Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat
Minggu, 02 Januari 2022 - 07:07 WIB
loading...
A
A
A
Ketika para pengawalnya meninggal, tinggallah Dhat sendirian, namun tak lama kemudian ia bertemu dengan seorang lain yang mempunyai tujuan sama dengannya, dan mereka berdua pun bersama-sama mempertahankan ingatan tentang asal-usul mereka yang mulia. Tetapi, karena pengaruh udara dan makanan di negeri itu, rasa kantuk pun mulai menyerang keduanya, dan Dhat pun melupakan tujuannya.
Bertahun-tahun lamanya pangeran itu hidup di Misr, melakukan pekerjaan rendah demi mencari nafkah tampaknya, ia tak lagi sadar tentang tugas yang harus dikerjakannya.
Dengan suatu cara yang lazim bagi mereka namun tak diketahui orang lain, orang-orang Sharq bisa mengetahui keadaan menakutkan yang dialami Dhat, dan mereka itu pun bekerja sama untuk membebaskannya dari 'tidur' dan memampukannya terus bertekun mencapai tujuannya.
Baca juga: Kisah Sufi Abdur-Rahtuan Jami: Si Bebal di Kota Agung
Sebuah pesan pun disampaikan secara gaib kepada Sang Pangeran Muda, isinya, "Bangun! Sebab kau ini putra seorang raja, disuruh mengambil batu permata tertentu, dan kepada kami kau harus kembali."
Pesan tersebut membangunkan Sang Pangeran, yang segera pula melanjutkan perjalanannya. Ketika ia telah berhadapan dengan Penjaga Berlian, dipergunakannya suara-suara gaib untuk menidurkannya; dan putra raja pun berhasil mengambil dari penjagaan Si Raksasa, batu mutiara yang tak ternilai harganya itu.
Kemudian, Dhat, yang dipimpin oleh Suara, berganti pakaian dan menelusuri kembali langkahnya sampai ke negeri Sharq.
Dalam waktu yang sangat singkat, Dhat pun telah mengenakan lagi jubahnya yang lama, dan kembali ke negeri ayahnya, rumahnya. Tetapi kali ini, lewat pengalaman-pengalamannya, ia bisa menyaksikan bahwa negeri itu kini lebih megah daripada sebelumnya, suatu tempat yang aman baginya; lalu, ia menyadari bahwa kerajaan ayahnya itu merupakan tempat yang diketahui secara samar-samar oleh orang-orang Misr sebagai Salamat: yang mereka artikan Kepatuhan, namun yang Sang Pangeran kini sadari maknanya adalah kedamaian.
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Tarekat Asaaseen: Orang Berjalan di Atas Air
Bertahun-tahun lamanya pangeran itu hidup di Misr, melakukan pekerjaan rendah demi mencari nafkah tampaknya, ia tak lagi sadar tentang tugas yang harus dikerjakannya.
Dengan suatu cara yang lazim bagi mereka namun tak diketahui orang lain, orang-orang Sharq bisa mengetahui keadaan menakutkan yang dialami Dhat, dan mereka itu pun bekerja sama untuk membebaskannya dari 'tidur' dan memampukannya terus bertekun mencapai tujuannya.
Baca juga: Kisah Sufi Abdur-Rahtuan Jami: Si Bebal di Kota Agung
Sebuah pesan pun disampaikan secara gaib kepada Sang Pangeran Muda, isinya, "Bangun! Sebab kau ini putra seorang raja, disuruh mengambil batu permata tertentu, dan kepada kami kau harus kembali."
Pesan tersebut membangunkan Sang Pangeran, yang segera pula melanjutkan perjalanannya. Ketika ia telah berhadapan dengan Penjaga Berlian, dipergunakannya suara-suara gaib untuk menidurkannya; dan putra raja pun berhasil mengambil dari penjagaan Si Raksasa, batu mutiara yang tak ternilai harganya itu.
Kemudian, Dhat, yang dipimpin oleh Suara, berganti pakaian dan menelusuri kembali langkahnya sampai ke negeri Sharq.
Dalam waktu yang sangat singkat, Dhat pun telah mengenakan lagi jubahnya yang lama, dan kembali ke negeri ayahnya, rumahnya. Tetapi kali ini, lewat pengalaman-pengalamannya, ia bisa menyaksikan bahwa negeri itu kini lebih megah daripada sebelumnya, suatu tempat yang aman baginya; lalu, ia menyadari bahwa kerajaan ayahnya itu merupakan tempat yang diketahui secara samar-samar oleh orang-orang Misr sebagai Salamat: yang mereka artikan Kepatuhan, namun yang Sang Pangeran kini sadari maknanya adalah kedamaian.
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Tarekat Asaaseen: Orang Berjalan di Atas Air
(mhy)
Lihat Juga :