Haul Rumi, Kyai Budi: Tak Boleh Batal, Meski Beda Ruang dan Waktu
Jum'at, 17 April 2020 - 12:27 WIB
loading...
A
A
A
Latar belakang keluarganya memang sangat dekat dengan ilmu agama. Karenanya, Rumi juga mengisi hari-harinya semenjak kecil dengan berbagai ilmu agama dan ilmu kebatinan.
Di bawah bimbingan dari Sayyed Termazi, Rumi belajar tentang ilmu Sufi. Ia mempelajari mengenai ilmu spiritual dan rahasia tentang jiwa dan dunia ini. Setelah ayahnya, Bahaduddin, meninggal di tahun 1231 Masehi, Rumi pun melanjutkan posisinya sebagai seorang guru agama terkemuka di sana.
Rumi juga menjadi seorang Imam dan penceramah di Konya untuk meneruskan tugas sang ayah. Ketika itu, usia Rumi masih 24 tahun. Meski masih muda, ia berhasil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam terutama mengenai ilmu agama.
Di tahun 1244 Masehi, Rumi sudah menjadi seorang guru dan seorang ahli agama. Pada tahun tersebutlah, ia berjumpa dengan seorang musafir atau pengembara yang bernama Shamsuddin of Tabriz.
Pertemuannya dengan Shamsuddin atau yang akrab disapa Shams inilah yang kemudian menjadi momentum atau titik perubahan dari hidup Rumi. Mereka pun menjadi sahabat yang sangat dekat satu sama lain.
Sayangnya, ketika Shams berkunjung ke Damascus, ia terbunuh. Desas desus mengatakan bahwa Shams dibunuh oleh salah seorang murid Rumi yang tidak senang melihat kedekatan Sham dengan gurunya tersebut.
Tentu saja Rumi sangat sedih dan terpukul atas kematian Shams. Lalu, ia pun mengungkapkan rasa kasih sayangnya terhadap Shams dan penyesalan atas kematiannya dalam bentuk musik, tarian, dan syair.
Selama hampir 10 tahun setelah pertemuannya dengan Shamsuddin, Rumi pun terus mengabdikan dirinya untuk menulis ghazal atau sastra puisi yang merujuk pada sebuah tangisan kematian.
Ghazal yang ditulisnya ini diberinya nama Diwan-e-Kabir or Diwan-e Shams-e Tabrizi. Ketika menulis ghazal ini, ia bertemu dengan seorang tukang emas bernama “Salaud-Din-e Zarkub”. Salaud-Din-e Zarkub lah yang kemudian selalu menemani Rumi dalam berkarya.
Di Anatolia Rumi menyelesaikan enam volume dari karya besarnya yang dikenal sebagai Masnawi atau dalam bahasa Inggris disebut “The Masnavi”.
Di bawah bimbingan dari Sayyed Termazi, Rumi belajar tentang ilmu Sufi. Ia mempelajari mengenai ilmu spiritual dan rahasia tentang jiwa dan dunia ini. Setelah ayahnya, Bahaduddin, meninggal di tahun 1231 Masehi, Rumi pun melanjutkan posisinya sebagai seorang guru agama terkemuka di sana.
Rumi juga menjadi seorang Imam dan penceramah di Konya untuk meneruskan tugas sang ayah. Ketika itu, usia Rumi masih 24 tahun. Meski masih muda, ia berhasil membuktikan bahwa dirinya adalah seorang yang memiliki ilmu pengetahuan yang mendalam terutama mengenai ilmu agama.
Di tahun 1244 Masehi, Rumi sudah menjadi seorang guru dan seorang ahli agama. Pada tahun tersebutlah, ia berjumpa dengan seorang musafir atau pengembara yang bernama Shamsuddin of Tabriz.
Pertemuannya dengan Shamsuddin atau yang akrab disapa Shams inilah yang kemudian menjadi momentum atau titik perubahan dari hidup Rumi. Mereka pun menjadi sahabat yang sangat dekat satu sama lain.
Sayangnya, ketika Shams berkunjung ke Damascus, ia terbunuh. Desas desus mengatakan bahwa Shams dibunuh oleh salah seorang murid Rumi yang tidak senang melihat kedekatan Sham dengan gurunya tersebut.
Tentu saja Rumi sangat sedih dan terpukul atas kematian Shams. Lalu, ia pun mengungkapkan rasa kasih sayangnya terhadap Shams dan penyesalan atas kematiannya dalam bentuk musik, tarian, dan syair.
Selama hampir 10 tahun setelah pertemuannya dengan Shamsuddin, Rumi pun terus mengabdikan dirinya untuk menulis ghazal atau sastra puisi yang merujuk pada sebuah tangisan kematian.
Ghazal yang ditulisnya ini diberinya nama Diwan-e-Kabir or Diwan-e Shams-e Tabrizi. Ketika menulis ghazal ini, ia bertemu dengan seorang tukang emas bernama “Salaud-Din-e Zarkub”. Salaud-Din-e Zarkub lah yang kemudian selalu menemani Rumi dalam berkarya.
Di Anatolia Rumi menyelesaikan enam volume dari karya besarnya yang dikenal sebagai Masnawi atau dalam bahasa Inggris disebut “The Masnavi”.
Lihat Juga :