Untaian Kalimat Umar bin Khattab yang Meningkatkan Wibawa dan Hikmah
Senin, 12 Juli 2021 - 18:20 WIB
loading...
A
A
A
Baca juga: Nasehat Abu al-Aliyah kepada Santrinya dalam Belajar Al-Quran
Ahnaf bin Qais termasuk salah satu tokoh yang lapang dada di Arab, sehingga sifat penyabarnya dibuat sebagai permisalan. Suatu ketika Amru bin Ahtam pernah memperalat seseorang untuk mencaci maki Ahnaf dengan kata-kata yang menyakitkan, tetapi yang dicaci hanya terdiam dan menundukkan kepala. Melihat yang dicaci tidak menggubrisnya, orang itu gigit jari serta bergumam, “Celakalah aku! Demi Allah dia tak mau mempedulikan karena aku dipandang rendah olehnya!”
Ketika hampir mencapai wilayah kaumnya, dia menoleh kepada orang tadi lalu berkata, “Wahai putra saudaraku, bila di hatimu masih tersimpan ganjalan-ganjalan terhadapku, silakan dilontarkan di sini semuanya, sebab bila ada di antara kaumku yang mendengar makianmu, niscaya mereka akan menghajarmu.”
Sesudah wafatnya Rasulullah SAW , muncul nabi palsu, Musailamah al-Kadzab, yang menyesatkan orang lain dengan kedurhakaannya. Sehingga banyak orang yang murtad karenanya. Bersama pamannya Mutasyamas, Ahnaf bin Qais datang untuk mencari kejelasan tentang hal itu. Ketika itu Ahnaf sedang menginjak usia remaja.
Saat perjalanan pulang, sang paman bertanya kepada Ahnaf, “Bagaimana pendapatmu tentang orang tadi?”
Ahnaf berkata, “Kulihat dia adalah pembohong besar kepada Allah dan manusia.”
Pamannya berkata sambil bergurau, “Engkau tidak takut jika aku laporkan kepadanya?”
Ahnaf berkata, “Kalau begitu aku nanti akan bersumpah kepada paman di hadapannya, maka apakah Anda berani bersumpah bahwa Anda tidak mendustakannya sebagaimana diriku?”
Baca juga: Khalid bin Walid dan Terbunuhnya Nabi Palsu Musailamah di Kebun Maut
Mereka berdua tertawa dan tetap dalam keislamannya.
Buku Mereka adalah Para Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, (2009) menyatakan mungkin Anda heran dan takjub akan ketegasan Ahnaf dalam menyikapi perkara-perkara yang besar, kendati dia masih berusia muda.
Ahnaf bin Qais termasuk salah satu tokoh yang lapang dada di Arab, sehingga sifat penyabarnya dibuat sebagai permisalan. Suatu ketika Amru bin Ahtam pernah memperalat seseorang untuk mencaci maki Ahnaf dengan kata-kata yang menyakitkan, tetapi yang dicaci hanya terdiam dan menundukkan kepala. Melihat yang dicaci tidak menggubrisnya, orang itu gigit jari serta bergumam, “Celakalah aku! Demi Allah dia tak mau mempedulikan karena aku dipandang rendah olehnya!”
Ketika hampir mencapai wilayah kaumnya, dia menoleh kepada orang tadi lalu berkata, “Wahai putra saudaraku, bila di hatimu masih tersimpan ganjalan-ganjalan terhadapku, silakan dilontarkan di sini semuanya, sebab bila ada di antara kaumku yang mendengar makianmu, niscaya mereka akan menghajarmu.”
Sesudah wafatnya Rasulullah SAW , muncul nabi palsu, Musailamah al-Kadzab, yang menyesatkan orang lain dengan kedurhakaannya. Sehingga banyak orang yang murtad karenanya. Bersama pamannya Mutasyamas, Ahnaf bin Qais datang untuk mencari kejelasan tentang hal itu. Ketika itu Ahnaf sedang menginjak usia remaja.
Saat perjalanan pulang, sang paman bertanya kepada Ahnaf, “Bagaimana pendapatmu tentang orang tadi?”
Ahnaf berkata, “Kulihat dia adalah pembohong besar kepada Allah dan manusia.”
Pamannya berkata sambil bergurau, “Engkau tidak takut jika aku laporkan kepadanya?”
Ahnaf berkata, “Kalau begitu aku nanti akan bersumpah kepada paman di hadapannya, maka apakah Anda berani bersumpah bahwa Anda tidak mendustakannya sebagaimana diriku?”
Baca juga: Khalid bin Walid dan Terbunuhnya Nabi Palsu Musailamah di Kebun Maut
Mereka berdua tertawa dan tetap dalam keislamannya.
Buku Mereka adalah Para Tabi’in karya Dr. Abdurrahman Ra’at Basya, At-Tibyan, (2009) menyatakan mungkin Anda heran dan takjub akan ketegasan Ahnaf dalam menyikapi perkara-perkara yang besar, kendati dia masih berusia muda.
Lihat Juga :