Miliki Observatorium Andal, Mendidik Santri Cinta Dunia Astronomi
Senin, 11 Mei 2020 - 09:45 WIB
loading...
A
A
A
Untuk kurikulum pesantren, terdapat kuliah tahfidz Alquran sebagai tempat bagi santri yang ingin menghafalkan Alquran. Mereka mendapat bimbingan secara khusus. Jumlah yang mengikuti hanya 160 orang putra-putri. “Jadi, putra 80 orang dan putri 80 orang. Kuliah tahfidz Alquran ini menjadi layanan unggulan,” paparnya.
Dia menjelaskan, Assalam bukan pesantren penghafal Alquran, tetapi tetap bisa melahirkan santri yang bisa menghafal Alquran tanpa meninggalkan kurikulum pemerintah.
Untuk memilih masuk menjadi tahfidz Alquran, santri harus memiliki minat yang tinggi. Selain itu, juga harus berdasarkan tes kemampuan menghafal Alquran. Ketika proses telah dilakukan, dan santri dinyatakan lolos, mereka diterima di kamar khusus yang setiap kamar berisi empat orang. Mereka dikondisikan dan diberikan target atau standar hafalan yang harus dipenuhi. Selama satu tahun, mereka harus menghafalkan lima juz.
Jika tinggal di PPMI Assalam selama enam tahun, maka 30 juz bisa dikuasai. “Tetapi, ada yang tidak sampai enam tahun mereka sudah hafal (30 juz),” kata Qomaruddin.
Meski demikian, santri tidak dipaksa untuk bisa menghafal 30 juz, namun target tetap diberikan. Selain menghafal Alquran, mereka juga harus tetap sekolah. Sejak 2002, kuliah tahfidz Alquran setiap tahun melahirkan sekitar delapan orang penghafal Alquran. Sebagai reward atau hadiah, mereka diberangkatkan umrah gratis.
Mereka juga diperkenankan mengikuti perlombaan tahfidz Alquran tingkat nasional dan beberapa di antaranya pernah menjadi juara.
Di ponpes ini juga memberlakukan kelas Takhasush, sebuah kelas persiapan bagi calon santri yang akan masuk jenjang SMA di Assalam, namun berasal dari SMP umum di luar Assalam. Kelas khusus ini adalah kelas persiapan bagi anak-anak yang belum pernah di pesantren mau nyantri. Kurikulum yang diberikan untuk kelas Takhasush adalah kurikulum pesantren dan kurikulum bahasa.
Sebabnya, di Assalam selain belajar kurikulum pesantren, bahasa juga diperdalam, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris. (Ary Wahyu Wibowo)
Dia menjelaskan, Assalam bukan pesantren penghafal Alquran, tetapi tetap bisa melahirkan santri yang bisa menghafal Alquran tanpa meninggalkan kurikulum pemerintah.
Untuk memilih masuk menjadi tahfidz Alquran, santri harus memiliki minat yang tinggi. Selain itu, juga harus berdasarkan tes kemampuan menghafal Alquran. Ketika proses telah dilakukan, dan santri dinyatakan lolos, mereka diterima di kamar khusus yang setiap kamar berisi empat orang. Mereka dikondisikan dan diberikan target atau standar hafalan yang harus dipenuhi. Selama satu tahun, mereka harus menghafalkan lima juz.
Jika tinggal di PPMI Assalam selama enam tahun, maka 30 juz bisa dikuasai. “Tetapi, ada yang tidak sampai enam tahun mereka sudah hafal (30 juz),” kata Qomaruddin.
Meski demikian, santri tidak dipaksa untuk bisa menghafal 30 juz, namun target tetap diberikan. Selain menghafal Alquran, mereka juga harus tetap sekolah. Sejak 2002, kuliah tahfidz Alquran setiap tahun melahirkan sekitar delapan orang penghafal Alquran. Sebagai reward atau hadiah, mereka diberangkatkan umrah gratis.
Mereka juga diperkenankan mengikuti perlombaan tahfidz Alquran tingkat nasional dan beberapa di antaranya pernah menjadi juara.
Di ponpes ini juga memberlakukan kelas Takhasush, sebuah kelas persiapan bagi calon santri yang akan masuk jenjang SMA di Assalam, namun berasal dari SMP umum di luar Assalam. Kelas khusus ini adalah kelas persiapan bagi anak-anak yang belum pernah di pesantren mau nyantri. Kurikulum yang diberikan untuk kelas Takhasush adalah kurikulum pesantren dan kurikulum bahasa.
Sebabnya, di Assalam selain belajar kurikulum pesantren, bahasa juga diperdalam, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris. (Ary Wahyu Wibowo)
(ysw)
Lihat Juga :