Kisah Sufi Shah Muhammad Gwat Shattari: Mimpi dan Sepotong Roti

loading...
Kisah Sufi Shah Muhammad Gwat Shattari: Mimpi dan Sepotong Roti
Kisah Mimpi dan Sepotong Roti adalah salah satu yang dianggap menjadi karya Shah Muhammad Gwat Shattari. (Ilustrasi : Ist)
Kisah ini salah satu yang dianggap menjadi karya Shah Muhammad Gwat Shattari, yang wafat tahun 1563. Ia menulis risalah terkenal, "Lima Permata" (Five Jewels) yang menggambarkan cara pencapaian taraf lebih tinggi manusia dalam terminologi kuasa gaib dan sihir, berdasarkan pada model-model kuno.

Idries Shah dalam bukunya "Tales of The Dervishes" menyebut Shah Muhammad Gwat Shattari adalah guru pendiri tidak kurang dari empat belas tarekat dan sangat dihormati oleh Maharaja India, Humayun.

Meskipun dielu-elukan oleh beberapa kalangan sebagai orang suci, beberapa tulisannya dianggap menyalahi aturan suci oleh golongan pendeta, dan karena itu ia dituntut hukuman mati.

Ia akhirnya dibebaskan dari tuduhan bid'ah karena pendapat bahwa hal-hal yang dikatakan sebagai keadaan pikiran yang khusus tidak bisa dinilai dengan ukuran pengetahuan biasa. Makamnya di Gwalior, suatu tempat ziarah Sufi yang sangat penting.

Baca juga: Kisah Sufi Majnun Qalandar: Anjing dan Keledai

Berikut kisahnya:

Tiga orang musafir yang sedang menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, menjadi sahabat. Mereka berbagi suka dan duka, menyatukan semua bekal mereka.

Setelah berhari-hari lamanya, sadarlah mereka bahwa bekal yang tersisa tinggal sepotong roti dan seteguk air di kantong kulit. Mereka pun bertengkar tentang siapa yang berhak atas sisa bekal itu. Karena tidak berhasil bersepakat, mereka mencoba membagi roti dan air itu. Tetapi tetap saja mereka berselisih.

Ketika malam tiba, salah seorang mengusulkan agar sebaiknya mereka tidur saja. Setelah mereka bangun, orang yang mendapatkan mimpi yang paling hebat akan menentukan apa yang harus dilakukan.

Pagi berikutnya, ketiga musafir itu bangun saat matahari terbit.

"Inilah mimpiku," kata yang pertama. "Aku berada di tempat-tempat yang tak terlukiskan oleh kata-kata, begitu indah dan tenang. Aku berjumpa dengan seorang bijaksana yang berkata kepadaku, "Kau berhak atas roti dan air itu, sebab kehidupan masa lalu dan masa depanmu berharga dan pantas dipuji."

Baca juga: Kisah Sufi Omar Khilwati: Membawa Sepatu ke Masjid

"Sungguh aneh," kata musafir kedua, "sebab dalam mimpiku, aku benar-benar melihat semua masa lalu dan masa depanku. Dalam masa depanku, aku melihat seorang lelaki berpengetahuan sempurna, berkata, "Kau lebih berhak memakan roti itu dari pada kawan-kawanmu, sebab kau lebih berpengetahuan dan lebih sabar. Kau harus cukup makan, sebab kau ditakdirkan untuk menjadi pemimpin manusia."

Musafir ketiga berkata, "Dalam mimpiku aku tak melihat apa pun, tak mendengar apa pun, tak berkata apa pun. Aku merasakan suatu kekuatan yang memaksaku bangun, mencari roti dan air itu, dan memakannya saat itu juga di sana. Dan itulah yang kulakukan semalam."

Kisah ini juga telah diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia antara lain oleh Ahmad Bahar dalam bukunya berjudul Harta Karun dari Timur Tengah - Kisah Bijak Para Sufi. Juga oleh Sapardi Djoko Damono dalam buku Kisah-Kisah Sufi, Kumpulan Kisah Nasehat Para Guru Sufi Selama Seribu Tahun yang Lampau.

Menurut Idries Shah, alur yang sama juga dipergunakan dalam kisah-kisah Kristen di kalangan biarawan pada Abad Pertengahan.

Baca juga: Kisah Sufi Khwaja Ali Ramitani: Cara Menangkap Kera
(mhy)
preload video