Kisah Imam Junaid dan Pengemis, Pelajaran Bagi yang Suka Ghibah

loading...
Kisah Imam Junaid dan Pengemis, Pelajaran Bagi yang Suka Ghibah
Kisah Imam Junaid bertemu seorang pengemis di Baghdad hendaknya kita jadikan pelajaran berharga. Foto ilustrasi/dok Dakwah Islamiyyah
Kisah Imam Junaid Al-Baghdadi dan seorang pengemis ini patut dijadikan pelajaran berharga. Kisah ini juga menyelamatkan Imam Junaid dari dosa ghibah.

Imam Junaid Al-Baghdadi rahimahullah (220-298 Hijriyah) adalah tokoh ulama besar kelahiran Nihawand, Persia yang bermukim di Baghdad. Beliau belajar hukum Islam Mazhab Syafi'i. Nama lengkapnya Al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid Abu Qasim Al-Qawariri Al-Khazzaz al-Nahawandi Al-Baghdadi As-Syafi'i.

Baca Juga: Kisah Guru Imam Junaid Al-Baghdadi Menjadi Pengemis di Pasar

Beliau mempelajari ilmu fiqih kepada Abu Tsur al-Kalbi yang merupakan murid langsung dari Imam Asy-Syafi'i hingga akhirnya menjadi Qadi di Baghdad.

Dikisahkan, suatu hari Imam Junaid Al-Baghdadi duduk-duduk di Masjid Asy-Syuniziyyah bersama penduduk Bagdad lainnya. Beliau menunggu beberapa jenazah yang hendak mereka sholatkan.



Di depan mata Imam Junaid, seseorang yang tampaknya ahli ibadah terlihat sedang meminta-minta. "Andai saja orang ini mau bekerja hingga terhindar dari perbuatan meminta-minta tentu lebih bagus,"kata Imam Junaid dalam hati.

Kondisi aneh terasa ketika Imam Junaid pulang dari masjid itu. Beliau punya rutinitas sholat dan munajat sampai menangis setiap malam.Tapi, kali ini beliau benar-benar sangat berat melaksanakan semua wiridnya.

Ulama yang juga biasa disapa Abul Qasim ini hanya bisa bergadang sambil duduk hingga rasa kantuk menaklukannya. Dalam gelisah, Imam Junaid pun terlelap.

Tiba-tiba saja orang fakir yang beliau jumpai di Masjid asy-Syuniziyyah itu hadir dalam mimpinya. Anehnya, si pengemis digotong para penduduk Bagdad lalu menaruhnya di atas meja makan yang panjang.

Orang-orang berkata kepada Imam Junaid: "Makanlah daging orang fakir ini. Sungguh kau telah mengumpatnya."

Imam Junaid terperangah. Beliau merasa tidak pernah mengumpat pengemis itu. Sampai akhirnya Beliau sadar bahwa ia pernah menggunjingnya dalam hati soal etos kerja.

Dalam mimpi itu Imam Junaid didesak untuk meminta maafatas perbuatannya tersebut. Sejak saat itu Imam Junaid berusaha keras mencari si fakir ke semua penjuru.

Berulang kali beliau gagal menjumpainya. Hingga suatu ketika Imam Junaid melihatnya sedang memunguti dedaunan di atas sungai untuk dimakan. Dedaunan itu adalah sisa sayuran yang jatuh saat dicuci.Segera Imam Junaid menyapanya dan tanpa disangka keluar ungkapan balasan.

"Apakah kau akan mengulanginya lagi wahai Abul Qasim?""Tidak."

"Semoga Allah mengampuni diriku dan dirimu."

Imam Junaid beruntung. Peringatan untuk kesalahan "kecilnya" datang lewat mimpi sehingga bisa berbenah diri.

Lantas, bagaimana dengan orang-orang yang gemar mengumpat,mencela orang lain, bukan saja dalam hati, tapi juga terang-terangan lewat lisan dan tulisan? Semoga Allah menjauhkan kita dari perbuatan tercela seperti ghibah, namimah dan lainnya.

Sumber:
Kitab Raudhatur-Rayahin karya Abdul As'ad Al-Yafi'iAl-Yamani

Baca Juga: Ghibah Termasuk Dosa Besar, Begini Penjelasan Habib Quraisy Baharun

Wallahu A'lam
(rhs)
cover top ayah
وَلَـقَدۡ زَيَّـنَّا السَّمَآءَ الدُّنۡيَا بِمَصَابِيۡحَ وَجَعَلۡنٰهَا رُجُوۡمًا لِّلشَّيٰطِيۡنِ‌ وَاَعۡتَدۡنَا لَهُمۡ عَذَابَ السَّعِيۡرِ
Dan sungguh, telah Kami hiasi langit yang dekat, dengan bintang-bintang dan Kami jadikannya (bintang-bintang itu) sebagai alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagi mereka azab neraka yang menyala-nyala.

(QS. Al-Mulk:5)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!