Kisah Hikmah : Batal Puasa karena Lihat Istri
Selasa, 12 April 2022 - 14:32 WIB
loading...
Prinsip dalam beragama yang ingin Rasulullah ajarkan adalah dalam beragama, apa yang bisa dipermudah janganlah dipersulit, Foto ilustrasi/ist
A
A
A
Syariat yang Allah Subhanahu wa ta'ala turunkan kepada umat Nabi Shallallahu alaihi wa sallam tidak untuk menyulitkan . Justru sebaliknya. Allah Ta'ala menjadikan ketetapan-Nya agar sesuai dengan kemampuan setiap orang. Hal ini juga ditegaskan dalam Al-Qur'an:
Allah Ta'ala berfirman :
"........Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (QS Al Baqarah : 185)
Baca juga: Dosa Mempersulit Urusan Orang Lain
Dalam hadis pun, Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam telah mengingatkan tentang hal itu. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya agama (islam) itu mudah, dan tidak ada satu orangpun yang mempersulitnya kecuali ia akan dibuat tak berdaya”. (HR Bukhari)
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam menegaskan, "Apabila aku perintahkan kepada kalian untuk mengerjakan suatu perkara , maka laksanakanlah itu semampu kalian" (HR Bukhari-Muslim).
Dua hadis sahih itu menekankan, prinsip dalam beragama yang ingin Rasulullah ajarkan dalam hadis tersebut adalah dalam beragama, apa yang bisa dipermudah janganlah dipersulit, karena jika kita mempersulit apa yang tak perlu dipersulit, maka kita sendiri yang akan kesusahan nantinya. Prinsip tersebut senantiasa Rasulullah SAW terapkan ketika beliau mengajarkan umatnya dalam urusan agama.
Di antara riwayat yang menjelaskan hal tersebut adalah riwayat yang mengkisahkan sikap beliau terhadap salah seorang sahabat yang membatalkan puasa Ramadhannya, akibat tak bisa menahan nafsu biologisnya kepada sang istri di siang hari bulan Ramadhan.
Dikisahkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, ia berkata:
Allah Ta'ala berfirman :
شَهۡرُ رَمَضَانَ الَّذِىۡٓ اُنۡزِلَ فِيۡهِ الۡقُرۡاٰنُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الۡهُدٰى وَالۡفُرۡقَانِۚ فَمَنۡ شَهِدَ مِنۡكُمُ الشَّهۡرَ فَلۡيَـصُمۡهُ ؕ وَمَنۡ کَانَ مَرِيۡضًا اَوۡ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنۡ اَيَّامٍ اُخَرَؕ يُرِيۡدُ اللّٰهُ بِکُمُ الۡيُسۡرَ وَلَا يُرِيۡدُ بِکُمُ الۡعُسۡرَ وَلِتُکۡمِلُوا الۡعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمۡ وَلَعَلَّکُمۡ تَشۡكُرُوۡنَ
"........Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur." (QS Al Baqarah : 185)
Baca juga: Dosa Mempersulit Urusan Orang Lain
Dalam hadis pun, Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam telah mengingatkan tentang hal itu. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda “Sesungguhnya agama (islam) itu mudah, dan tidak ada satu orangpun yang mempersulitnya kecuali ia akan dibuat tak berdaya”. (HR Bukhari)
Dalam hadis lain, Rasulullah Shallalahu alaihi wa sallam menegaskan, "Apabila aku perintahkan kepada kalian untuk mengerjakan suatu perkara , maka laksanakanlah itu semampu kalian" (HR Bukhari-Muslim).
Dua hadis sahih itu menekankan, prinsip dalam beragama yang ingin Rasulullah ajarkan dalam hadis tersebut adalah dalam beragama, apa yang bisa dipermudah janganlah dipersulit, karena jika kita mempersulit apa yang tak perlu dipersulit, maka kita sendiri yang akan kesusahan nantinya. Prinsip tersebut senantiasa Rasulullah SAW terapkan ketika beliau mengajarkan umatnya dalam urusan agama.
Di antara riwayat yang menjelaskan hal tersebut adalah riwayat yang mengkisahkan sikap beliau terhadap salah seorang sahabat yang membatalkan puasa Ramadhannya, akibat tak bisa menahan nafsu biologisnya kepada sang istri di siang hari bulan Ramadhan.
Dikisahkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu'anhu, ia berkata:
Lihat Juga :