Ketika Ujian Kekurangan Harta Menerpa
Kamis, 26 November 2020 - 07:32 WIB
loading...
A
A
A
(Baca juga : Potensi Investasi Hijau di Indonesia Tembus Rp6.300 Triliun )
Boleh jadi pada pandangan orang lain, mereka ini tidak beruntung. Tapi hakikatnya merekalah orang yang kaya dan berkecukupan. Sebaliknya, manakala kita melihat seseorang punya rumah yang megah atau kendaraan yang mewah, dan pakaian indah namun hatinya sempit dan jiwanya terkekang. Mengapa? Karena ternyata harta berlimpah yang ia miliki tidak pernah cukup menutupi segala kebutuhannya. Belum lagi ditambah utang yang banyak dan sulit dilunasi sebagai akibat dari gaya hidupnya yang berlebihan.
Oleh karena itu yang terpenting bukanlah terletak pada banyak atau sedikitnya harta. Yang terpenting adalah apakah harta yang kita miliki itu mencukupi atau tidak. Tidak masalah jika rumah kita masih mengontrak namun kebutuhan kita tercukupi. Tidak masalah jika kita tak punya kendaraan pribadi namun urusan kita lancar.
(Baca juga : PKS Kritik Pembukaan Layanan Calling Visa Bagi Israel oleh Kemenkumham )
Jika kita sedang berada dalam episode keterbatasan harta, maka itu tidak membahayakan selama kita bersyukur. Karena syukur adalah pengundang karunia Allah SWT yang belum datang kepada kita.
Allah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ﴿إبراهيم : ۷
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim : 7).
(Baca juga : Pakar Hukum Tata Negara: Penurunan Baliho Habib Rizieq oleh TNI Itu Termasuk Vandalisme )
Wallahu A'lam
Boleh jadi pada pandangan orang lain, mereka ini tidak beruntung. Tapi hakikatnya merekalah orang yang kaya dan berkecukupan. Sebaliknya, manakala kita melihat seseorang punya rumah yang megah atau kendaraan yang mewah, dan pakaian indah namun hatinya sempit dan jiwanya terkekang. Mengapa? Karena ternyata harta berlimpah yang ia miliki tidak pernah cukup menutupi segala kebutuhannya. Belum lagi ditambah utang yang banyak dan sulit dilunasi sebagai akibat dari gaya hidupnya yang berlebihan.
Oleh karena itu yang terpenting bukanlah terletak pada banyak atau sedikitnya harta. Yang terpenting adalah apakah harta yang kita miliki itu mencukupi atau tidak. Tidak masalah jika rumah kita masih mengontrak namun kebutuhan kita tercukupi. Tidak masalah jika kita tak punya kendaraan pribadi namun urusan kita lancar.
(Baca juga : PKS Kritik Pembukaan Layanan Calling Visa Bagi Israel oleh Kemenkumham )
Jika kita sedang berada dalam episode keterbatasan harta, maka itu tidak membahayakan selama kita bersyukur. Karena syukur adalah pengundang karunia Allah SWT yang belum datang kepada kita.
Allah berfirman:
وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ ﴿إبراهيم : ۷
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, ‘Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka pasti azab-Ku sangat berat.’” (QS. Ibrahim : 7).
(Baca juga : Pakar Hukum Tata Negara: Penurunan Baliho Habib Rizieq oleh TNI Itu Termasuk Vandalisme )
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :