga: Penyebaran Berkah Syaikh Abdul Qadir al-Jilani )

Setelah apel dikupas dari tangan al-Jilani terciumlah bau harum dan manis tetapi anehnya kupasan khalifah tercium bau busuk dan penuh dengan ulat. Lalu khalifah terkejut seraya bertanya, "Kenapa begini wahai Syaikh?"

Beliau menjawab, "Ia busuk dan berulat karena dijamah oleh tangan seorang zalim dan ia harum dan wangi karena dijamah oleh seorang wali Allah."

Konon sejak itu khalifah taubat dan menjadi pengikutnya yang setia.
halaman ke-1
cover top ayah
وَاعۡلَمُوۡۤا اَنَّمَاۤ اَمۡوَالُكُمۡ وَاَوۡلَادُكُمۡ فِتۡنَةٌ  ۙ وَّاَنَّ اللّٰهَ عِنۡدَهٗۤ اَجۡرٌ عَظِيۡمٌ
Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah ada pahala yang besar.

(QS. Al-Anfal:28)
cover bottom ayah
preload video