Ketika Sayyidah Aisyah Difitnah Selingkuh Oleh Kaum Munafik, Apa Respons Nabi?
Selasa, 22 Desember 2020 - 17:03 WIB
loading...
Ketika kaum munafik melancarkan fitnahnya, istri Nabi tercinta Sayyidah Aisyah radhiyallahu anha juga tak luput dari fitnah keji itu. Beruntung Allah menyelamatkannya. Foto ilustrasi/Ist
A
A
A
Bahaya fitnah dan berkata bohong selain mencelakai diri sendiri juga menyebabkan kerusakan bagi orang lain. Itu sebabnya Islam melarang keras perbuatan tercela ini.
Fitnah dan dusta ini biasanya kerap dilakukan orang-orang nifak (kaum munafik). Seperti di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, fitnah telah ada dan menjamur ketika dedengkot munafik Abdullah bin Ubay bin Salul melancarkan aksinya untuk menghancurkan kaum muslimin kala itu. Bahkan, istri Nabi tercinta Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha tak luput dari fitnah kaum munafik ini.
(Baca Juga: Rahasia di Balik Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah)
Dikisahkan oleh Syaikh Ahmad Al-Misri saat kajian di Masjid Jami' Al-Ijtihad, Jalan KH Hasyim Ashari Tangerang, bermula ketika istri Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mendapat giliran menyertai Rasulullah dalam Perang Muraisi', Sayyidah Aisyah kehilangan kalungnya saat perjalanan menuju Madinah pascapeperangan.
Dalam perjalanan pulang itu, mereka beristirahat di sebuah tempat. Saat itu Sayyidah Aisyah keluar dari sekedupnya (semacam tandu yang berada di atas punggung unta) untuk satu keperluan. Ketika kembali ke sekedupnya, Sayyidah Aisyah kehilangan kalung, akhirnya beliau keluar lagi untuk mencarinya.
Saat kembali untuk yang kedua kali inilah, Sayyidah Aisyah kehilangan rombongan, karena Rasulullah telah memerintahkan pasukan beliau berangkat. Para sahabat yang menaikkan sekedup itu ke punggung unta tidak menyadari bahwa Sayyidah Aisyah tidak ada di dalamnya.
Sayyidah Aisyah pun gelisah karena ditinggal rombongan, namun beliau tidak kehilangan akal. Sayyidah Aisyah tetap menunggu di tempat semula, dengan harapan rombongan Rasulullah segera menyadari ketiadaannya dan kembali mencarinya di tempat mereka istirahat.
Akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Sampai akhirnya salah satu sahabat Rasulullah bernama Shafwan bin Al-Mu'atthal As-Sulami radhiyallahu 'anhu lewat di tempat itu dan mengenali Sayyidah Aisyah. Shafwan bin Al-Mu'atthal pernah melihat Sayyidah Aisyah saat sebelum hijab diwajibkan.
Shafwan bin Al-Mu'atthal kemudian membantu Sayyidah Aisyah. Shafwan menidurkan untanya agar Sayyidah Aisyah bisa naik unta, sementara Shafwan menuntunnya sampai ke Madinah.
Sejak bertemu dan selama perjalanan, Shafwan tidak pernah mengucapkan kalimat apapun kepada Sayyidah Aisyah selain ucapan "inna lillaahi wa inna 'ilaihi raaji'un" karena kaget saat mengetahui Sayyidah Aisyah tertinggal.
Fitnah dan dusta ini biasanya kerap dilakukan orang-orang nifak (kaum munafik). Seperti di zaman Rasulullah صلى الله عليه وسلم, fitnah telah ada dan menjamur ketika dedengkot munafik Abdullah bin Ubay bin Salul melancarkan aksinya untuk menghancurkan kaum muslimin kala itu. Bahkan, istri Nabi tercinta Sayyidah 'Aisyah radhiyallahu 'anha tak luput dari fitnah kaum munafik ini.
(Baca Juga: Rahasia di Balik Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah)
Dikisahkan oleh Syaikh Ahmad Al-Misri saat kajian di Masjid Jami' Al-Ijtihad, Jalan KH Hasyim Ashari Tangerang, bermula ketika istri Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم mendapat giliran menyertai Rasulullah dalam Perang Muraisi', Sayyidah Aisyah kehilangan kalungnya saat perjalanan menuju Madinah pascapeperangan.
Dalam perjalanan pulang itu, mereka beristirahat di sebuah tempat. Saat itu Sayyidah Aisyah keluar dari sekedupnya (semacam tandu yang berada di atas punggung unta) untuk satu keperluan. Ketika kembali ke sekedupnya, Sayyidah Aisyah kehilangan kalung, akhirnya beliau keluar lagi untuk mencarinya.
Saat kembali untuk yang kedua kali inilah, Sayyidah Aisyah kehilangan rombongan, karena Rasulullah telah memerintahkan pasukan beliau berangkat. Para sahabat yang menaikkan sekedup itu ke punggung unta tidak menyadari bahwa Sayyidah Aisyah tidak ada di dalamnya.
Sayyidah Aisyah pun gelisah karena ditinggal rombongan, namun beliau tidak kehilangan akal. Sayyidah Aisyah tetap menunggu di tempat semula, dengan harapan rombongan Rasulullah segera menyadari ketiadaannya dan kembali mencarinya di tempat mereka istirahat.
Akan tetapi yang ditunggu tidak kunjung datang. Sampai akhirnya salah satu sahabat Rasulullah bernama Shafwan bin Al-Mu'atthal As-Sulami radhiyallahu 'anhu lewat di tempat itu dan mengenali Sayyidah Aisyah. Shafwan bin Al-Mu'atthal pernah melihat Sayyidah Aisyah saat sebelum hijab diwajibkan.
Shafwan bin Al-Mu'atthal kemudian membantu Sayyidah Aisyah. Shafwan menidurkan untanya agar Sayyidah Aisyah bisa naik unta, sementara Shafwan menuntunnya sampai ke Madinah.
Sejak bertemu dan selama perjalanan, Shafwan tidak pernah mengucapkan kalimat apapun kepada Sayyidah Aisyah selain ucapan "inna lillaahi wa inna 'ilaihi raaji'un" karena kaget saat mengetahui Sayyidah Aisyah tertinggal.
Lihat Juga :