Allah Mencintai Orang-Orang yang Lisannya Basah karena Zikir
Rabu, 10 Juni 2020 - 17:43 WIB
loading...
A
A
A
Zikir Hati
Asma' mengatakan yang dimaksud zikir lisan adalah lafazh-lafazh yang menunjukkan tasbih, tahmid, dan tamjid.
Yang dimaksud zikir hati adalah tafakkur pada dalil-dalil zat dan sifat, pada dalil-dalil perintah dan larangan sehingga ia mengetahui hukum-hukumnya, pada dalil-dalil berita pembalasan, dan pada rahasia rahasia makhluk-makhluk Allah subhanahu wa ta’ala.
Menurut Asma' zikir hati ada dua bagian. Salah satunya, yaitu zikir tertinggi dan paling agung, yaitu memikirkan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala, jabarut-Nya, malakut-Nya, dan ayat-ayat-Nya di langit dan bumi-Nya.
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan .
Kedua, zikir hati di sisi perintah dan larangan, maka ia melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang, karena mengharapkan pahala dan takut terhadap siksa-Nya.
Adapun zikir anggota tubuh, yaitu ia tenggelam dalam taat, dan dari itulah salat dinamakan zikir. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالى: ﴿ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ﴾ [ الجمعة: 9]
Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (QS. al-Jum’at:9)
قال تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴾ [ الأحزاب: 41]
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al-Ahzab:41)
Baca juga: Hubungan Akrab Nabi Sulaiman dengan Malaikat Izrail
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya agar berzikir dan bersyukur kepada-Nya, mempekerjakan lisannya dalam setiap kondisi mereka dengan tasbih, tahlil, tahmid dan takbir.
Menurut Mujahid, inilah bacaan-bacaan yang diucapkan orang yang bersuci, berhadats dan junub, dan ia berkata: Tiadalah seseorang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia berzikir sambil berdiri, duduk dan berbaring.
Baca juga: Kematian, Hanya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang Bis a Menawar
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepada hamba-Nya satu kewajiban kecuali menjadikan baginya batasan yang diketahui, kemudian ia memaafkan pelakunya di saat tidak bisa melakukan selain zikir. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan baginya batasan akhirnya dan tidak memaafkan seseorang dalam meninggalkannya kecuali yang terpaksa meninggalkannya. (Baca juga: Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar ).
Allah Ta’ala berfirman:
قال تعالى :﴿ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ﴾ [النساء: 103]
Asma' mengatakan yang dimaksud zikir lisan adalah lafazh-lafazh yang menunjukkan tasbih, tahmid, dan tamjid.
Yang dimaksud zikir hati adalah tafakkur pada dalil-dalil zat dan sifat, pada dalil-dalil perintah dan larangan sehingga ia mengetahui hukum-hukumnya, pada dalil-dalil berita pembalasan, dan pada rahasia rahasia makhluk-makhluk Allah subhanahu wa ta’ala.
Menurut Asma' zikir hati ada dua bagian. Salah satunya, yaitu zikir tertinggi dan paling agung, yaitu memikirkan keagungan Allah subhanahu wa ta’ala, jabarut-Nya, malakut-Nya, dan ayat-ayat-Nya di langit dan bumi-Nya.
Baca juga: Hati Adalah Raja, Amalan Hati Lebih Penting Ketimbang Amal Badan .
Kedua, zikir hati di sisi perintah dan larangan, maka ia melaksanakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang, karena mengharapkan pahala dan takut terhadap siksa-Nya.
Adapun zikir anggota tubuh, yaitu ia tenggelam dalam taat, dan dari itulah salat dinamakan zikir. Firman Allah subhanahu wa ta’ala:
قال الله تعالى: ﴿ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ﴾ [ الجمعة: 9]
Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah (QS. al-Jum’at:9)
قال تعالى: ﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا ﴾ [ الأحزاب: 41]
Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. al-Ahzab:41)
Baca juga: Hubungan Akrab Nabi Sulaiman dengan Malaikat Izrail
Allah subhanahu wa ta’ala menyuruh hamba-hamba-Nya agar berzikir dan bersyukur kepada-Nya, mempekerjakan lisannya dalam setiap kondisi mereka dengan tasbih, tahlil, tahmid dan takbir.
Menurut Mujahid, inilah bacaan-bacaan yang diucapkan orang yang bersuci, berhadats dan junub, dan ia berkata: Tiadalah seseorang banyak berzikir kepada Allah subhanahu wa ta’ala sehingga ia berzikir sambil berdiri, duduk dan berbaring.
Baca juga: Kematian, Hanya Nabi Ibrahim dan Nabi Musa yang Bis a Menawar
Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu menyatakan sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mewajibkan kepada hamba-Nya satu kewajiban kecuali menjadikan baginya batasan yang diketahui, kemudian ia memaafkan pelakunya di saat tidak bisa melakukan selain zikir. Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak menjadikan baginya batasan akhirnya dan tidak memaafkan seseorang dalam meninggalkannya kecuali yang terpaksa meninggalkannya. (Baca juga: Kisah Cinta Mengharukan Atikah dan Abdullah Putra Abu Bakar ).
Allah Ta’ala berfirman:
قال تعالى :﴿ فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَى جُنُوبِكُمْ ﴾ [النساء: 103]
Lihat Juga :