Kisah Sufi Mojud: Orang yang Hidupnya Tak Terpahami
Rabu, 13 Mei 2020 - 15:01 WIB
loading...
A
A
A
"Apa yang telah Tuan alami dalam hidup Tuan?" tanya mereka.
"Saya terjun ke sebuah sungai, menjadi seorang nelayan, lalu pada suatu malam pergi meninggalkan gubuk buluh milik nelayan yang menolongku. Setelah itu, saya menjadi seorang petani. Ketika sedang mengepak kain wol, saya beranjak pergi ke Mosul, di mana saya menjadi seorang saudagar kulit. Di sana saya mendapat banyak uang, namun melepaskannya juga. Kemudian, saya berjalan ke Samarkand dan bekerja menjual bahan pangan. Dan, di sinilah saya kini."
"Namun, perilaku-perilaku yang tak terpahami itu tidak memberikan penerangan atas kemampuanmu yang ajaib dan teladanmu yang mengagumkan," kata para penulis riwayat itu.
"Hanya itu pengalaman-pengalamanku," kata Mojud.
Begitulah, para penulis tadi menyusun bagi Mojud, sebuah kisah kehidupan yang menarik dan menakjubkan, sebab semua orang suci harus mempunyai kisah kehidupan, dan ceritanya harus sesuai dengan selera pendengarnya, bukan kenyataan kehidupannya yang sebenarnya.
Dan, tak ada orang yang diperbolehkan menyinggung tentang Khidr secara langsung. Itulah sebabnya mengapa kisah tersebut tidak benar.
Kisah itu merupakan suatu gambaran mengenai sebuah kehidupan. Kisah ini merupakan kisah nyata tentang kehidupan salah seorang sufi terbesar yang pernah hidup.
(Baca juga: Batas Dogma: Biar Saja Batu Itu di Situ )
Syaikh Ali Farmadhi (meninggal tahun 1078) menganggap kisah ini penting dalam menjelaskan kepercayaan sufi bahwa 'dunia tak kasat mata' selalu menembus kenyataan sehari-hari, pada setiap saat, di berbagai tempat.
Hal-hal, katanya, yang kita anggap tak terpahami, sebenarnya bisa ditelisik pada campur tangan di atas. Lebih lanjut, orang-orang tidak mengenali keterlibatan 'dunia' ini dalam dunia kita, sebab mereka yakin bahwa mereka mengetahui penyebab senyatanya dari berbagai peristiwa. Padahal sebenarnya tidak.
Hanya jika mereka bisa menyimpan dalam pikiran mereka tentang kemungkinan adanya dimensi lain yang terkadang bergesekan dengan pengalaman-pengalaman sehari-hari manusia, barulah dimensi ini bisa mereka dapati.
Syaikh Ali merupakan Syeh kesepuluh dan guru pengajaran dari tarekat Khwajagan ('Para Guru'), yang belakangan dikenal sebagai tarekat Naqshbandi.
Versi ini berasal dari naskah abad ketujuh belas milik Lala Anwar, Hikayt I Abdalan (Kisah Para Terubahkan).
Dinukil dari Idries Shah, Tales of The Dervishes, The Octagon Press, London, penerjemah Ahmad Bahar
"Saya terjun ke sebuah sungai, menjadi seorang nelayan, lalu pada suatu malam pergi meninggalkan gubuk buluh milik nelayan yang menolongku. Setelah itu, saya menjadi seorang petani. Ketika sedang mengepak kain wol, saya beranjak pergi ke Mosul, di mana saya menjadi seorang saudagar kulit. Di sana saya mendapat banyak uang, namun melepaskannya juga. Kemudian, saya berjalan ke Samarkand dan bekerja menjual bahan pangan. Dan, di sinilah saya kini."
"Namun, perilaku-perilaku yang tak terpahami itu tidak memberikan penerangan atas kemampuanmu yang ajaib dan teladanmu yang mengagumkan," kata para penulis riwayat itu.
"Hanya itu pengalaman-pengalamanku," kata Mojud.
Begitulah, para penulis tadi menyusun bagi Mojud, sebuah kisah kehidupan yang menarik dan menakjubkan, sebab semua orang suci harus mempunyai kisah kehidupan, dan ceritanya harus sesuai dengan selera pendengarnya, bukan kenyataan kehidupannya yang sebenarnya.
Dan, tak ada orang yang diperbolehkan menyinggung tentang Khidr secara langsung. Itulah sebabnya mengapa kisah tersebut tidak benar.
Kisah itu merupakan suatu gambaran mengenai sebuah kehidupan. Kisah ini merupakan kisah nyata tentang kehidupan salah seorang sufi terbesar yang pernah hidup.
(Baca juga: Batas Dogma: Biar Saja Batu Itu di Situ )
Syaikh Ali Farmadhi (meninggal tahun 1078) menganggap kisah ini penting dalam menjelaskan kepercayaan sufi bahwa 'dunia tak kasat mata' selalu menembus kenyataan sehari-hari, pada setiap saat, di berbagai tempat.
Hal-hal, katanya, yang kita anggap tak terpahami, sebenarnya bisa ditelisik pada campur tangan di atas. Lebih lanjut, orang-orang tidak mengenali keterlibatan 'dunia' ini dalam dunia kita, sebab mereka yakin bahwa mereka mengetahui penyebab senyatanya dari berbagai peristiwa. Padahal sebenarnya tidak.
Hanya jika mereka bisa menyimpan dalam pikiran mereka tentang kemungkinan adanya dimensi lain yang terkadang bergesekan dengan pengalaman-pengalaman sehari-hari manusia, barulah dimensi ini bisa mereka dapati.
Syaikh Ali merupakan Syeh kesepuluh dan guru pengajaran dari tarekat Khwajagan ('Para Guru'), yang belakangan dikenal sebagai tarekat Naqshbandi.
Versi ini berasal dari naskah abad ketujuh belas milik Lala Anwar, Hikayt I Abdalan (Kisah Para Terubahkan).
Dinukil dari Idries Shah, Tales of The Dervishes, The Octagon Press, London, penerjemah Ahmad Bahar
(mhy)
Lihat Juga :