Derajat Kecintaan Menurut Imam Al-Ghazali
Senin, 28 Desember 2020 - 07:14 WIB
loading...
A
A
A
Aa Gym lantas menjelaskan, mungkin kita banyak mengalami perbedaan dalam menjalankan syariat disebabkan mazhab atau ijtihad. Namun rasa cinta kepada Allah Ta’ala adalah kekuatan yang bisa menyatukan perbedaan-perbedaan tersebut.
Kecintaan kepada Allah Ta’ala tidak hanya kita wujudkan dalam ibadah-ibadah mahdhah semata, melainkan juga mencakup ibadah-ibadah yang bentuknya interaksi dengan sesama manusia. Itu juga dengan ibadah yang berhubungan dengan interaksi kita terhadap alam semesta.
(Baca juga: Persaingan Ketat, Ini Harapan Menristek untuk Kampus di Indonesia )
Ada satu kisah saat Husein cucu Rasulullah masih kecil. Ia pernah bertanya kepada ayahnya yakni Ali Bin Abi Thalib. “Apakah engkau mencintai Allah?” Sayyidina Ali menjawab, “Ya.” Husein bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai kakek dari ibu (Rasulullah)?” Sayyidina Ali menjawab, “Ya.” Husein bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai ibuku (Fatimah az-Zahra)?” Sayyidina Ali pun menjawab, “Iya.” Husain kecil kembali bertanya,”Apakah kamu mencintaiku?” Sayyidina Ali menjawab, “Ya.”
(Baca juga: Khabib Dihina, Khamzat Chimaev Bersumpah Hancurkan Conor McGregor )
Husein kecil yang masih polos itu mengajukan pertanyaan terakhir, “Ayahku bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayyidina Ali menjelaskan, “Anakku pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kakek dari ibumu, ibumu, dan cinta kepada engkau adalah karena cintaku kepada Allah! Karena sesungguhnya semua cinta itu merupakan cabang-cabang dari cinta yang utama, yakni cinta kepada Allah Ta’ala semata.” Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu, Husein menjadi tersenyum tanda mengerti.
(Baca juga: Ramai-Ramai Berteriak Soal Kenaikan Tarif Tol di Saat Pandemi )
Begitulah hakikat cinta, menurut Aa Gym dalam tausiyahnya yang dikutip dari daaruttauhid.org, yang mana sudah seharusnya kita muarakan semua cinta terhadap Allah Ta’ala. Semoga kita senantiasa diberikan kelekatan hati untuk terus merindu dan berdekatan dengan-Nya. Semoga tidak ada yang memenuhi rongga hati kita selain kecintaan kepada Allah Ta’ala saja.
Wallahu A'lam
Kecintaan kepada Allah Ta’ala tidak hanya kita wujudkan dalam ibadah-ibadah mahdhah semata, melainkan juga mencakup ibadah-ibadah yang bentuknya interaksi dengan sesama manusia. Itu juga dengan ibadah yang berhubungan dengan interaksi kita terhadap alam semesta.
(Baca juga: Persaingan Ketat, Ini Harapan Menristek untuk Kampus di Indonesia )
Ada satu kisah saat Husein cucu Rasulullah masih kecil. Ia pernah bertanya kepada ayahnya yakni Ali Bin Abi Thalib. “Apakah engkau mencintai Allah?” Sayyidina Ali menjawab, “Ya.” Husein bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai kakek dari ibu (Rasulullah)?” Sayyidina Ali menjawab, “Ya.” Husein bertanya lagi, “Apakah engkau mencintai ibuku (Fatimah az-Zahra)?” Sayyidina Ali pun menjawab, “Iya.” Husain kecil kembali bertanya,”Apakah kamu mencintaiku?” Sayyidina Ali menjawab, “Ya.”
(Baca juga: Khabib Dihina, Khamzat Chimaev Bersumpah Hancurkan Conor McGregor )
Husein kecil yang masih polos itu mengajukan pertanyaan terakhir, “Ayahku bagaimana engkau menyatukan begitu banyak cinta di hatimu?” Kemudian Sayyidina Ali menjelaskan, “Anakku pertanyaanmu hebat! Cintaku pada kakek dari ibumu, ibumu, dan cinta kepada engkau adalah karena cintaku kepada Allah! Karena sesungguhnya semua cinta itu merupakan cabang-cabang dari cinta yang utama, yakni cinta kepada Allah Ta’ala semata.” Setelah mendengar jawaban dari ayahnya itu, Husein menjadi tersenyum tanda mengerti.
(Baca juga: Ramai-Ramai Berteriak Soal Kenaikan Tarif Tol di Saat Pandemi )
Begitulah hakikat cinta, menurut Aa Gym dalam tausiyahnya yang dikutip dari daaruttauhid.org, yang mana sudah seharusnya kita muarakan semua cinta terhadap Allah Ta’ala. Semoga kita senantiasa diberikan kelekatan hati untuk terus merindu dan berdekatan dengan-Nya. Semoga tidak ada yang memenuhi rongga hati kita selain kecintaan kepada Allah Ta’ala saja.
Wallahu A'lam
(wid)
Lihat Juga :