Sayyidah Ummu Salamah, Istri Nabi Nan Rupawan dan Berumur Panjang

Selasa, 19 Mei 2020 - 03:22 WIB
loading...
Sayyidah Ummu Salamah,...
Selain cantik, Sayyidah Ummu Salamah juga cerdas. Ilustrasi/Ist
A A A
WANITA rupawan ini dikenal sebagai Ummu Salamah. Nama lengkapnya Hindun binti Hudzaifah (Abu Umayyah) bin Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum, dari Bani Makhzum. Salamah adalah nama putranya.

Selain cantik, Sayyidah Ummu Salamah dikenal cerdas. Beliau lahir 24 tahun sebelum hijrah dan wafat pada tahun 61 H. Ayahnya adalah seorang Quraisy yang dikenal sangat dermawan.

(Baca juga: Istri Rasulullah: Sayyidah Zainab, Hanya Tiga Bulan Bersama Nabi )

Sayyidah Ummu Salamah menikah dengan putra pamannya, yaitu Abdullah bin Abdul Asad bin Hilal bin Makhzum al-Qurasyi lebih dikenal dengan Abu Salamah.

Sang suami adalah seorang sahabat yang mulia. Yang pertama-tama memeluk Islam dan merasakan musibah yang besar akibat keislamannya. Beliauu putra dari bibi Rasulullah. Ibunya bernama Barrah binti Abdul Muthalib.

Abu Salamah tercatat sebagai orang pertama dari sahabat Rasulullah dari Bani Makhzum yang hijrah ke Madinah. Ia berhijrah satu tahun sebelum peristiwa Baiat Aqobah.

Jauh sebelum hijrah ke Madinah, Abu Salamah dan Sayyidah Ummu Salamah radhiallahu ‘anha (ra) berhijrah ke Habasyah.

“Ketika kami sampai di Habasyah, penduduknya memperlakukan kami dengan sangat baik. Kami aman berada di atas agama kami. Kami tidak mendapat gangguan saat beribadah kepada Allah. Saat hal ini sampai kepada Quraisy, mereka mengirim hadiah kepada An-Najasyi. Mereka bawakan kulit (hewan) yang banyak," ujar Sayyidah Ummah Salamah berkisah.

Di Habasyah Ummu Salamah melahirkan tiga orang anak; Zainab, kemudian Salamah, Durrah, dan Umar.

(Baca juga: Saudah Binti Zam'ah, Istri Nabi yang Paling Panjang Tangannya )

Selanjutnya, Abu Salamah mudik ke Makkah menemui Rasulullah. Setibanya di Makkah, keadaan belum berubah. Orang-orang Quraisy masih saja menyakiti kaum muslimin. Di sisi lain, ia mendengar kalau di Madinah sudah terdapat kaum muslimin, ia pun berencana hijrah ke sana.

Dalam peristiwa ini Ummu Salamah, mengalami penderitaan yang sangat berat. “Saat Abu Salamah telah mantap untuk hijrah ke Madinah, ia membawakan ontanya untuk kunaiki," ujar Ummu Salamah berkisah.

Bersama putranya, Salamah bin Abu Salamah, mereka berangkat. Sekelompok laki-laki dari bani al-Mughirah bin Abdullah bin Amr bin Makhzum (keluarga Ummu Salamah) mendekati mereka dan berkata, "Tentang dirimu, kami sudah menyerah. Lalu bagaimana dengan istrimu ini? Apakah kau pikir kami akan membiarkannya pergi bersamamu ke daerah lain?” ujar kerabat Ummu Salamah itu kepada Abu Salamah.

Akhirnya, Ummu Salamah dan putranya ditahan oleh keluarganya. “Mereka melepaskan tali kekang onta dari tangan suamiku. Mereka merebutku darinya,” ujar Ummu Salamah.

