alexametrics

Sayyidah Juwairiyah, Tawanan Perang yang Bikin Sayyidah Aisyah Cemburu Berat

loading...
Sayyidah Juwairiyah, Tawanan Perang yang Bikin Sayyidah Aisyah Cemburu Berat
Sayyidah Juwairiyah wafat pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sofyan. Ilustrasi/Ist
NAMA aslinya adalah Burrah binti Harits bin Abu Dhirar bin Habib bin Aid bin Malik bin Judzaimah bin Musthaliq bin Khuzaah. Ayahnya, al-Harits, adalah pemimpin Bani Musthaliq. Setelah menikah dengan Nabi, namanya diganti dengan Juwairiyah. Beliau tidak suka kalau dikatakan, ‘beliau keluar dari Barrah (kebaikan)’

Sayyidah Juwairiyah adalah istri Musafi ’ bin Shafwan. Beliau kaum ningrat nan cantik, baik hati, dan luas ilmunya. "Lelaki mana pun yang memandangnya bakal jatuh cinta," ujar Sayyidah Aisyah ra.

Kisah Sayyidah Juwairiyah sampai ke pintu rumah Rasulullah, tidak lepas dari permusuhan Bani Musthaliq kepada Islam. Harits bin Abu Dhirar yang menyembah berhala hendak menghalangi dakwah Rasulullah SAW di Madinah.




Baca juga: Pernikahan Tak Lazim Dua Kali Sayyidah Zainab bin Jahsy

Mendengar Bani Musthaliq siap mengangkat senjata, Rasulullah SAW memerintahkan para sahabatnya untuk siap berjihad. Rasulullah menjadi panglima dalam perang Mustalaq ini. Beliau menunjuk Abu Dzar al-Ghifari sebagai wali sementara di Madinah.

Kedua pasukan bertemu di daerah Muraisi. Bersama pasukan Muhajirin dan Anshar, Rasulullah SAW berhasil mengalahkan Bani Mushtaliq. Suami Juwairiyah, Musafi ’ bin Shafwan, terbunuh dalam perang ini. Karena kalah perang, harta dan wanita Bani Mushaliq, termasuk Sayyidah Juwairiyah menjadi tawanan kaum Muslimin.

Janda Musafi ini diserahkan kepada Tsabit bin Qais bin Syammas. Karena Juwairiyah termasuk pemuka kaumnya, ia merasakan kesedihan dan beban yang luar biasa akibat kekalahan Bani Musthaliq. Suaminya terbunuh, ayahnya melarikan diri, dan kini dia beserta kaumnya menjadi tawanan kaum Muslimin.

Baca juga: Sayyidah Hafshah, Istri Rasulullah yang Sempat Dapat Talak Satu

Beliau pun ingin menebus dirinya agar bebas. Karena dirinya adalah seorang tokoh dari kaumnya. Namun, ia tak memiliki apapun yang bisa digunakan untuk menebus dirinya.

Sayyidah Aisyah ra menceritakan, “Saat Rasulullah menawan orang-orang Bani Musthaliq, Juwairiyah binti al-Harits berada pada tangan sahabat Tsabit bin Qays bin asy-Syammas radhiallahu ‘anhu atau pada anak pamannya. Juwairiyah berkeinginan membebaskan dirinya. Ia adalah seorang wanita yang cantik dan memesona. Hampir-hampir tak ada seorang pun yang melihatnya kecuali jatuh hati padanya. Ia datang menemui Rasulullah, dengan maksud meminta tolong kepada beliau untuk membebaskan dirinya. Demi Allah, tatkala aku melihat ia berdiri di depan pintu rumahku, aku tidak menyukai hal itu. Karena aku tahu, Rasulullah akan melihat apa yang aku lihat".

Baca juga: Rahasia di Balik Pernikahan Rasulullah dengan Siti Aisyah

Juwairiyah berkata, ‘Hai Rasulullah, aku memiliki masalah yang telah Anda ketahui. Aku ingin membebaskan diriku. Dan aku datang kepadamu agar kau menolongku’. Rasulullah menanggapi, ‘Atau kau ingin yang lebih baik dari itu?’ ‘Apa itu, Rasulullah?’ tanya Juwairiyah. Rasulullah berkata, ‘Aku menikahimu dan kutunaikan pembebasanmu’. Juwairiyah menjawab, ‘Tentu mau’. Nabi menjawab, ‘Aku telah melakukannya’.”

Aisyah melanjutkan, “Kabar ini pun tersebar di tengah kaum muslimin. Mereka berkata, ‘(tawanan kita ini) ipar-ipar Rasulullah!’. Mereka pun membebaskan semua tawanan Bani Musthaliq. Tawanan yang dibebaskan karena pernikahan Juwairiyah ini berjumlah 100 orang Bani Musthaliq. Aku tidak mengetahui wanita yang paling besar berkahnya terhadap kaumnya dibanding Juwairiyah.”

Baca juga: Ibu Kaum Mukmin, Gus Baha: Kita Berutang Banyak kepada Sayyidah Aisyah)

Keislaman pemimpin Bani Mustahliq, Harits bin Abu Dhirar, terjadi setelah ia bermaksud menebus putrinya. Ia bermaksud menyerahkan unta-untanya kepada Rasulullah SAW sebagai tebusan. Tapi, ia menyembunyikan dua unta terbaiknya di Aqiq.

