Kisah Bathil? Ketika Mimpi Dijadikan Landasan Hukum Syar’i
Rabu, 10 Maret 2021 - 07:49 WIB
loading...
A
A
A
Kedua, matan-nya mudhthorib (guncang).
Kisah ini juga mudhthorib, karena diriwayatkan dari jalur yang saling berbeda dan tidak bisa digabungkan, dan jalur-jalurnya lemah sekali sehingga tidak bisa ditarjih (dikuatkan) salah satu di antaranya.
Ada yang meriwayatkan dari al-’Utby tanpa sanad, ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Harb al-Hilali, ada yang meriwayatkan dari az-Za’faroni, ada yang meriwayatkan dari Abu Harb al-Hilali, ada yang meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.
Jadi sanad kisah ini, di samping para perawinya yang tak dikenal bahkan ada yang tanpa sanad, juga matannya guncang sehingga lafadznya-pun berbeda-beda.
Baca juga: KIsah Penuh Ibrah: Usia Lanjut Nikahi Gadis Belia, Wafat Saat Jima'
Mengkritisi Matan Kisah
Kisah ini adalah munkar dan bathil karena menyelisihi Al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, sering dinukil sejumlah pihak untuk membolehkan istighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi SAW dan meminta syafa’at kepada beliau setelah wafat. Sungguh, hal ini merupakan kebatilan yang amat nyata sebagaimana dimaklumi bersama.
2. Sesungguhnya meminta syafa’at, do’a dan istighfar setelah kematian Nabi SAW dan di sisi kuburan beliau bukanlah hal yang disyari’atkan menurut satupun dari imam kaum muslimin, dan tidak disebutkan oleh salah satu imam dari imam empat dan kawan-kawan mereka yang pendahulu.
Hal ini hanya diceritakan oleh orang-orang belakangan, mereka menceritakan kisah al-’Utbi bahwa dia melihat orang Arab badui mendatangi kubur Nabi dan membaca ayat (QS. An-Nisa’: 64) dan bahwasanya dia melihat dalam mimpi bahwa Allah mengampuninya.
Kisah ini tidak disebutkan oleh salah seorang mujtahid-pun dari penganut madzhab yang diikuti oleh manusia fatwa mereka. Dan telah dimaklumi bersama kalau seandainya meminta do’a, syafa’at dan istighfar kepada Nabi di kuburnya hukumnya disyariatkan, niscaya para sahabat, tabi’in dan para imam lebih tahu dan lebih mendahului selain mereka.
Baca juga: Kisah Menarik Penuh Ibrah: Alangkah Berharganya Wajah Wanita
Alangkah indahnya ucapan Imam Malik: “Tidak baik umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi pertama menjadi baik”.
Dan tidak sampai kepadaku dari generasi pertama bahwa mereka melakukan hal itu. Lantas bagaimana orang seperti imam ini –yakni al-’Utbi- mensyari’atkan suatu agama yang tidak dinukil dari seorangpun dari salaf shalih, dan memerintahkan kepada umat untuk meminta do’a, syafa’at dan istighfar setelah matinya para Nabi dan orang-orang shalih di sisi kuburan mereka, sedangkan hal itu tidak pernah dilakukan oleh seorangpun dari salaf shalih? (Lihat Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah 1/241. Lihat pula Iqtidho’ Shirathil Mustaqim 2/762).
3. Kisah ini adalah bathil dan tidak shahih, karena pelaku kisah adalah orang yang majhul (tidak dikenal), demikian juga para perawinya adalah orang-orang yang tak dikenal. Dan tidak mungkin kisah seperti ini shahih.
4. Ini hanyalah mimpi yang tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum syar’i. Sungguh sangat mengherankan mereka berpegang kepada kisah seorang Arab badui dan meninggalkan para ulama salaf. Apakah mereka berkeyakinan bahwa orang arab badui ini lebih berilmu tentang agama daripada Abu Bakar, Umar dan seluruh para sahabat yang tidak melakukan perbuatan ini?
