Setelah Diusir dari Surga, Nabi Adam dan Siti Hawa Berbuat Syirik?
Senin, 22 Februari 2021 - 13:32 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Sakaratul Maut Bagi Kaum Mukmin, Malaikat Berwajah Putih Datang Menghampirinya
Takhrij Kisah
Abu Ubaidah Yusuf menjelaskan kisah di atas sangat masyhur sekali dan banyak dimuat dalam kitab-kitab tafsir, terkadang disandarkan kepada Nabi SAW, kadang kepada sahabat dan kadang lagi kepada tabi’in.
Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad 5/11, at-Tirmidzi 3077, ar-Ruyani 816, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir 1462, 1466, Ibnu Jarir dalam Tarikh 1/148, ath-Thobarani dalam al-Kabir 8695, Ibnu Adi dalam al-Kamil 5/43, al-Hakim dalam al-Mustadrok 2/545, seluruhnya dari jalur Umar bin Ibrahim dari Qotadah dari Hasan dari Samurah dari Nabi SAW.
Derajat kisah tersebu adalah munkar. Kisah ini memiliki tiga kecacatan sebagaimana di katakan oleh Imam Ibnu Katsir :
Pertama: Riwayat Umar bin Ibrahim dari Qotadah tidak bisa dijadikan hujjah.
Kedua: Kisah ini diriwayatkan dari Samurah juga tetapi tidak mar fu’ kepada Nabi SAW.
Ketiga: Hasan al-Bashri sendiri menafsirkan ayat ini bukan dengan kisah ini, kata al-Hasan: “Ayat ini berkenaan tentang sebagian ahli agama, bukan Adam”.
Katanya juga: “Maksud ayat ini adalah anak keturunan Adam, yaitu mereka yang berbuat syirik setelah beliau”.
Katanya lagi: “Mereka adalah Yahudi dan Nashoro, Allah memberi mereka anak, lalu mereka membuatnya menjadi Yahudi dan Nashoro”.
Seandainya saja kisah ini shahih menurut beliau (Hasan), niscaya beliau menafsirkan dengannya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah ini hanya sampai kepada sahabat dan tampaknya diambil dari ahli kitab atau yang beriman dari mereka semisal Ka’ab atau Wahb bin Munabbih dan selainnya”.
Setelah itu, Ibnu Katsir mengatakan: “Adapun kami, maka kami sependapat dengan Hasan al-Bashri dalam masalah ini bahwa maksud ayat ini bukanlah Adam dan Hawa’, namun orang-orang yang berbuat syirik dari anak keturunanya”. ( Lihat Tafsir al-Qur’anil Azhim 3/530. Ucapan beliau ini disetujui banyak ulama seperti Syaikh as-Syinqithi dalam adhwa’ul Bayan 2/341, Muhammad Rosyid Ridho dalam al-Manar 9/521, Muhammad Nasib ar-Rifa’i dalam Taisir Aliyyi Qodir 2/262 dan lain sebagainya).
Kesimpulannya, kisah ini tidak shahih dari Nabi SAW, maka otomatis tidak bisa dijadikan hujjah. (Lihat Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah al-Albani: 342, Qoshosun Laa Tatsbutu Masyhur Hasan 7/11-32)
Baca juga: Nabi Muhammad, Manusia yang Nasabnya Diabadikan Sampai ke Nabi Adam
Tinjauan Matan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan beberapa point yang menunjukkan bathilnya kisah ini, kata beliau: “Kisah ini adalah bathil dari beberapa segi:
Takhrij Kisah
Abu Ubaidah Yusuf menjelaskan kisah di atas sangat masyhur sekali dan banyak dimuat dalam kitab-kitab tafsir, terkadang disandarkan kepada Nabi SAW, kadang kepada sahabat dan kadang lagi kepada tabi’in.
Diriwayatkan Imam Ahmad dalam Musnad 5/11, at-Tirmidzi 3077, ar-Ruyani 816, Ibnu Abi Hatim dalam Tafsir 1462, 1466, Ibnu Jarir dalam Tarikh 1/148, ath-Thobarani dalam al-Kabir 8695, Ibnu Adi dalam al-Kamil 5/43, al-Hakim dalam al-Mustadrok 2/545, seluruhnya dari jalur Umar bin Ibrahim dari Qotadah dari Hasan dari Samurah dari Nabi SAW.
Derajat kisah tersebu adalah munkar. Kisah ini memiliki tiga kecacatan sebagaimana di katakan oleh Imam Ibnu Katsir :
Pertama: Riwayat Umar bin Ibrahim dari Qotadah tidak bisa dijadikan hujjah.
Kedua: Kisah ini diriwayatkan dari Samurah juga tetapi tidak mar fu’ kepada Nabi SAW.
Ketiga: Hasan al-Bashri sendiri menafsirkan ayat ini bukan dengan kisah ini, kata al-Hasan: “Ayat ini berkenaan tentang sebagian ahli agama, bukan Adam”.
Katanya juga: “Maksud ayat ini adalah anak keturunan Adam, yaitu mereka yang berbuat syirik setelah beliau”.
Katanya lagi: “Mereka adalah Yahudi dan Nashoro, Allah memberi mereka anak, lalu mereka membuatnya menjadi Yahudi dan Nashoro”.
Seandainya saja kisah ini shahih menurut beliau (Hasan), niscaya beliau menafsirkan dengannya. Hal ini menunjukkan bahwa kisah ini hanya sampai kepada sahabat dan tampaknya diambil dari ahli kitab atau yang beriman dari mereka semisal Ka’ab atau Wahb bin Munabbih dan selainnya”.
Setelah itu, Ibnu Katsir mengatakan: “Adapun kami, maka kami sependapat dengan Hasan al-Bashri dalam masalah ini bahwa maksud ayat ini bukanlah Adam dan Hawa’, namun orang-orang yang berbuat syirik dari anak keturunanya”. ( Lihat Tafsir al-Qur’anil Azhim 3/530. Ucapan beliau ini disetujui banyak ulama seperti Syaikh as-Syinqithi dalam adhwa’ul Bayan 2/341, Muhammad Rosyid Ridho dalam al-Manar 9/521, Muhammad Nasib ar-Rifa’i dalam Taisir Aliyyi Qodir 2/262 dan lain sebagainya).
Kesimpulannya, kisah ini tidak shahih dari Nabi SAW, maka otomatis tidak bisa dijadikan hujjah. (Lihat Silsilah Ahadits adh-Dho’ifah al-Albani: 342, Qoshosun Laa Tatsbutu Masyhur Hasan 7/11-32)
Baca juga: Nabi Muhammad, Manusia yang Nasabnya Diabadikan Sampai ke Nabi Adam
Tinjauan Matan
Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin menjelaskan beberapa point yang menunjukkan bathilnya kisah ini, kata beliau: “Kisah ini adalah bathil dari beberapa segi:
Lihat Juga :