Mengapa Para Sahabat Nabi dan Tabiin Tak Memiliki Karomah?
Selasa, 01 Juni 2021 - 05:00 WIB
loading...
A
A
A
Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya tampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah.
"Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik," tulis Habib Luthfi, sebagaimana dikutip laman Nahdlatul Ulama.
Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.
Wali menurut KH Sholeh Darat As-Samarani (gurunya KH Hasyim Asy’ari) adalah seorang ‘arif billah (mengetahui Allah) sekadar derajat dengan menjalankan secara sungguh-sunggu taat kepada Allah dan menjauhi ma’siyat. Artinya para wali itu menjauhi segala macam kemaksiyatan berbarengan dengan selalu bertaubat kepada Allah. Sebab wali itu belum kategori ma’shumin (terjaga) seperti Nabi. Maka wali belum bisa meninggalkan ma’siyat secara penuh. Itu sebabnya, mereka disebut waliyullah.
Baca juga: Karomah Sumnun yang Ceramahnya Selalu Berisi Cinta Mistis
Keberadaan wali yang sedemikian agung ini mendapatkan keistimewaan dalam hidupnya. Mereka dalam hidupnya selalu mengingat dan menggantungkan diri, dan menyatukannya pada Allah. Hati selalu menghadap dan pasrah dengan takdir Allah saja. Itulah definisi sederhana mengenai wali menurut Mbah Sholeh Darat.
Adapun karomah menurut Mbah Sholeh Darat sesuatu yang nulayani adat (berbeda dari sewajarnya) jika dilihat secara kasat mata. Mereka yang mendapat karomah selalu menunjukkan kepribadian baik dan meniru jejak Rasulullah dengan bekal syariah dan baik secara ideologi serta perilakunya.
Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya tampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut ahlussunnah wal jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.
Empat Mazhab
Lalu, apakah keempat mazhab itu wali yang memiliki karomah Ustaz Ahmad Sarwat, dari Rumah Fiqih, menjelaskan keempat imam mazhab itu bukan tokoh dongeng dunia hayal. "Mereka tidak punya ilmu sakti mandragunanan digjaya, juga tidak punya ilmu ghaib dan kesaktian semacam tokoh dunia pewayangan. Mereka tidak bisa menghilang, atau menunjuk batu menjadi emas, atau melakukan tapa di pinggir sungai," tuturnya.
Sebaliknya, mereka adalah sosok para intelektual, ilmuwan dan insan cerdas secara nalar dan logika. Mereka tidak dikenal kecuali lewat ilmu-ilmu logika yang teramat eksak.
Para imam mazhab, lanjutnya, adalah tokoh besar dan penemu disiplin ilmu, seperti halnya seorang Pithagoras untuk ilmu trigonometri, atau Isaac Newton dalam ilmu fisika, atau Einstain dalam ilmu nuklir.
"Dan bagi pengikut Ahlussunnah wal Jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik," tulis Habib Luthfi, sebagaimana dikutip laman Nahdlatul Ulama.
Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.
Wali menurut KH Sholeh Darat As-Samarani (gurunya KH Hasyim Asy’ari) adalah seorang ‘arif billah (mengetahui Allah) sekadar derajat dengan menjalankan secara sungguh-sunggu taat kepada Allah dan menjauhi ma’siyat. Artinya para wali itu menjauhi segala macam kemaksiyatan berbarengan dengan selalu bertaubat kepada Allah. Sebab wali itu belum kategori ma’shumin (terjaga) seperti Nabi. Maka wali belum bisa meninggalkan ma’siyat secara penuh. Itu sebabnya, mereka disebut waliyullah.
Baca juga: Karomah Sumnun yang Ceramahnya Selalu Berisi Cinta Mistis
Keberadaan wali yang sedemikian agung ini mendapatkan keistimewaan dalam hidupnya. Mereka dalam hidupnya selalu mengingat dan menggantungkan diri, dan menyatukannya pada Allah. Hati selalu menghadap dan pasrah dengan takdir Allah saja. Itulah definisi sederhana mengenai wali menurut Mbah Sholeh Darat.
Adapun karomah menurut Mbah Sholeh Darat sesuatu yang nulayani adat (berbeda dari sewajarnya) jika dilihat secara kasat mata. Mereka yang mendapat karomah selalu menunjukkan kepribadian baik dan meniru jejak Rasulullah dengan bekal syariah dan baik secara ideologi serta perilakunya.
Karomah yang dimiliki oleh wali itu tidak hanya tampak ketika hidup saja. Tetapi setelah wafat, waliyullah masih diberi karomah. Dan bagi pengikut ahlussunnah wal jama’ah, kepercayaan terhadap adanya waliyullah dan karomah itu perlu diyakini secara baik. Bahkan empat imam madzhab sudah bersepakat mengenai karomah yang ada para wali ketika hidup maupun sudah wafat.
Empat Mazhab
Lalu, apakah keempat mazhab itu wali yang memiliki karomah Ustaz Ahmad Sarwat, dari Rumah Fiqih, menjelaskan keempat imam mazhab itu bukan tokoh dongeng dunia hayal. "Mereka tidak punya ilmu sakti mandragunanan digjaya, juga tidak punya ilmu ghaib dan kesaktian semacam tokoh dunia pewayangan. Mereka tidak bisa menghilang, atau menunjuk batu menjadi emas, atau melakukan tapa di pinggir sungai," tuturnya.
Sebaliknya, mereka adalah sosok para intelektual, ilmuwan dan insan cerdas secara nalar dan logika. Mereka tidak dikenal kecuali lewat ilmu-ilmu logika yang teramat eksak.
Para imam mazhab, lanjutnya, adalah tokoh besar dan penemu disiplin ilmu, seperti halnya seorang Pithagoras untuk ilmu trigonometri, atau Isaac Newton dalam ilmu fisika, atau Einstain dalam ilmu nuklir.
Lihat Juga :