Empat Jenis Manusia Menurut Syaikh Abdul Qadir, Ada yang Bagai Sekam
Jum'at, 27 November 2020 - 11:10 WIB
loading...
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
SYAIKH Abdul Qadir Al-Jilani membagi manusia dalam empat golongan. "Ada empat jenis manusia ," katanya dalam kitabnya Futuh Al-Ghaib . (Baca juga: Nasehat Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani tentang Benci dan Cinta )
Jenis pertama, menurut Syaikh, tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah. Tiada kebaikan dalam diri mereka. Mereka bagai sekam tak berbobot, jika Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya Sendiri. "Waspadalah, jangan menjadi seperti mereka," tuturnya mengingatkan.
"Inilah manusia-manusia sengsara dan dimurkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni-penghuni neraka. Kita berlindung kepada Allah dari mereka," lanjutnya.
Selanjutnya Syaikh Abdul Qadir menyampaikan nasehatnya : hiasilah dirimu dengan ma’rifat. Jadilah guru kebenaran, pembimbing ke jalan agama, pemimpinnya dan penyerunya. Ingat, bahwa kau mesti mendatangi mereka, mengajak mereka kepada ketaatan kepada Allah dan memperingatkan mereka akan dosa terhadap Allah. Maka, kau akan menjadi pejuang di jalan Allah dan akan dipahalai, sebagaimana para nabi dan utusan Allah. (Baca juga: Konsep Bersabar Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Nabi Suci SAW berkata kepada Ali RA : “Jika Allah membimbing seseorang melalui pembimbingmu atasnya, adalah lebih baik bagimu daripada tempat matahari terbit.”
Manusia jelas kedua, menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, berlidah tapi tak berhati. Mereka berbicara bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah, tapi mereka sendiri jauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dalam noda. Mereka menunjukkan kepada orang lain kesalehan mereka, tapi mereka sendiri berbuat dosa besar terhadap Allah.
Bila sendirian, mereka bagai serigala berbusana. Inilah manusia yang tentangnya Nabi memperingatkan. Ia bersabda: “Hal yang paling mesti ditakuti, yang aku takuti, oleh pengikut-pengikutku, yaitu orang berilmu yang jahat.”
Kita berlindung kepada Allah dari orang semacam itu. Maka dari itu, menjauhlah selalu dari orang seperti itu, agar kau tak terseret oleh manisnya lidahnya, yang kemudian api dosanya akan membakarmu, dan kebusukan ruhani serta hatinya akan membinasakanmu.(Baca juga: Resep Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Menempatkan Kebaikan dan Keburukan )
Manusia jenis ketiga, Syaikh Abdul Qadir mengatakan berhati tapi tak berlidah, dan beriman. Allah telah memberinya dari makhlukNya, menganugerahinya pengetahuan tentang noda-noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan membuatnya sadar akan mudharatnya berbaur dengan manusia, akan kekejian berbicara dan yang telah yakin bahwa keselamatan ada dalam ke-diam-an serta keberadaan dalam sebuah sudut.
Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa senantiasa diam, maka ia memperoleh keselamatan.”
Jenis pertama, menurut Syaikh, tak berlidah dan tak berhati. Mereka adalah manusia biasa, bodoh dan hina. Mereka tak pernah ingat kepada Allah. Tiada kebaikan dalam diri mereka. Mereka bagai sekam tak berbobot, jika Allah tak mengasihi mereka, membimbing hati mereka kepada keimanan pada-Nya Sendiri. "Waspadalah, jangan menjadi seperti mereka," tuturnya mengingatkan.
"Inilah manusia-manusia sengsara dan dimurkai oleh Allah. Mereka adalah penghuni-penghuni neraka. Kita berlindung kepada Allah dari mereka," lanjutnya.
Selanjutnya Syaikh Abdul Qadir menyampaikan nasehatnya : hiasilah dirimu dengan ma’rifat. Jadilah guru kebenaran, pembimbing ke jalan agama, pemimpinnya dan penyerunya. Ingat, bahwa kau mesti mendatangi mereka, mengajak mereka kepada ketaatan kepada Allah dan memperingatkan mereka akan dosa terhadap Allah. Maka, kau akan menjadi pejuang di jalan Allah dan akan dipahalai, sebagaimana para nabi dan utusan Allah. (Baca juga: Konsep Bersabar Menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani )
Nabi Suci SAW berkata kepada Ali RA : “Jika Allah membimbing seseorang melalui pembimbingmu atasnya, adalah lebih baik bagimu daripada tempat matahari terbit.”
Manusia jelas kedua, menurut Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani, berlidah tapi tak berhati. Mereka berbicara bijak, tapi tak berbuat bijak. Mereka menyeru orang kepada Allah, tapi mereka sendiri jauh dari-Nya. Mereka jijik terhadap noda orang lain, tapi mereka sendiri tenggelam dalam noda. Mereka menunjukkan kepada orang lain kesalehan mereka, tapi mereka sendiri berbuat dosa besar terhadap Allah.
Bila sendirian, mereka bagai serigala berbusana. Inilah manusia yang tentangnya Nabi memperingatkan. Ia bersabda: “Hal yang paling mesti ditakuti, yang aku takuti, oleh pengikut-pengikutku, yaitu orang berilmu yang jahat.”
Kita berlindung kepada Allah dari orang semacam itu. Maka dari itu, menjauhlah selalu dari orang seperti itu, agar kau tak terseret oleh manisnya lidahnya, yang kemudian api dosanya akan membakarmu, dan kebusukan ruhani serta hatinya akan membinasakanmu.(Baca juga: Resep Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani dalam Menempatkan Kebaikan dan Keburukan )
Manusia jenis ketiga, Syaikh Abdul Qadir mengatakan berhati tapi tak berlidah, dan beriman. Allah telah memberinya dari makhlukNya, menganugerahinya pengetahuan tentang noda-noda dirinya sendiri, mencerahkan hatinya dan membuatnya sadar akan mudharatnya berbaur dengan manusia, akan kekejian berbicara dan yang telah yakin bahwa keselamatan ada dalam ke-diam-an serta keberadaan dalam sebuah sudut.
Nabi SAW bersabda: “Barangsiapa senantiasa diam, maka ia memperoleh keselamatan.”
Lihat Juga :