Tiga Syuhada dalam Perang Yarmuk: Mementingkan Orang Lain saat Sakaratul Maut

loading...
Tiga Syuhada dalam Perang Yarmuk: Mementingkan Orang Lain saat Sakaratul Maut
Tiga orang prajurit muslim mendekati ajal karena luka yang dideritanya. Masing-masing mereka mendahulukan yang lain saat mereka ditawari minum. (Foto/Ilustrasi : Ist)
Kisah ini terjadi pada saat perang Yarmuk, yakni perang antara kaum muslimin dan Kekaisaran Romawi Timur pada tahun 636. Tiga orang prajurit muslim mendekati ajal karena luka yang dideritanya. Masing-masing mereka mendahulukan yang lain saat mereka ditawari minum. “Hebat sekali kalian,” ucap Panglima Perang, Khalid bin Walid .

Perang Yarmuk oleh kalangan sejarawan, dipertimbangkan sebagai salah satu pertempuran penting dalam sejarah dunia, karena dia menandakan gelombang besar pertama penaklukan Muslim di luar Arab, dan cepat masuknya Islam ke Palestina, Suriah, dan Mesopotamia yang rakyatnya menganut agama Kristen.

Baca juga: Kisah Kecerdasan Ahnaf bin Qais dalam Pembebasan Persia

Imam Ibnul Jauzi dalam buku "Uyun Al-Hikayat Min Qashash Ash-Shalihin wa Nawodir Az-Zahidin" mengangkat kisah tiga syuhada itu berdasarkan sejumlah riwayat.

Ibnu Asbath atau lainnya meriwayatkan bahwa Abu Jahm bin Hudzaifah berkata: Saya pergi saat peristiwa perang Yarmuk, mencari sepupuku. Saat itu saya membawa perbekalan air minum dan tempat makan.

Kemudian saya berkata, “Jika dia masih bernafas, saya akan berikan dia minum ini, dan saya cuci mukanya dengan air. Dan ketika saya sampai ke tempatnya, saya pun bertanya kepadanya, “Maukah engkau saya beri minum?”

Dia pun memberikan isyarat persetujuannya. Namun belum lagi saya berikan dia minum, tiba-tiba terdengar suara seseorang yang merintih. Maka sepupuku meminta agar saya pergi memberikan minum orang itu terlebih dahulu.

Ternyata dia adalah Hisyam bin Ash, saudara Amr bin Ash. Saya pun mendatanginya. Dan saya bertanya kepadanya, “Maukah engkau saya beri minum?” Namun belum lagi dia menjawab, tiba-tiba terdengar rintihan seseorang.

Hisyam memberi isyarat agar saya pergi mendatangi orang itu terlebih dahulu. Saya pun mendatanginya. Namun dia sudah meninggal.

Saya pun kembali ke tempat Hisyam, namun ternyata Hisyam pun sudah meninggal. Dan berikutnya saya mendatangi tempat sepupuku. Namun dia juga sudah meninggal.“

Diriwayatkan dari Al-Waqidi dan Ibnul Arabi, keduanya berkata, Ikrimah bin Abi Jahal diberikan air, maka dia pun melihat ke arah Sahal bin Amr dan memberi isyarat ke arahnya, dan berkata, “Mulai dengan orang ini.”

Namun dia melihat ke arah Suhail bin Amr dan memandangnya, dan berkata, “Mulailah dengan orang ini.”

Selanjutnya Sahal memandang Harits bin Hisyam, dan berkata, “Mulailah dengan orang ini” Maka semuanya kemudian meninggal dunia sebelum sempat meminum air. Khalid bin Walid kemudian lewat ke arah mereka dan berkata, “Hebat sekali kalian.”

Baca juga: Pendekar Pincang Itu Syahid Bersama Putranya dalam Perang Uhud

Perang Yarmuk
Pertempuran ini merupakan salah satu kemenangan Khalid bin Walid yang paling gemilang, dan memperkuat reputasinya sebagai salah satu komandan militer dan kavaleri paling brilian di zaman Pertengahan. Pertempuran ini terjadi pada masa pemerintahan Umar bin Khattab, khalifah Rasyidin kedua.

Pada 633 M pasukan Muslim menyerang Suriah, dan setelah berbagai penghadangan dan pertempuran kecil berhasil merebut Damaskus pada 635 M.

Kaisar Romawi Timur, Heraclius mengatur sebuah pasukan sekitar 40.000 orang setelah mengetahui lepasnya Damaskus dan Emesa. Pergerakan pasukan Romawi Timur yang besar ini, menyebabkan Kaum Muslimin di bawah Khalid ibn Walid meninggalkan kota-kota, dan mundur ke selatan menuju Sungai Yarmuk, sebuah penyumbang Sungai Yordan.

Sebagian pasukan Romawi Timur di bawah Theodore Sacellarius dikalahkan di luar Emesa. Muslim di bawah Khalid ibn Walid bertemu komandan Romawi Timur lainnya, Baänes di lembah Sungai Yarmuk pada akhir Juli.

Datanglah pertolongan Allah kepada tentara Islam dengan berhembusnya angin selatan yang kuat meniup awan debu ke wajah prajurit Romawi Timur, kejadian ini sama persis seperti yang terjadi pada pasukan persia dalam pertempuran Qadisiyyah.

Prajurit menjadi lesu di bawah panas matahari Agustus. Meskipun begitu Khalid terdorong mundur, namun meskipun jumlah pasukannya hanya setengah prajurit Romawi Timur, mereka lebih bersatu daripada pasukan multinasional Tentara Kekaisaran yang terdiri dari orang Armenia, Slavia, Ghassanid dan juga pasukan Romawi Timur biasa.

Prajurit Baänes berhasil dipukul mundur hingga ke sebuah jurang terjal. Sebagai hasilnya, seluruh Suriah terbuka bagi Kaum Muslimin. Damaskus direbut kembali oleh Kaum Muslimin dalam waktu sebulan, dan Yerusalem jatuh tidak lama kemudian.

Baca juga: Kisah Perempuan di Perang Uhud yang Mengkhawatirkan Rasulullah
(mhy)
preload video