Pesan Aa Gym Tentang Kematian, Kita Cuma Numpang Hidup
Sabtu, 06 Februari 2021 - 08:44 WIB
loading...
A
A
A
Jadi, saudaraku! Apa pun peran kita di kehidupan ini, lakukan kebaikan dan lupakan. Tidak usah pamer. misalnya para guru. Kalau ada murid yang menjadi pejabat atau menteri, maka jangan merusak amal dengan menyebut-nyebut, "Si Eta dulu murid, saya tahu persis apa saja nilainya yang merah." Tidak perlu! Yang penting kita selamat saja ketika pulang.
Para orangtua juga jangan merusak kehidupan anak anaknya. Misalkan ada yang anak-anaknya diberi ujian duniawi. "Alhamdulillah, walaupun orang desa tapi ke lima anak saya sarjana semua. Memang saya harus gigih, tiap malam tahajud, air mata tak boleh berhenti dan orangtua seperti saya harus tulus." Benarkah yang begitu tulus? Atau, jangan-jangan ingin menebeng beken di depan tetangga. Tidak boleh, saudaraku!
Allah Maha Mengetahui apa pun yang kita perbuat. Karena itu apa pun dunia yang diberikan Allah, kita harus sekuat tenaga merunduk dan patuh sebagai hamba-Nya. Dengan hati yang lurus kepada Allah dan perbuatan di jalan-Nya, maka Allah juga akan memberi kita ketenangan, kemantapan dan keselamatan. Inilah yang mahal.
"Iya, saya ikhlas, benar-benar ikhlasss... tanpa pamrih." Kira-kira yang seperti ini merasa tenang? Atau, "Saya menolong saudara itu ikhlas... tapi tolong dong, raba perasaan saya. Yang begini pasti tidak tenang. Orang yang asli ikhlasnya tidak membutuhkan pengakuan atau penghargaan orang lain dalam bentuk apa pun.
Termasuk, tidak usah merasa berjasa memperjuangkan Islam. Karena apa yang kita lakukan aslinya kita sendiri yang untung. Seperti orang yang ikut berjuang dalam pertempuran. Yang mendapat pahala dirinya sendiri. Jika meninggal dan menjadi syuhada, juga dirinya sendiri yang masuk surga tanpa hisab. Kita sebenarnya tidak pernah berjuang untuk agama. Karena Islam sudah sempurna hebatnya. Kita cuma menumpang mencari pahala, nama dan akting saja.
Saudaraku. Tidak perlu lagi ada kata-kata, "Dengan adanya kami, atau "Karena ada saya." Siapalah kita ini? Kita cuma menumpang Tanpa adanya kita, dunia ini tetap beres berjalan Mas dan mbak, mboten nopo-nopo kebaikan kita tidak diketahui, diakui, atau diberi piagam. Nanti pengusung jenazah kita yang repot membawa bawa piagam ke kuburan.
Yang penting kita tidak dilupakan Allah. Karena inilah yang petaka. Jika usia jasad pendek, mudah-mudahan umur amal kita yang panjang. Cukuplah Allah yang menjadi saksi. Wa kafaa billaahi syahida.
Baca Juga: Orang yang Meninggal Menanti Doa Kita, Berikut Bacaan Doanya
Sumber:
Buku Ikhtiar Meraih Ridha Allah jilid 2
Para orangtua juga jangan merusak kehidupan anak anaknya. Misalkan ada yang anak-anaknya diberi ujian duniawi. "Alhamdulillah, walaupun orang desa tapi ke lima anak saya sarjana semua. Memang saya harus gigih, tiap malam tahajud, air mata tak boleh berhenti dan orangtua seperti saya harus tulus." Benarkah yang begitu tulus? Atau, jangan-jangan ingin menebeng beken di depan tetangga. Tidak boleh, saudaraku!
Allah Maha Mengetahui apa pun yang kita perbuat. Karena itu apa pun dunia yang diberikan Allah, kita harus sekuat tenaga merunduk dan patuh sebagai hamba-Nya. Dengan hati yang lurus kepada Allah dan perbuatan di jalan-Nya, maka Allah juga akan memberi kita ketenangan, kemantapan dan keselamatan. Inilah yang mahal.
"Iya, saya ikhlas, benar-benar ikhlasss... tanpa pamrih." Kira-kira yang seperti ini merasa tenang? Atau, "Saya menolong saudara itu ikhlas... tapi tolong dong, raba perasaan saya. Yang begini pasti tidak tenang. Orang yang asli ikhlasnya tidak membutuhkan pengakuan atau penghargaan orang lain dalam bentuk apa pun.
Termasuk, tidak usah merasa berjasa memperjuangkan Islam. Karena apa yang kita lakukan aslinya kita sendiri yang untung. Seperti orang yang ikut berjuang dalam pertempuran. Yang mendapat pahala dirinya sendiri. Jika meninggal dan menjadi syuhada, juga dirinya sendiri yang masuk surga tanpa hisab. Kita sebenarnya tidak pernah berjuang untuk agama. Karena Islam sudah sempurna hebatnya. Kita cuma menumpang mencari pahala, nama dan akting saja.
Saudaraku. Tidak perlu lagi ada kata-kata, "Dengan adanya kami, atau "Karena ada saya." Siapalah kita ini? Kita cuma menumpang Tanpa adanya kita, dunia ini tetap beres berjalan Mas dan mbak, mboten nopo-nopo kebaikan kita tidak diketahui, diakui, atau diberi piagam. Nanti pengusung jenazah kita yang repot membawa bawa piagam ke kuburan.
Yang penting kita tidak dilupakan Allah. Karena inilah yang petaka. Jika usia jasad pendek, mudah-mudahan umur amal kita yang panjang. Cukuplah Allah yang menjadi saksi. Wa kafaa billaahi syahida.
Baca Juga: Orang yang Meninggal Menanti Doa Kita, Berikut Bacaan Doanya
Sumber:
Buku Ikhtiar Meraih Ridha Allah jilid 2
(rhs)
Lihat Juga :