Renungan: Kisah Burung Ingin Mengubah Tradisi Ramadhan

loading...
Renungan: Kisah Burung Ingin Mengubah Tradisi Ramadhan
Burung hantu/Foto/Ilustrasi/Ist
DIA alumnus perguruan tinggi Islam nan masyhur dari luar negeri. Pulang ke Indonesia seperti baru saja mengenal negerinya sendiri. Dia banyak mengkritik gaya Ramadhan di negeri ini.

Baca juga: Renungan: Menagih Janji Tuhan, Apa Itu Harta Segalanya?

Pada pekan pertama Ramadhan masjid dijubeli jamaah salat Tarawih. Lantas lengang menjelang lebaran. Orang-orang yang semula getol beribadah, seketika berpindah perhatiannya ke pusat perbelanjaaan demi berburu pakaian baru dan beragam kue.

Negeri menjadi bising oleh pelantang masjid di kala waktu sahur tiba. Inikah Ramadhan itu?

“Rasulullah tak pernah mencontohkan yang demikian itu,” ucapnya kepada imam masjid, yang sengaja ia cegat usai bubar salat Tarawih. “Bayangkanlah jika hal tersebut dilakukan di negara yang minoritas muslim, niscaya kita akan dianggap sebagai perusuh berkedok agama,” lanjutnya.



Imam masjid hanya mengangguk-anggukkan kepalanya mengesankan setuju. Masjid sudah sepi malam itu. Hanya ada kerumunan anak-anak yang masih hiruk pikuk bermain petasan.

“Bukankah Ramadhan mengajak kita untuk berpuasa dari banyak hal? Bukan sekadar menahan makan-minum belaka,” ujar pria ini masih bernada bertanya. Imam masjid tak juga mengeluarkan suara.

Pemuda itu seperti sedang ingin memprovokasi imam masjid untuk bersama-sama dirinya mengubah kondisi tersebut, setidaknya dari lingungannya sendiri.

Baca juga: Renungan: Menghabiskan Umur untuk Perut, Sesekali Lapar Itu Baik

Apa yang dikatakan sarjana made in manca negara ini tidak keliru. Dalam kuliah tujuh menit di antara salat Tarawih dan salat Witir, penceramah di masjid itu juga sudah bicara bahwa ibadah puasa memiliki karakteristik yang berbeda dengan ibadah lainnya.

Ibadah salat memerlukan gerakan dan bacaan yang bisa dilihat oleh orang lain. Ibadah zakat memerlukan gerakan untuk menyerahkan kepada pihak-pihak yang berhak menerima. "Ibadah haji juga bisa dilihat gerakannya oleh orang lain. Sedangkan Ibadah puasa, merupakan ibadah yang tidak bisa dilihat oleh orang lain," kata sang penceramah pada kultum di malam ketujuh salat Tarawih.

Al-Bukhari juga mengatakan ibadah puasa tidak perlu gerakan khusus yang bisa dijadikan tanda oleh orang lain seperti salat, zakat atau haji. Ibadah puasa adalah ibadah khusus antara seorang hamba dengan Allah SWT. Dengan makna ini, ibadah puasa bisa disebut sebagai ibadah sunyi.

Rasulullah SAW juga telah bersabda, bahwa di bulan Ramadhan setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat.

Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku”.

“Benar katamu itu,” potong imam masjid setelah sekian lama menjadi pendengar setia provokasi cendekiawan di kampungnya itu. Lalu ia mempersilakan sang pemuda ini ke rumahnya. “Kita ngopi dulu di rumah,” ajaknya.

Baca juga: Renungan: Membunuh dengan Lidah, Belajar dari Kodok Budeg

Mereka pun melanjutkan obrolan di rumah imam masjid sembari menikmati kopi dan singkong goreng.

Setelah menyeruput kopinya, imam masjid mulai berganti bicara. Sepertinya ia lari dari provokasi anak muda ini. Ia menceritakan kisah burung hoopoe dan burung hantu. “Ini kisah mistis seorang filsuf masyhur, Syaikh Al-Isyraq,” ujarnya, sembari menyeruput kopinya lagi.

Sang cenderkiawan pun terdiam. “Mungkin antum sudah tahu kisah ini,” lanjut imam masjid, disambut senyum sarjana tersebut.
halaman ke-1
cover top ayah
اِنَّ الۡاِنۡسَانَ خُلِقَ هَلُوۡعًا ۙ‏
Sesungguhnya, manusia diciptakan dengan sifat suka mengeluh.

(QS. Al-Ma'arij:19)
cover bottom ayah
TULIS KOMENTAR ANDA!