Syaikh Al-Utsaimin: Mencela Ulama Bermakna Mencela Pewaris Nabi
Minggu, 13 Juni 2021 - 13:57 WIB
loading...
Syaikh Muhammad al-Utsaimin. (Foto/Ist)
A
A
A
Syaikh Muhammad al-Utsaimin ,Ulama era kontemporer yang ahli dalam sains fiqh, dalam tulisannya berjudul "Hukum Menghina Ulama" menyatakan ghibah dan mencela sesama muslim adalah perbuatan yang diharamkan.
Seorang muslim tidak boleh mengumpat (ghibah, menggunjing) saudaranya sesama muslim sekalipun ia bukan seorang yang alim, "maka bagaimana mungkin dibolehkan baginya mengumpat saudaranya sesama ulama dari golongan orang-orang yang beriman?" tuturnya.
Baca juga: Ulama Pakistan Ditangkap setelah Ancam Bunuh Aktivis Malala Yousafzai
Orang yang beriman wajib menahan lisannya dari ghibah terhadap saudara-saudaranya sesama muslim.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al-Hujurat/49:12]
"Hendaklah orang yang melakukan hal ini mengetahui bahwa apabila ia mentajrih (mencela) seorang ulama maka ia menjadi penyebab ditolaknya kebenaran yang dikatakan oleh ulama ini," ujar Syaikh Muhammad al-Utsaimin.
Maka tanggung jawab dan dosanya adalah terhadap orang yang mencela ini, karena mencela seorang ulama pada kenyataannya bukanlah mentajrih (mencela) pribadinya, bahkan mencela pewaris Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: Ibn Hazm: Buku Karyanya Dibakar karena Berbeda dengan Ulama Lain
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Apabila ia mentajrih ulama dan mencela mereka niscaya manusia tidak percaya dengan ilmu yang ada di sisi mereka dan ilmu tersebut diwarisi dari Rasulullah SAW," jelasnya. "Dan pada saat itu mereka tidak percaya dengan syari’at yang dibawa oleh ulama yang ditajrih ini."
"Saya tidak mengatakan bahwa setiap ulama adalah ma’shum," lanjut Syaikh Muhammad al-Utsaimin, bahkan setiap manusia bisa melakukan kesalahan.
Seorang muslim tidak boleh mengumpat (ghibah, menggunjing) saudaranya sesama muslim sekalipun ia bukan seorang yang alim, "maka bagaimana mungkin dibolehkan baginya mengumpat saudaranya sesama ulama dari golongan orang-orang yang beriman?" tuturnya.
Baca juga: Ulama Pakistan Ditangkap setelah Ancam Bunuh Aktivis Malala Yousafzai
Orang yang beriman wajib menahan lisannya dari ghibah terhadap saudara-saudaranya sesama muslim.
Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗاِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebahagian kamu menggunjing sebahagian yaang lain.
Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati. Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertaqwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. [al-Hujurat/49:12]
"Hendaklah orang yang melakukan hal ini mengetahui bahwa apabila ia mentajrih (mencela) seorang ulama maka ia menjadi penyebab ditolaknya kebenaran yang dikatakan oleh ulama ini," ujar Syaikh Muhammad al-Utsaimin.
Maka tanggung jawab dan dosanya adalah terhadap orang yang mencela ini, karena mencela seorang ulama pada kenyataannya bukanlah mentajrih (mencela) pribadinya, bahkan mencela pewaris Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Baca juga: Ibn Hazm: Buku Karyanya Dibakar karena Berbeda dengan Ulama Lain
"Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Apabila ia mentajrih ulama dan mencela mereka niscaya manusia tidak percaya dengan ilmu yang ada di sisi mereka dan ilmu tersebut diwarisi dari Rasulullah SAW," jelasnya. "Dan pada saat itu mereka tidak percaya dengan syari’at yang dibawa oleh ulama yang ditajrih ini."
"Saya tidak mengatakan bahwa setiap ulama adalah ma’shum," lanjut Syaikh Muhammad al-Utsaimin, bahkan setiap manusia bisa melakukan kesalahan.
Lihat Juga :