(Baca juga: Ibu Kaum Mukmin, Gus Baha: Kita Berutang Banyak kepada Sayyidah Aisyah )

Mengetahui kejadian ini, bani Abdul Asad, yakni saudara Abu Salamah pun murka. Mereka berkata, "Tidak, demi Allah. Kami tak akan membiarkan anak kami (karena nasab itu dari jalur ayah) berada di sisi ibunya. Karena kalian telah memisahkan ibunya dari saudara kami".

"Mereka pun berebut menarik anakku Salamah, hingga mereka melepaskan tarikannya. Bani Abdul Asad pun membawanya pergi. Aku ditahan oleh keluargaku, Bani al-Mughirah. Sementara suamiku pergi ke Madinah,” lajut Ummu Salamah.

Ummu Salamah melanjutkan kisahnya. “Aku terpisah dari suami dan anakku. Selama hampir setahun, setiap pagi aku pergi ke ujung Kota Makkah dengan deraian air mata. Sampai akhirnya seorang laki-laki dari putra pamanku melihatku. Ia melihat keadaanku dan merasa iba.

Ia berkata kepada Bani al-Mughirah: “Apakah kalian tak membiarkan saja dia pergi? Kalian telah pisahkan ia dengan suami dan anaknya.”

Keluarga Bani al-Mughirah akhirnya melunak dan berkata pada Ummu Salamah, “Susullah suamimu jika kau menginginkannya.”

Ummu Salamah berkata, “Dan saat itu Bani Saad (keluarga Abu Salamah) mengembalikan putraku ke pangkuanku.”

"Aku pacu ontaku. Kugendong anakku dan kuletakkan ia bersamaku. Kami berangkat menuju Madinah untuk berkumpul dengan suamiku. Saat itu, tak ada seorang pun yang menemaniku."

"Aku berkata pada diriku, apakah aku akan bertemu dengan seseorang yang bisa mengantarkanku pada suamiku?"
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Rasulullah SAW...
Kisah Rasulullah SAW Menyembelih 100 Unta setelah Melaksanakan Haji Wada
Rasulullah SAW Pernah...
Rasulullah SAW Pernah Menunda Ibadah Haji Hingga 4 Tahun, Begini Kisahnya!
Kisah Baginda Nabi Muhammad...
Kisah Baginda Nabi Muhammad SAW Ketika Bertemu Lailatul Qadar
Kisah Rasulullah SAW...
Kisah Rasulullah SAW yang Melipatgandakan Sedekah di Bulan Ramadan
Kisah Lelaki Miskin...
Kisah Lelaki Miskin dan Hadiah Anggurnya untuk Rasulullah SAW
Kisah Hikmah : Ketika...
Kisah Hikmah : Ketika Rasulullah SAW Memperlama Sujudnya
Rekomendasi
Riset Terbaru Ungkap...
Riset Terbaru Ungkap Ternyata Bumi Bukan Memiliki 7 Benua
Pantai di Iran Tiba-tiba...
Pantai di Iran Tiba-tiba Berubah Warna Menjadi Merah Darah
Warga Dilarang Mati...
Warga Dilarang Mati di Kota Ini, Berikut Alasan Ilmiahnya
Artikel Terkini
7 Kisah Para Nabi di...
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Bolehkah Menggabungkan...
Bolehkah Menggabungkan Niat Puasa Sunnah?
Tahun Baru Islam 1448...
Tahun Baru Islam 1448 H Jadi Momentum Kebangkitan Umat Islam Hadapi Tantangan Global
Puasa Tasua, Keutamaan...
Puasa Tasua, Keutamaan dan Jadwal Pelaksanaannya
Tak Banyak yang Tahu,...
Tak Banyak yang Tahu, Ini 7 Larangan di Bulan Muharram
Ucapkan Selamat Tahun...
Ucapkan Selamat Tahun Baru 1448 Hijriah, Menag Ajak Umat Jaga Persatuan
Infografis
Tri Mumpuni, Ilmuwan...
Tri Mumpuni, Ilmuwan Muslim Indonesia Paling Berpengaruh di Dunia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved