Kontroversi Nabi Zulkifli dan Perempuan Seharga 60 Dirham
Sabtu, 01 Januari 2022 - 14:48 WIB
loading...
A
A
A
“Sesungguhnya Kami telah menyucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi, yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan, sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik.” ( QS Shaad : 46-47)
Jadi, kemungkinan yang ada pada hadits tersebut adalah laki-laki lain yang namanya adalah al-Kifli, sebab di dalam hadits tersebut tidak dikatakan sebagai Zulkifli.
Baca juga: Kisah Dua Putri Nabi Luth yang Selamat dari Azab dan Koreksi terhadap Taurat
Berlipat Ganda
Al-Kifl maknanya adalah berlipat ganda. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah yang memiliki bagian. Dzul Kifli adalah seorang yang memberikan keputusan dengan lurus dan memutuskan perkara kepada manusia dengan adil. Oleh karena itu, dia dinamakan Zulkifli.
Sebagian referensi mengatakan bahwa Allah menamakannya seperti itu karena dia menanggung perkara dan mampu menyelesaikannya.
Ada pula yang mengatakan bahwa makna al-Kifl adalah pelipatgandaan balasan dan pahala.
Allah SWT berfirman,
“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS Shaad: 48)
Dalam Tafsir Jalalain Bab Tafsir Surah al-Anbiyaa disebutkan bahwa Zulkifli dinamakan seperti itu karena dia menanggung untuk berpuasa setiap hari dan menunaikan ibadah sholat di malam hari.
Selain itu, dia juga memberi keputusan kepada manusia dengan adil dan tidak pernah marah. Dengan demikian, ia telah memenuhi apa yang menjadi tanggungannya. Ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Zulkifli karena dia menanggung seratus orang nabi yang lari karena akan dibunuh. (Tafsir Surah Shaad)
Baca juga: Tobat Nabi Daud, Metafor dan Sindiran Berdasar Kisah Israiliyat?
Para ulama selalu menghubungkan antara Nabi Zulkifli dan Nabi Alyasa', sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim bahwa ketika Nabi Alyasa' sudah mulai besar, dia berkata, “Dapatkah aku menggantikan tugasku kepada seorang laki-laki mumpung aku masih hidup, supaya aku bisa melihat apa yang akan dilakukannya?”
Lalu orang-orang pun berkumpul. Alyasa' kemudian berkata, “Barangsiapa yang menerima tiga hal dariku, maka aku akan melimpahkan tugasku kepadanya. Yaitu berpuasa di siang hari, menunaikan ibadah sholat di malam hari, dan tidak pernah marah.” Ternyata yang menyanggupinya adalah Zulkifli.
Banyak sekali ulama yang meriwayatkan seperti ini sehingga kesahihan riwayat ini mendekati hadits hasan.
Jadi, kemungkinan yang ada pada hadits tersebut adalah laki-laki lain yang namanya adalah al-Kifli, sebab di dalam hadits tersebut tidak dikatakan sebagai Zulkifli.
Baca juga: Kisah Dua Putri Nabi Luth yang Selamat dari Azab dan Koreksi terhadap Taurat
Berlipat Ganda
Al-Kifl maknanya adalah berlipat ganda. Ada juga yang mengatakan bahwa maknanya adalah yang memiliki bagian. Dzul Kifli adalah seorang yang memberikan keputusan dengan lurus dan memutuskan perkara kepada manusia dengan adil. Oleh karena itu, dia dinamakan Zulkifli.
Sebagian referensi mengatakan bahwa Allah menamakannya seperti itu karena dia menanggung perkara dan mampu menyelesaikannya.
Ada pula yang mengatakan bahwa makna al-Kifl adalah pelipatgandaan balasan dan pahala.
Allah SWT berfirman,
وَاذْكُرْ إِسْمَاعِيلَ وَالْيَسَعَ وَذَا الْكِفْلِ ۖ وَكُلٌّ مِنَ الْأَخْيَارِ
“Dan ingatlah akan Ismail, Ilyasa' dan Zulkifli. Semuanya termasuk orang-orang yang paling baik.” (QS Shaad: 48)
Dalam Tafsir Jalalain Bab Tafsir Surah al-Anbiyaa disebutkan bahwa Zulkifli dinamakan seperti itu karena dia menanggung untuk berpuasa setiap hari dan menunaikan ibadah sholat di malam hari.
Selain itu, dia juga memberi keputusan kepada manusia dengan adil dan tidak pernah marah. Dengan demikian, ia telah memenuhi apa yang menjadi tanggungannya. Ada pula yang mengatakan bahwa dinamakan Zulkifli karena dia menanggung seratus orang nabi yang lari karena akan dibunuh. (Tafsir Surah Shaad)
Baca juga: Tobat Nabi Daud, Metafor dan Sindiran Berdasar Kisah Israiliyat?
Para ulama selalu menghubungkan antara Nabi Zulkifli dan Nabi Alyasa', sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim bahwa ketika Nabi Alyasa' sudah mulai besar, dia berkata, “Dapatkah aku menggantikan tugasku kepada seorang laki-laki mumpung aku masih hidup, supaya aku bisa melihat apa yang akan dilakukannya?”
Lalu orang-orang pun berkumpul. Alyasa' kemudian berkata, “Barangsiapa yang menerima tiga hal dariku, maka aku akan melimpahkan tugasku kepadanya. Yaitu berpuasa di siang hari, menunaikan ibadah sholat di malam hari, dan tidak pernah marah.” Ternyata yang menyanggupinya adalah Zulkifli.
Banyak sekali ulama yang meriwayatkan seperti ini sehingga kesahihan riwayat ini mendekati hadits hasan.
Lihat Juga :