Kisah Sufi

Kisah Sufi Mojud: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami

loading...
Kisah Sufi Mojud: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Hal-hal yang kita anggap tak terpahami, sebenarnya bisa ditelisik pada campur tangan di atas. Ilustrasi/Ist
Pada zaman dahulu, ada seorang benama Mojud. Ia hidup di sebuah kota kecil dan bertugas sebagai seorang pegawai rendahan, dan tampaknya kelak ia akan menjabat sebagai Pengawas Timbangan dan Ukuran.

Pada suatu hari, ketika ia sedang berjalan-jalan melewati kebun sebuah gedung kuno di dekat rumahnya, Khidr, Penuntun Para Sufi yang gaib, muncul di hadapannya, berpakaian hijau bercahaya.

Khidr berkata, "Orang yang berpengharapan cemerlang! Tinggalkan tugasmu dan temui aku di pinggir sungai tiga hari lagi." Kemudian, bayangan itu pun lenyap.

Mojud menghadap atasannya dengan ragu bercampur takut dan berkata bahwa ia harus meninggalkan tugasnya. Semua orang di kota kecil itu segera mendengar perihal itu dan berkata, "Mojud malang! Ia pasti sudah gila." Tetapi, karena ada banyak orang yang bisa menggantikan pekerjaan yang ditinggalkannya itu, orang-orang pun segera melupakannya.

(Baca juga: Peti Kuno Nuri Bey, Menutup Kisah Perselingkuhan? )

Pada hari yang ditentukan, Mojud bertemu Khidr, yang berkata, "Lepas pakaianmu dan ceburkan dirimu ke sungai. Mungkin ada seseorang yang akan menolongmu naik."

Mojud berbuat demikian, meskipun ia bertanya-tanya, jangan-jangan dirinya memang sudah gila.

Karena bisa berenang, ia tidak tenggelam, tetapi terbawa arus cukup jauh sebelum seorang nelayan menariknya ke perahunya, dan berkata, "Orang tolol! Arus sungai begitu kuat. Apa yang mau kau lakukan dengan berhanyut-hanyut ini?'

Mojud berkata, "Saya juga tidak tahu pasti."

"Kau ini gila," kata Si Nelayan, "Nah, kau boleh singgah di gubuk buluhku di sungai sebelah sana, nanti kita pikir lagi apa yang bisa dilakukan untukmu."

(Baca juga: Kisah Sufi Abdali dari Rumi: Si Penunggang Kuda dan Ular )

Ketika nelayan itu mengetahui bahwa Mojud halus budi bahasanya, ia pun belajar membaca dan menulis darinya. Sebagai gantinya, Mojud diberi makan dan bisa membantu nelayan itu melaut.

Setelah beberapa bulan, Khidr pun muncul, kali ini di tepi tempat tidur Mojud, katanya, "Bangun sekarang juga dan tinggalkan Si Nelayan. Kau akan dibekali untuk perjalananmu."

Mojud pun buru-buru meninggalkan pondok itu, berpakaian seperti seorang nelayan, dan terus bertanya-tanya dalam hati hingga ia sampai di jalan besar. Ketika fajar, dilihatnya seorang petani di atas seekor keledai sedang bergerak menuju pasar. "Apa Saudara mencari pekerjaan?' tanya petani itu. "Saya butuh seseorang untuk menolongku membawakan belanjaan."

Mojud pun mengikutinya. Ia bekerja pada petani itu hampir dua tahun lamanya, dan belajar banyak hal tentang pertanian, selain itu, tidak.

(Baca juga: Idries Shah Tentang Kisah Raksasa dan Sufi )

Pada suatu sore, katika ia sedang membungkus wol, Khidr muncul dan berkata, "Tinggalkan pekerjaan itu, pergilah ke Kota Mosul, dan gunakan tabunganmu untuk menjadi seorang pedagang kulit."

Mojud pun patuh.

(Baca juga: Kisah Bijak: Orang-Orang Buta dan Gajah )

Di Mosul, ia menjadi terkenal sebagai seorang saudagar kulit. Ia berdagang dan tak pernah melihat Khidr tiga tahun lamanya. Ia telah mendapatkan sejumlah uang yang cukup banyak, dan sedang berpikir membeli sebuah rumah ketika Khidr muncul lagi dan berkata, "Sini uangmu; pergilah dari kota ini ke Samarkand yang jauh, dan di sana bekerjalah sebagai seorang penjual bahan makanan."
halaman ke-1
cover top ayah
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا
Maka sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan,

(QS. Al-Insyirah:5)
cover bottom ayah
preload video