Puasa dan Transformasi Hidup (2)
Jum'at, 21 Mei 2021 - 20:57 WIB
loading...
Imam Shamsi Ali, Direktur/Imam Jamaica Muslim Center. Foto/Ist
A
A
A
Ustaz Shamsi Ali
Presiden Nusantara Foundation,
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Manusia dalam menjalani hidupnya di dunia tentu bukan tanpa tujuan. Kehadirannya di atas dunia ini untuk sebuah tujuan mulia yang diterjemahkan dalam segala lini hidupnya. Segala ritual maupun aktifitas hidup lainnya, termasuk membangun dunia ini, bukan tujuan.
Lalu apa tujuan hidup manusia itu? Jawabannya ada pada jawaban dari sebuah Pertanyaan sederhana namun mendasar: Kenapa dan untuk apa saya hidup? Al-Qur'an sesungguhnya telah memberikan jawaban pamungkas dari pertanyaan itu dalam beberapa ayat, di antaranya:
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu." (Adz-Dzariyat: 56)
"Dan tidaklah diperintahkan kepada mereka kecuali untuk menyembah Allah, ikhlas untukNya dalam agama." (Al-Bayyinah: 5)
"Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidupku dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam." (Al-A'am: 164)
Semua ayat-ayat Al-Qur'an di atas menggambarkan tujuan atau visi hidup manusia. Visi atau tujuan hidup inilah yang sesungguhnya dikenal dengan bahasa agama "niat". Suatu hal yang menjadi dasar nilai (value) dari segala aktifitas hidup manusia itu.
Hadis menggambarkan bahwa "semua amalan itu berdasarkan kepada niatnya". Artinya, makna atau nilai sebuah amalan, bahkan warna hidup itu sendiri ditentukan oleh niatnya (tujuan/motivasi).
Sayangnya dalam perjalanan dan perputaran hidupnya manusia pada umumnya menjadi lupa akan hal yang sangat mendasar ini. Dalam menjalani hidupnya manusia kehilangan tujuan (arah) hidup. Mereka menjalani hidup tanpa menyadari untuk apa dan kemana dalam perjalanan hidup itu.
Kehidupan yang tidak memiliki tujuan atau arah yang jelas itulah yang pada akhirnya tidak membawa kemana-mana. Hidup yang bagaikan putaran rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Sehingga manusia yang tidak memiliki arah hidup yang jelas itu akan merasa bosan pada hidupnya. Karena dunai seluruhnya memang membosankan pada akhirnya.
Puasa dan Transformasi Visi Hidup
Di sinilah puasa hadir membawa transformasi visi hidup. Dengan puasa manusia disadarkan kembali bahwa hidup ini bukan sekadar perputaran waktu yang terasa hampa. Bukan juga sekadar mengejar dunia dengan mengakumulasi harta yang berlipat ganda.
Hidup manusia justru bertujuan untuk sesuatu yang lebih mulia dan bermakna. Bahwa manusia dihadirkan di atas bumi ini untuk memastikan dua bentuk "layanan" yang saling terkait. Layanan vertikal dan layanan horizontal. Keduanya merupakan bentuk pengabdian kepada Allah.
Manusia dihadirkan di atas dunia ini untuk tujuan tunggal. Yaitu melakukan pengabdian kepada Pencipta langit dan bumi (li 'ibadatillah). Baik secara vertikal melalui ragam aktifitas ritual keagamaan. Maupun secara horizontal sebagai bentuk implementasi tugas kekhilafahannya.
Presiden Nusantara Foundation,
Imam/Direktur Jamaica Muslim Center
Manusia dalam menjalani hidupnya di dunia tentu bukan tanpa tujuan. Kehadirannya di atas dunia ini untuk sebuah tujuan mulia yang diterjemahkan dalam segala lini hidupnya. Segala ritual maupun aktifitas hidup lainnya, termasuk membangun dunia ini, bukan tujuan.
Lalu apa tujuan hidup manusia itu? Jawabannya ada pada jawaban dari sebuah Pertanyaan sederhana namun mendasar: Kenapa dan untuk apa saya hidup? Al-Qur'an sesungguhnya telah memberikan jawaban pamungkas dari pertanyaan itu dalam beberapa ayat, di antaranya:
"Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepadaKu." (Adz-Dzariyat: 56)
"Dan tidaklah diperintahkan kepada mereka kecuali untuk menyembah Allah, ikhlas untukNya dalam agama." (Al-Bayyinah: 5)
"Sesungguhnya sholatku, pengorbananku, hidupku dan matiku untuk Allah Tuhan semesta alam." (Al-A'am: 164)
Semua ayat-ayat Al-Qur'an di atas menggambarkan tujuan atau visi hidup manusia. Visi atau tujuan hidup inilah yang sesungguhnya dikenal dengan bahasa agama "niat". Suatu hal yang menjadi dasar nilai (value) dari segala aktifitas hidup manusia itu.
Hadis menggambarkan bahwa "semua amalan itu berdasarkan kepada niatnya". Artinya, makna atau nilai sebuah amalan, bahkan warna hidup itu sendiri ditentukan oleh niatnya (tujuan/motivasi).
Sayangnya dalam perjalanan dan perputaran hidupnya manusia pada umumnya menjadi lupa akan hal yang sangat mendasar ini. Dalam menjalani hidupnya manusia kehilangan tujuan (arah) hidup. Mereka menjalani hidup tanpa menyadari untuk apa dan kemana dalam perjalanan hidup itu.
Kehidupan yang tidak memiliki tujuan atau arah yang jelas itulah yang pada akhirnya tidak membawa kemana-mana. Hidup yang bagaikan putaran rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Sehingga manusia yang tidak memiliki arah hidup yang jelas itu akan merasa bosan pada hidupnya. Karena dunai seluruhnya memang membosankan pada akhirnya.
Puasa dan Transformasi Visi Hidup
Di sinilah puasa hadir membawa transformasi visi hidup. Dengan puasa manusia disadarkan kembali bahwa hidup ini bukan sekadar perputaran waktu yang terasa hampa. Bukan juga sekadar mengejar dunia dengan mengakumulasi harta yang berlipat ganda.
Hidup manusia justru bertujuan untuk sesuatu yang lebih mulia dan bermakna. Bahwa manusia dihadirkan di atas bumi ini untuk memastikan dua bentuk "layanan" yang saling terkait. Layanan vertikal dan layanan horizontal. Keduanya merupakan bentuk pengabdian kepada Allah.
Manusia dihadirkan di atas dunia ini untuk tujuan tunggal. Yaitu melakukan pengabdian kepada Pencipta langit dan bumi (li 'ibadatillah). Baik secara vertikal melalui ragam aktifitas ritual keagamaan. Maupun secara horizontal sebagai bentuk implementasi tugas kekhilafahannya.
Lihat Juga :