Pertikaian dan Perang Saudara Biang Keruntuhan Dinasti Saud II
Kamis, 25 November 2021 - 10:53 WIB
loading...
A
A
A
Saud sempat memerintah selama 4 tahun dan meninggal pada 1875. Pada tahun 1888 M/1306 H pecah perang lagi di antara cucu-cucu Saud bin Faishal dengan paman mereka Abdullah bin Faishal. Di lain pihak juga Abdullah dengan adiknya Abdurrahman bin Faishal.
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (3): Tragedi Runtuhnya Dinasti Saud I
Klan Rashid
Di tengah pertikaian itu, muncul bintang baru dalam peta politik kawasan, Muḥammad ibn’Abd Allāh al-Rashīd. Klan Rashid, pada mulanya merupakan agen keluarga Saud. Oleh dinasti Saud mereka diperintahkan untuk membawahi wilayah Ha’il pada tahun 1836.
Seiring berjalannya waktu, di tengah gejolak kawasan yang tidak menentu dan instabilitas politik yang terjadi di dalam tubuh keluarga Saud, mereka justru berkembang menjadi kekuatan yang mandiri.
Secara intensif mereka menjalin hubungan yang baik dengan Ottoman, dan mendapat perlindungan serta kepercayaan dari mereka.
Pada saat Faisal bin Turki wafat, klan Rashid justru naik pamornya dan menjadi salah satu kekuatan yang disegani di kawasan.
Pada saat Abdullah mengalami konflik dengan adiknya, Saud, ia memohon bantuan pada Ottoman, yang kemudian mengutus Muhammad ibn Rashid untuk memenuhi permohonan Abdullah.
Awalnya, Muhammad ibn Rashid berusaha menjaga jarak dari konflik internal keluarga Saud. Namun sejak diperintahkan oleh Ottoman, dan atas permohonan Abdullah, maka ia memutuskan untuk masuk dalam konflik keluarga tersebut.
Tapi sejarah kemudian menuliskan, bahwa Muhammad ibn Rashid justru berbalik mengkhianati kepercayaan ini.
Setelah berhasil menundukkan kekuatan dinasti Saud, ia kemudian menguasai Riyadh dan menyandera Abdullah di Ha’il, serta memaksanya tunduk pada klan Rashid.
Di sisi lain, Muhammad ibn Rashid juga menyatakan merdeka dari kekuasaan Ottoman. Atas kondisi ini, Abdullah akhirnya menyetujui keinginan Muhammad ibn Rashid dan menjadi gubernur dinasti Rashid di Riyadh pada 1889.
Pada tahun yang sama Abdullah wafat dengan membawa segudang kekecewaan dan jejak kekalahan.
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (2): Penakluk Dinasti Saud sampai Ottoman
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (3): Tragedi Runtuhnya Dinasti Saud I
Klan Rashid
Di tengah pertikaian itu, muncul bintang baru dalam peta politik kawasan, Muḥammad ibn’Abd Allāh al-Rashīd. Klan Rashid, pada mulanya merupakan agen keluarga Saud. Oleh dinasti Saud mereka diperintahkan untuk membawahi wilayah Ha’il pada tahun 1836.
Seiring berjalannya waktu, di tengah gejolak kawasan yang tidak menentu dan instabilitas politik yang terjadi di dalam tubuh keluarga Saud, mereka justru berkembang menjadi kekuatan yang mandiri.
Secara intensif mereka menjalin hubungan yang baik dengan Ottoman, dan mendapat perlindungan serta kepercayaan dari mereka.
Pada saat Faisal bin Turki wafat, klan Rashid justru naik pamornya dan menjadi salah satu kekuatan yang disegani di kawasan.
Pada saat Abdullah mengalami konflik dengan adiknya, Saud, ia memohon bantuan pada Ottoman, yang kemudian mengutus Muhammad ibn Rashid untuk memenuhi permohonan Abdullah.
Awalnya, Muhammad ibn Rashid berusaha menjaga jarak dari konflik internal keluarga Saud. Namun sejak diperintahkan oleh Ottoman, dan atas permohonan Abdullah, maka ia memutuskan untuk masuk dalam konflik keluarga tersebut.
Tapi sejarah kemudian menuliskan, bahwa Muhammad ibn Rashid justru berbalik mengkhianati kepercayaan ini.
Setelah berhasil menundukkan kekuatan dinasti Saud, ia kemudian menguasai Riyadh dan menyandera Abdullah di Ha’il, serta memaksanya tunduk pada klan Rashid.
Di sisi lain, Muhammad ibn Rashid juga menyatakan merdeka dari kekuasaan Ottoman. Atas kondisi ini, Abdullah akhirnya menyetujui keinginan Muhammad ibn Rashid dan menjadi gubernur dinasti Rashid di Riyadh pada 1889.
Pada tahun yang sama Abdullah wafat dengan membawa segudang kekecewaan dan jejak kekalahan.
Baca juga: Muhammad Ali Pasha (2): Penakluk Dinasti Saud sampai Ottoman
Lihat Juga :