Kisah Bijak Para Sufi: Kisah Pasir
Rabu, 03 Juni 2020 - 06:24 WIB
loading...
Dan itulah sebabnya dikatakan bahwa jalan yang ditempuh oleh Sungai Kehidupan dalam pengembaraannya terpatri di atas pasir. Foto/Ilustrasi/Ist
A
A
A
SEBUAH sungai, dari sumbernya di pegunungan yang nun jauh di sana, mengalir melewati berbagai pelosok negeri hingga akhirnya sampai di gurun pasir. Sama seperti ketika ia menyeberangi setiap rintangan sebelumnya, ia mencoba yang satu ini, namun sia-sia sebab secepat ia berlari menuju pasir, secepat itu pula airnya lenyap.
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Sungai itu yakin bahwa sudah takdir baginya untuk melintasi gurun itu, tetapi sejauh ini usahanya gagal. Lalu, terdengarlah suara teredam berbisik, datangnya dari arah gurun: "Angin bisa menyeberangi gurun, sungai pun bisa."
Sungai tidak sepakat, sebab keluhnya: meski dengan cepat ia menyeberangi pasir, ia mendapati dirinya hanya terserap; angin bisa terbang melintas, itu sebabnya angin bisa menyeberang.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
"Dengan caramu menyeberang selama ini engkau takkan bisa melewati gurun. Kalau tidak lenyap, paling-paling engkau akan jadi rawa-rawa. Biarkan angin membawamu menyeberang, menuju sasaranmu."
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Tetapi bagaimana hal itu mungkin terjadi? "Dengan memasrahkan dirimu menguap bersama angin."
Sungai itu menolak gagasan itu. Bagaimanapun, sebelumnya ia belum pernah terserap oleh angin. Ia tak mau kehilangan dirinya. Lagipula, sekali dirinya hilang, siapa yang bisa memastikan ia akan memperolehnya kembali?
"Angin," kata pasir itu, "memerankan fungsi semacam itu. Ia mengangkat air, membawanya melintasi gurun, dan lalu menjatuhkannya kembali. Jatuh sebagai hujan, air itu pun akan menjadi sungai."
"Bagaimana saya bisa percaya bahwa perkataanmu benar adanya?"
Baca juga: Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Pandai Bicara
"Begitulah kebenarannya, dan jika engkau tidak percaya, toh engkau tetap akan jadi rawa-rawa yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun; tentu saja saat itu engkau tidak menjadi sebuah sungai."
Baca juga: Ketika Nasruddin Hoja Tidak Konsisten Lagi
Sungai itu yakin bahwa sudah takdir baginya untuk melintasi gurun itu, tetapi sejauh ini usahanya gagal. Lalu, terdengarlah suara teredam berbisik, datangnya dari arah gurun: "Angin bisa menyeberangi gurun, sungai pun bisa."
Sungai tidak sepakat, sebab keluhnya: meski dengan cepat ia menyeberangi pasir, ia mendapati dirinya hanya terserap; angin bisa terbang melintas, itu sebabnya angin bisa menyeberang.
Baca juga: Kisah Bijak Para Sufi: Tuan Rumah dan Tamu
"Dengan caramu menyeberang selama ini engkau takkan bisa melewati gurun. Kalau tidak lenyap, paling-paling engkau akan jadi rawa-rawa. Biarkan angin membawamu menyeberang, menuju sasaranmu."
Baca juga: Baginda Sultan dan Para Menteri Bertelur, Abu Nawas Berkokok
Tetapi bagaimana hal itu mungkin terjadi? "Dengan memasrahkan dirimu menguap bersama angin."
Sungai itu menolak gagasan itu. Bagaimanapun, sebelumnya ia belum pernah terserap oleh angin. Ia tak mau kehilangan dirinya. Lagipula, sekali dirinya hilang, siapa yang bisa memastikan ia akan memperolehnya kembali?
"Angin," kata pasir itu, "memerankan fungsi semacam itu. Ia mengangkat air, membawanya melintasi gurun, dan lalu menjatuhkannya kembali. Jatuh sebagai hujan, air itu pun akan menjadi sungai."
"Bagaimana saya bisa percaya bahwa perkataanmu benar adanya?"
Baca juga: Abu Nawas dan Enam Ekor Lembu Berjenggot yang Pandai Bicara
"Begitulah kebenarannya, dan jika engkau tidak percaya, toh engkau tetap akan jadi rawa-rawa yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun; tentu saja saat itu engkau tidak menjadi sebuah sungai."
Lihat Juga :