Dahsyatnya Al-Qur'an (2): Satu Sumber Qadim, Beda Medium
Jum'at, 09 Juli 2021 - 15:22 WIB
loading...
A
A
A
Sementara masih ada perbedaan mengenai jumlah surga, antara tujuh dan delapan, yang menurut saya tidak perlu dipersoalkan sebab ada hadist shahih yang jelas mengatakan bahwa Arsy’ atau singgasana Allah itu ada di surga teratas, atau Firdaus, sehingga dapat dipahami tujuh yang tersisa adalah buat manusia. Gambaran lumayan jelas mengenai lapis-lapis, bumi, langit, surga dan neraka dapat ditemukan pada suhuf Nabi Idris, sebab dialah nabi yang diundang langsung oleh Allah SWT untuk menyaksikan semua hal tersebut, dan beliau adalah nabi yang pertama-tama di ajari menulis.
Menurut saya, maknanya adalah bahwa ada tujuh tingkat makna dalam setiap ayat yang disesuaikan dengan kemampuan maqam-maqam atau kesadaran ilahiah (kualitas ketaqwaan) setiap mukmin yang disimbolkan dengan hidup di alam masing-masing di tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan juga balasan yang akan diterimanya kelak.
Simpulan ini sesuai dengan hadist yang menyebutkan bahwa penafsiran setiap ayat itu bisa saja berbeda-beda antara setiap mufassir, atau pembacanya dan itu tidak perlu dipermasalahkan. Batasannya adalah jangan sampai makna ayat batil menjadi ayat hal dan sebaliknya. Ruang penafsiran, sekali lagi sangat berbeda, karena bahkan sejak awal diterima Nabi saja, ada ruang penafsiran oleh beliau kendati kita harus yakin bahwa pemaknaan beliau tidak akan salah, mengingat ada Jibril yang senantiasa mendampingi setiap turunnya wahyu.
(Bersambung)!
Baca Juga: Dahsyatnya Kandungan Al-Qur'an, Tak Ada Kitab yang Bisa Menandinginya (1)
Menurut saya, maknanya adalah bahwa ada tujuh tingkat makna dalam setiap ayat yang disesuaikan dengan kemampuan maqam-maqam atau kesadaran ilahiah (kualitas ketaqwaan) setiap mukmin yang disimbolkan dengan hidup di alam masing-masing di tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, dan juga balasan yang akan diterimanya kelak.
Simpulan ini sesuai dengan hadist yang menyebutkan bahwa penafsiran setiap ayat itu bisa saja berbeda-beda antara setiap mufassir, atau pembacanya dan itu tidak perlu dipermasalahkan. Batasannya adalah jangan sampai makna ayat batil menjadi ayat hal dan sebaliknya. Ruang penafsiran, sekali lagi sangat berbeda, karena bahkan sejak awal diterima Nabi saja, ada ruang penafsiran oleh beliau kendati kita harus yakin bahwa pemaknaan beliau tidak akan salah, mengingat ada Jibril yang senantiasa mendampingi setiap turunnya wahyu.
(Bersambung)!
Baca Juga: Dahsyatnya Kandungan Al-Qur'an, Tak Ada Kitab yang Bisa Menandinginya (1)
(rhs)
Lihat Juga :