Wallahu'alam
Baca juga: Kisah Dusta? Ali bin Abu Thalib Duel dengan Jin di Sebuah Sumur
Kisah ini juga mudhthorib, karena diriwayatkan dari jalur yang saling berbeda dan tidak bisa digabungkan, dan jalur-jalurnya lemah sekali sehingga tidak bisa ditarjih (dikuatkan) salah satu di antaranya.
Ada yang meriwayatkan dari al-’Utby tanpa sanad, ada yang meriwayatkan dari Muhammad bin Harb al-Hilali, ada yang meriwayatkan dari az-Za’faroni, ada yang meriwayatkan dari Abu Harb al-Hilali, ada yang meriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib.
Jadi sanad kisah ini, di samping para perawinya yang tak dikenal bahkan ada yang tanpa sanad, juga matannya guncang sehingga lafadznya-pun berbeda-beda.
Baca juga: KIsah Penuh Ibrah: Usia Lanjut Nikahi Gadis Belia, Wafat Saat Jima'
Mengkritisi Matan Kisah
Kisah ini adalah munkar dan bathil karena menyelisihi Al-Qur’an dan hadits. Oleh karena itu, sering dinukil sejumlah pihak untuk membolehkan istighosah (meminta pertolongan) kepada Nabi SAW dan meminta syafa’at kepada beliau setelah wafat. Sungguh, hal ini merupakan kebatilan yang amat nyata sebagaimana dimaklumi bersama.
2. Sesungguhnya meminta syafa’at, do’a dan istighfar setelah kematian Nabi SAW dan di sisi kuburan beliau bukanlah hal yang disyari’atkan menurut satupun dari imam kaum muslimin, dan tidak disebutkan oleh salah satu imam dari imam empat dan kawan-kawan mereka yang pendahulu.
Hal ini hanya diceritakan oleh orang-orang belakangan, mereka menceritakan kisah al-’Utbi bahwa dia melihat orang Arab badui mendatangi kubur Nabi dan membaca ayat (QS. An-Nisa’: 64) dan bahwasanya dia melihat dalam mimpi bahwa Allah mengampuninya.
Kisah ini tidak disebutkan oleh salah seorang mujtahid-pun dari penganut madzhab yang diikuti oleh manusia fatwa mereka. Dan telah dimaklumi bersama kalau seandainya meminta do’a, syafa’at dan istighfar kepada Nabi di kuburnya hukumnya disyariatkan, niscaya para sahabat, tabi’in dan para imam lebih tahu dan lebih mendahului selain mereka.
Baca juga: Kisah Menarik Penuh Ibrah: Alangkah Berharganya Wajah Wanita
Alangkah indahnya ucapan Imam Malik: “Tidak baik umat ini kecuali dengan apa yang membuat generasi pertama menjadi baik”.
Dan tidak sampai kepadaku dari generasi pertama bahwa mereka melakukan hal itu. Lantas bagaimana orang seperti imam ini –yakni al-’Utbi- mensyari’atkan suatu agama yang tidak dinukil dari seorangpun dari salaf shalih, dan memerintahkan kepada umat untuk meminta do’a, syafa’at dan istighfar setelah matinya para Nabi dan orang-orang shalih di sisi kuburan mereka, sedangkan hal itu tidak pernah dilakukan oleh seorangpun dari salaf shalih? (Lihat Majmu’ Fatawa, Ibnu Taimiyyah 1/241. Lihat pula Iqtidho’ Shirathil Mustaqim 2/762).
3. Kisah ini adalah bathil dan tidak shahih, karena pelaku kisah adalah orang yang majhul (tidak dikenal), demikian juga para perawinya adalah orang-orang yang tak dikenal. Dan tidak mungkin kisah seperti ini shahih.
4. Ini hanyalah mimpi yang tidak bisa dijadikan sebagai landasan hukum syar’i. Sungguh sangat mengherankan mereka berpegang kepada kisah seorang Arab badui dan meninggalkan para ulama salaf. Apakah mereka berkeyakinan bahwa orang arab badui ini lebih berilmu tentang agama daripada Abu Bakar, Umar dan seluruh para sahabat yang tidak melakukan perbuatan ini?
Wallahu'alam
Baca juga: Kisah Dusta? Ali bin Abu Thalib Duel dengan Jin di Sebuah Sumur
(mhy)
Lihat Juga :