Saat menemui Rasulullah, seperti diriwayatkan Ibnu Hisyam, Harits ditanya tentang dua untanya yang disimpan di Aqiq. Takjub dengan pemahaman Rasulullah karena tak seorang pun tahu dia menyimpan dua untanya, Harits pun langsung mengikrarkan syahadat. Islamnya Harits juga diikuti Islamnya seluruh Bani Musthaliq yang masih tersisa.

Setelah itu, dilangsungkan pernikahan antara Rasulullah dan Sayyidah Juwairiyah dengan mahar 400 dirham. Setelah menjadi Ummahatul Mukminin, Sayyidah Juwairiyah banyak menghabiskan waktunya dengan ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Nama Sayyidah Juwairiyah pun diberikan Rasulullah SAW setelah mereka menikah. Sayyidah Juwairiyah dikenal dengan sahabiyah yang ahli salat.

Baca juga: Istri Rasulullah: Sayyidah Zainab, Hanya Tiga Bulan Bersama Nabi

Rasulullah adalah seorang suami yang pandai menanamkan pengaruh kepada manusia. Dan tentu saja terhadap istrinya. Setelah memeluk Islam, Sayyidah Juwairiyah menjadi seorang wanita yang rajin beribadah. Ia banyak mengerjakan puasa sunnah. Saat ia berpuasa sunnah di hari Jumat saja, Nabi perintahkan dia untuk membatalkannya. Di antara kebiasaannya adalah berzikir mulai dari usai salat subuh hingga terbit matahari.

Dari Abu Ayyub dari Juwairiyah binti al-Harits radhiallahu ‘anha, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menemuinya di hari Jumat. Saat itu Juwairiyah sedang berpuasa. Nabi bertanya, “Apakah kau kemarin berpuasa?” Juwairiyah menjawab, “Tidak.” Nabi melanjutkan, “Besok kau akan berpuasa?” “Tidak”, jawab Juwairiyah. “Jika demikian, batalkanlah”, kata Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sayyidah Juwairiyah berkata, “Nabi keluar dari rumahku. Saat itu aku sedang berada di mushalla rumahku. Beliau kembali lagi saat siang, sementara aku masih di tempat itu. Beliau berkata, ‘Engkau tidak meninggalkan mushallamu sedari aku keluar tadi?’ ‘Iya’, jawabku. Beliau bersabda,

لَقَدْ قُلْتُ بَعْدَكِ أرْبَعَ كَلِمَاتٍ ثَلاثَ مَرَّاتٍ ، لَوْ وُزِنَتْ بِمَا قُلْتِ مُنْذُ اليَوْمِ لَوَزَنَتْهُنَّ : سُبْحَانَ الله وَبِحَمْدِهِ عَدَدَ خَلْقِهِ ، وَرِضَا نَفْسِهِ ، وَزِنَةَ عَرْشِهِ ، وَمِدَادَ كَلِمَاتِهِ

Sungguh, aku telah mengucapkan setelahmu empat kalimat sebanyak tiga kali. Jika ditimbang dengan yang kau ucapkan sejak tadi tentu akan menyamai timbangannya yaitu, “Subhhaanallahi wa bi-hamdih, ‘adada kholqih wa ridhoo nafsif, wa zinata ‘arsyih , wa midaada kalimaatih. (artinya: Mahasuci Allah. Aku memuji-Nya sebanyak makhluk-Nya, sejauh kerelaan-Nya, seberat timbangan ‘Arsy-Nya, dan sebanyak tinta tulisan kalimat-Nya).” (HR. Muslim, no. 2726).

Baca juga: Sayyidah Ummu Salamah, Istri Nabi Nan Rupawan dan Berumur Panjang

Sayyidah Juwairiyah wafat pada masa pemerintahan Muawiyah bin Abu Sofyan. Beliau wafat pada usia 60 tahun dan dikuburkan di Baqi’, bersebelahan dengan makam istri Rasulullah lainnya. Abdullah bin Umar mengatakan, Sayyidah Juwariyah wafat pada usia 65 tahun. Dan yang menjadi imam shalatnya adalah Khalifah Marwan bin al-Hakam. (Baca juga: Saudah Binti Zam'ah, Istri Nabi yang Paling Panjang Tangannya)
(mhy)
KOMENTAR
loading gif
cover top ayah
اَللّٰهُ يَتَوَفَّى الۡاَنۡفُسَ حِيۡنَ مَوۡتِهَا وَالَّتِىۡ لَمۡ تَمُتۡ فِىۡ مَنَامِهَا‌ ۚ فَيُمۡسِكُ الَّتِىۡ قَضٰى عَلَيۡهَا الۡمَوۡتَ وَ يُرۡسِلُ الۡاُخۡرٰٓى اِلٰٓى اَجَلٍ مُّسَمًّى‌ ؕ اِنَّ فِىۡ ذٰ لِكَ لَاٰیٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَّتَفَكَّرُوۡنَ
Allah memegang nyawa (seseorang) pada saat kematiannya dan nyawa (seseorang) yang belum mati ketika dia tidur; maka Dia tahan nyawa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia lepaskan nyawa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sungguh, pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran) Allah bagi kaum yang berpikir.

(QS. Az-Zumar:42)
cover bottom ayah
preload video
Aktifkan notifikasi browser anda untuk mendapatkan update berita terkini SINDOnews.
Aktifkan
Tidak