Benarkan Membaca Kitab Suci Tanpa Tahu Artinya Bak Keledai?

Rabu, 10 Juni 2020 - 14:40 WIB
loading...
Benarkan Membaca Kitab Suci Tanpa Tahu Artinya Bak Keledai?
Membaca Al-Qur’an meskipun seseorang tak mengerti artinya adalah sebuah ibadah yang berpahala. Foto/Ilustrasi/SINDOnews
A A A
TAK sedikit umat Islam yang membaca Al-Quran namun tak tahu artinya. Sementara, Allah berfirman:

قال تعالى: ـ
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَارًا بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ

Artinya: “Perumpamaan orang-orang yang diberi tugas membawa Taurat, kemudian mereka tidak membawanya (tidak mengamalkannya) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Sangat buruk perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS Al-Jumu’ah [62]: 5).

Nah, apakah dengan begitu mereka yang memcaba Al-Quran tapi tak tahu maknanya termasuk kamatsalil himar yahmilu asfara (seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal)?

Baca juga: Peranan Islam Memerangi Rasisme

R. Ahmad Nur Kholis, Dosen Studi Al-Qur’an di Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Malang, menjelaskan model perumpamaan seperti ini dapat ditemukan di beberapa tempat di dalam Al-Qur’an.

Perumpamaan orang-orang munafik dijelaskan dalam QS al-Baqarah (2): 17. Perumpamaan orang yang bersedekah diungkapkan dalam QS al-Baqarah (2): 261. Perumpamaan orang yang bertuhan selain Allah adalah seperti laba-laba, dijelaskan dalam QS al-Ankabut (29): 41. Ayat yang paralel dengan pembahasan ayat yang sedang dibahas dalam artikel ini adalah QS al-A’raf: 179 yang menuturkan sebuah perumpamaan yaitu:

....أُولَئِكَ كَالأنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

Artinya: “Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (QS. Al-A’raf: 179).

Baca juga: Dahsyatnya Fadhillah Surah Al-Mulk, Dibaca Sebelum Tidur

Dalam sebuah hadis riwayat Ibnu Abbas dalam Musnad Ahmad, perumpamaan mengenai keledai ternyata juga diungkapkan bagi orang yang berbicara di waktu khutbah Jumat disampaikan.

حدثنا أبن نمير، عن مجالد، عن الشعبى، عن ابن عباس قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من تكلم يوم الجمعة والإمام يخطب، فهو كمثل الحمار يحمل أسفارا، والذى يقول له "أنصت"، ليس له جمعة

Abu Numair menceritakan hadis kepada kami, dari Mujalid, dari As-Syi’by, dari Ibnu Abbas yang mengatakan: Rasulullah bersabda: “Barang siapa berbicara pada saat imam berkhutbah, maka ia seperti keledai yang membawa kitab, dan orang yang mengatakan kepadanya ‘Diam!’ maka tiadalah Jumat baginya” (Musnad Ahmad, (1): 230).

(Baca Juga: Keutamaan dan Keistimewaan Surah Al-Fatihah )

Konteks Perumpamaan Keledai
Pengajar Ushul Fiqh di Pondok Pesantren PPAI Al-Fithriyah Kepanjen Malang ini dalam tulisannya berjudul "Membaca Al-Qur’an tanpa Paham Artinya dan Perumpamaan Keledai" yang dimuat laman resmi Nahdlatul Ulama , menyatakan perlu dijelaskan terlebih dahulu setiap orang yang menjelaskan ayat Al-Qur’an bukan berarti ia sudah menafsirkan Al-Qur’an. Sebab, upaya menafsrikan Al-Qur’an membutuhkan seperangkat keahlian serta metode dan prosedur yang harus diikuti.

Dalam tafsir Jalalain yang ditulis oleh Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin as-Suyuthi, ada beberapa pokok penafsiran atas ayat ini. Yaitu, (1) hummilut-taurata dijelaskan sebagai: ‘tuntutan bagi orang Yahudi untuk mengamalkan apa yang ada di dalamnya’; (2) tsumma lam yahmiluuha dijelaskan sebagai ‘tidak mengamalkan isinya yaitu untuk mengenali sifat-sifat Muhammad (sebagai tanda kenabian) sehingga tidak mengimani kenabian-Nya’; (3) kata asfara di dalam ayat itu diartikan sebagai kitab. Diumpamakan seperti keledai yang membawa kitab, karena perilaku yang tidak bisa memanfaatkannya. Perumpamaan ini dinilai Al-Qur’an sebagai seburuk-buruknya perumpamaan. (Baca Juga: Keutamaan Surah An-Nisa dan Kandungannya )

Jika membaca tafsir Ibnu Abbas dan tafsir Ibnu Katsir, juga demikian penjelasan yang kita jumpai. Yaitu bahwa ayat tersebut tidak lepas dari dua konteks, yaitu: pertama, khitab (konteks pembicaraan) ayat tersebut adalah orang-orang Yahudi; (Jalalain [2]: 401); Tanwirul Miqbas: 595).

Kedua, dijelaskan bahwa perumpamaan itu dibuat untuk menjelaskan orang-orang Yahudi yang berusaha menyembunyikan informasi tentang sifat-sifat nabi yang terakhir yang dalam faktanya ada pada diri Nabi Muhammad (Tanwirul Miqbas: 595)

Jadi dapat disimpulkan, menurut Ahmad Nur Kholis, bahwa ayat kelima QS al-Jumu’ah di atas berbicara dalam konteks orang-orang Yahudi yang menyembunyikan informasi-informasi kenabian yang ada dalam kitab suci mereka.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa selain mereka berusaha menyembunyikan, orang-orang Yahudi juga menentang, mengubah, dan mengganti isi dari kitab Taurat tersebut. Walhasil, ini adalah tentang Taurat, bukan Al-Qur’an.
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.2785 seconds (11.252#12.26)