Mengenali Panggilan Tuhan di Angka 40 (Bagian 2)
Senin, 24 Mei 2021 - 14:02 WIB
loading...
A
A
A
Hal sama sebenarnya tidak jauh berbeda dengan kita sekarang ini. Setiap orang mengalami fase belajar, usia tujuh sampai lulus universitas S1 atau SMU antara 18-23 tahun. Mencari pekerjaan sampai umur 30, dan menikah menjadi keluarga kecil sampai umur 40 tahun. Sejak menikah, pada umumnya, gairah beragama atau Spiritual mulai bersemi, terlebih bila sudah memiliki anak, karena ada tuntutan sebagai role model anak.
Pada usia 40, ilmu medis sudah menyatakan bahwa kadar testoron pria sudah menurun, yang menunjukkan bahwa Allah mulai mencabut keinginan atau syahwat seks. Umumnya, kantung kemih juga sudah tidak cukup menahan air kencing, sehingga banyak di antara kita tiba-tiba terbangun untuk kencing.
Apakah fenomena semata biologis? Bagi saya tidak, sebagai makhluk yang memiliki dua dimensi jasad dan badan, sebetulnya itu adalah sinyal-sinyal dari Allah agar hamba-Nya mulai bersiap siap untuk mati, berganti alam akhirat. Syahwat seks yang menurun selayaknya diganti dengan syahwat yang baik, seperti dilakukan oleh Nabi yaitu bertafakur, dan menyingkir sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.
Bangun malam karena kencing seolah sepele. Namun, bila kita merenungkan itu adalah panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk mendekat, via sholat malam dan zikir. Hadist shahih menyatakan, "Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni."
Tentu ada alasan Nabi Muhammad menginformasikan, tak lain dan tak bukan menyambut hamba-Nya yang bangun dan bersujud kepadanya. Nabi pernah mengatakan, bila saja tidak memberatkan umatnya, shalat malam adalah wajib, mengingat besarnya pahala dan khasiatnya.
Pada usia-usia tersebut, pada umumnya sudah ada tuntutan sosial untuk ikut berpartisipasi di lingkungan terdekat. Misalnya menjadi anggota siskamling, atau sekadar ikut rapat tingkat RT. Apapun bentuknya, hal itu sesuai dengan ajaran Nabi kita bahwa orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Allah menilai kebajikan bukan dari isi besarannya, tapi proporsional untuk setiap hambanya.
Pada akhirnya, angka 40 adalah angka psikologis. Sebagaimana kebiasaan Allah, Dia tidak memaksa, hanya menunjukkan jalan. Tergantung kita, apakah orientasi utama masih pada keduniawian atau mulai bergeser. Ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, tetapi mulai merintis jalan Spiritual ke kampung akhirat, sebagaimana sejak kecil kita bertumbuh dan mengejar karir. Bila tidak, ya bekal yang kita kumpulkan tampaknya kurang kompatibel untuk ongkos perjalanan setelah kematian.
Wallahu A'lam Bisshowab
Baca Juga: Mengenali Panggilan Tuhan di Angka 40 (Bagian 1)
Pada usia 40, ilmu medis sudah menyatakan bahwa kadar testoron pria sudah menurun, yang menunjukkan bahwa Allah mulai mencabut keinginan atau syahwat seks. Umumnya, kantung kemih juga sudah tidak cukup menahan air kencing, sehingga banyak di antara kita tiba-tiba terbangun untuk kencing.
Apakah fenomena semata biologis? Bagi saya tidak, sebagai makhluk yang memiliki dua dimensi jasad dan badan, sebetulnya itu adalah sinyal-sinyal dari Allah agar hamba-Nya mulai bersiap siap untuk mati, berganti alam akhirat. Syahwat seks yang menurun selayaknya diganti dengan syahwat yang baik, seperti dilakukan oleh Nabi yaitu bertafakur, dan menyingkir sejenak dari hiruk pikuk kehidupan.
Bangun malam karena kencing seolah sepele. Namun, bila kita merenungkan itu adalah panggilan Allah kepada hamba-Nya untuk mendekat, via sholat malam dan zikir. Hadist shahih menyatakan, "Tuhan kita yang Maha Agung dan Maha Tinggi turun setiap malam ke langit dunia ketika telah tersisa sepertiga malam terakhir. Ia berfirman: Siapakah yang berdoa kepadaku, maka aku akan mengabulkannya, Siapa yang meminta kepadaku, maka aku akan memberikannya. Siapa yang memohon ampun kepadaku maka akan Aku ampuni."
Tentu ada alasan Nabi Muhammad menginformasikan, tak lain dan tak bukan menyambut hamba-Nya yang bangun dan bersujud kepadanya. Nabi pernah mengatakan, bila saja tidak memberatkan umatnya, shalat malam adalah wajib, mengingat besarnya pahala dan khasiatnya.
Pada usia-usia tersebut, pada umumnya sudah ada tuntutan sosial untuk ikut berpartisipasi di lingkungan terdekat. Misalnya menjadi anggota siskamling, atau sekadar ikut rapat tingkat RT. Apapun bentuknya, hal itu sesuai dengan ajaran Nabi kita bahwa orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain. Allah menilai kebajikan bukan dari isi besarannya, tapi proporsional untuk setiap hambanya.
Pada akhirnya, angka 40 adalah angka psikologis. Sebagaimana kebiasaan Allah, Dia tidak memaksa, hanya menunjukkan jalan. Tergantung kita, apakah orientasi utama masih pada keduniawian atau mulai bergeser. Ini bukan ajakan untuk meninggalkan dunia, tetapi mulai merintis jalan Spiritual ke kampung akhirat, sebagaimana sejak kecil kita bertumbuh dan mengejar karir. Bila tidak, ya bekal yang kita kumpulkan tampaknya kurang kompatibel untuk ongkos perjalanan setelah kematian.
Wallahu A'lam Bisshowab
Baca Juga: Mengenali Panggilan Tuhan di Angka 40 (Bagian 1)
(rhs)
Lihat Juga :