Kisah Sufi Namus si Cerdik dan Gajah
Rabu, 05 Januari 2022 - 13:45 WIB
loading...
A
A
A
Tetapi, Namus tidak tahu bahwa gajah itu sebenarnya tidak mendengar suaranya. Sedikit pun tuan rumah itu tidak sadar akan kehadiran, atau bahkan keluar masuknya, Namus beserta segenap keluarganya. Dengan kata lain, tidak terpikirkan sama sekali oleh gajah itu bahwa ada agas di telinganya.
Dan ketika tiba pula saatnya ketika Namus Si Cerdik hendak pindah rumah lagi, kali ini juga dengan alasan yang penting dan mendesak, ia merasa berkepentingan untuk berpamitan kepada gajah, pemilik rumahnya itu, sebagai bagian dari kesantunan. Ia menyiapkan dirinya untuk mengumumkan secara resmi tentang kepergiannya dari telinga gajah itu.
Dan begitulah, sesudah memutuskan dengan mantap dan melatih seperlunya apa yang harus ia katakan, Namus berseru sekali lagi di bawah telinga gajah itu. Ia berteriak sekali, dan tak ada jawaban. Kedua kali, gajah tetap diam. Kali ketiga, dengan sekuat tenaga dalam hasratnya yang sudah di ubun-ubun untuk menyampaikan kata-kata fasihnya, ia berteriak: "Wahai gajah, ketahuilah bahwa aku, Namus Si Cerdik, pamit untuk pergi dari rumahku dan tungku perapianku, meninggalkan kediamanku di telingamu ini yang telah kutempati sekian lama. Dan kepergianku ini karena alasan yang penting dan mendesak yang akan kukatakan juga kepadamu."
Sekarang akhirnya suara agas itu menyentuh saraf-saraf pendengaran gajah tersebut, dan seruan agas itu pun terdengar olehnya. Sementara gajah itu mencerna perkataan itu, Namus berteriak lagi: "Apa jawabmu atas beritaku ini? Bagaimana perasaanmu tentang keberangkatanku sebentar lagi?"
Gajah itu menengadahkan kepalanya yang besar itu dan mendengus pelan. Dalam dengusan itu terkandung kata-kata: "Pergilah dalam damai --sebab sesungguhnya kepergianmu sama menarik dan pentingnya bagiku seperti kedatanganmu."
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat
Dan ketika tiba pula saatnya ketika Namus Si Cerdik hendak pindah rumah lagi, kali ini juga dengan alasan yang penting dan mendesak, ia merasa berkepentingan untuk berpamitan kepada gajah, pemilik rumahnya itu, sebagai bagian dari kesantunan. Ia menyiapkan dirinya untuk mengumumkan secara resmi tentang kepergiannya dari telinga gajah itu.
Dan begitulah, sesudah memutuskan dengan mantap dan melatih seperlunya apa yang harus ia katakan, Namus berseru sekali lagi di bawah telinga gajah itu. Ia berteriak sekali, dan tak ada jawaban. Kedua kali, gajah tetap diam. Kali ketiga, dengan sekuat tenaga dalam hasratnya yang sudah di ubun-ubun untuk menyampaikan kata-kata fasihnya, ia berteriak: "Wahai gajah, ketahuilah bahwa aku, Namus Si Cerdik, pamit untuk pergi dari rumahku dan tungku perapianku, meninggalkan kediamanku di telingamu ini yang telah kutempati sekian lama. Dan kepergianku ini karena alasan yang penting dan mendesak yang akan kukatakan juga kepadamu."
Sekarang akhirnya suara agas itu menyentuh saraf-saraf pendengaran gajah tersebut, dan seruan agas itu pun terdengar olehnya. Sementara gajah itu mencerna perkataan itu, Namus berteriak lagi: "Apa jawabmu atas beritaku ini? Bagaimana perasaanmu tentang keberangkatanku sebentar lagi?"
Gajah itu menengadahkan kepalanya yang besar itu dan mendengus pelan. Dalam dengusan itu terkandung kata-kata: "Pergilah dalam damai --sebab sesungguhnya kepergianmu sama menarik dan pentingnya bagiku seperti kedatanganmu."
Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi.
Baca juga: Kisah Sufi Amir Sulan: Putra Raja Bernama Dhat
(mhy)
Lihat Juga :