Kisah Amir bin Abdillah: Diusir Khalifah Utsman dari Bashrah karena Tidak Menikah
Rabu, 13 April 2022 - 14:35 WIB
loading...
A
A
A
Beliau ditanya: “Apa yang menghalangi Anda untuk mendatangi pertemuan yang diadakan pemerintah dan menyaksikannya?”
Beliau menjawab: “Sesungguhnya di depan pintu kalian begitu banyak orang yang ingin dipenuhi hajatnya, maka undanglah mereka ke tempat kalian dan cukupilah kebutuhan mereka dengan apa yang kalian punya, dan biarkanlah orang yang tidak meminta kebutuhan kepada kalian.”
Usai pertemuan tersebut, jawaban Amir bin Abdillah ini dilaporkan pada amirul mukminin Utsman bin Affan dan khalifah memandang tidak ada indikasi menyimpang dan ketaatan atau keluar dari ahlus sunnah wal jama’ah pada diri Amir.
Hanya saja api kejahatan belum padam sampai di situ, isu yang membicarakan keburukan Amir bin Abdillah makin gencar, hingga nyaris saja terjadi fitnah antara pembela beliau dengan orang-orang yang menjadi saingannya, lalu Utsman bin Affan memerintahkan beliau untuk berpindah ke negeri Syam dan menjadikan negeri tersebut sebagai tempat tinggalnya.
Khalifah mewasiatkan wali kota Mu’awiyah bin Abi Sufyan untuk menyambut baik kedatangan dan menjaga kehormatannya.
Sampailah hari di mana Amir bin Abdillah memutuskan untuk pindah dari Bashrah. Para sahabat dan murid-murid beliau keluar untuk mengucapkan perpisahan dengan beliau.
Mereka mengantar beliau hingga sampai di Marbad, setibanya di sana beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya saya adalah penyeru maka jagalah seruanku.”
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi: Abdullah Bin Umar Mimpi Diperlihatkan Neraka
Lalu orang-orang melongok agar dapat melihat beliau dan mereka tenang tak bergerak dan mata mereka tertuju kepada beliau, sementara beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a: "Ya Allah, orang yang telah menghasut dan mendustaiku serta menjadi sebab terusirnya aku dan negeriku, memisahkan antara diriku dengan para sahabatku, ya Allah sesungguhnya aku telah memaafkannya, maka maafkanlah dia. Berilah ia karunia kesehatan dalam agama dan dunianya. Limpahkanlah aku, dia dan juga seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, ampunan-Mu dan kebaikan-Mu wahai Yang Paling pengasih” kemudian beliau mengarahkan kendaraannya menuju Syam.
Amir bin Abdillah memutuskan hidup di negeri Syam untuk mengisi sisa-sisa umurnya. Beliau memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggal dan beliau mendapatkan perlakuan baik dan pemimpin Syam Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dihormati dan dihargai.
Akhir Hayat
Tatkala beliau sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis. Mereka bertanya: “Apa yang menyebabkan Anda menangis, padahal Anda memiliki keutamaan ini dan itu?”
Beliau menjawab: "Demi Allah aku menangis bukan karena ingin hidup lama di dunia atau takut menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh, aku berada di antara tebing dan jurang… bisa jadi ke jannah bisa jadi pula tergelincir ke neraka, aku tidak tahu di mana aku akan sampai...”
Kemudian beliau menghela nafas pelan sedang lisannya basah dengan zikrullah. Di sana, di kiblat yang pertama, Haramain yang ketiga, tempat Rasul melakukan isra’ Amir bin Abdilah At-Tamimi berdiam diri.
Beliau menjawab: “Sesungguhnya di depan pintu kalian begitu banyak orang yang ingin dipenuhi hajatnya, maka undanglah mereka ke tempat kalian dan cukupilah kebutuhan mereka dengan apa yang kalian punya, dan biarkanlah orang yang tidak meminta kebutuhan kepada kalian.”
Usai pertemuan tersebut, jawaban Amir bin Abdillah ini dilaporkan pada amirul mukminin Utsman bin Affan dan khalifah memandang tidak ada indikasi menyimpang dan ketaatan atau keluar dari ahlus sunnah wal jama’ah pada diri Amir.
Hanya saja api kejahatan belum padam sampai di situ, isu yang membicarakan keburukan Amir bin Abdillah makin gencar, hingga nyaris saja terjadi fitnah antara pembela beliau dengan orang-orang yang menjadi saingannya, lalu Utsman bin Affan memerintahkan beliau untuk berpindah ke negeri Syam dan menjadikan negeri tersebut sebagai tempat tinggalnya.
Khalifah mewasiatkan wali kota Mu’awiyah bin Abi Sufyan untuk menyambut baik kedatangan dan menjaga kehormatannya.
Sampailah hari di mana Amir bin Abdillah memutuskan untuk pindah dari Bashrah. Para sahabat dan murid-murid beliau keluar untuk mengucapkan perpisahan dengan beliau.
Mereka mengantar beliau hingga sampai di Marbad, setibanya di sana beliau berkata kepada mereka: “Sesungguhnya saya adalah penyeru maka jagalah seruanku.”
Baca juga: Kisah Sahabat Nabi: Abdullah Bin Umar Mimpi Diperlihatkan Neraka
Lalu orang-orang melongok agar dapat melihat beliau dan mereka tenang tak bergerak dan mata mereka tertuju kepada beliau, sementara beliau mengangkat kedua tangannya dan berdo’a: "Ya Allah, orang yang telah menghasut dan mendustaiku serta menjadi sebab terusirnya aku dan negeriku, memisahkan antara diriku dengan para sahabatku, ya Allah sesungguhnya aku telah memaafkannya, maka maafkanlah dia. Berilah ia karunia kesehatan dalam agama dan dunianya. Limpahkanlah aku, dia dan juga seluruh kaum muslimin dengan rahmat-Mu, ampunan-Mu dan kebaikan-Mu wahai Yang Paling pengasih” kemudian beliau mengarahkan kendaraannya menuju Syam.
Amir bin Abdillah memutuskan hidup di negeri Syam untuk mengisi sisa-sisa umurnya. Beliau memilih Baitul Maqdis sebagai tempat tinggal dan beliau mendapatkan perlakuan baik dan pemimpin Syam Mu’awiyah bin Abi Sufyan, dihormati dan dihargai.
Akhir Hayat
Tatkala beliau sakit menjelang wafatnya, para sahabat beliau menjenguknya dan mereka mendapatkan beliau sedang menangis. Mereka bertanya: “Apa yang menyebabkan Anda menangis, padahal Anda memiliki keutamaan ini dan itu?”
Beliau menjawab: "Demi Allah aku menangis bukan karena ingin hidup lama di dunia atau takut menghadapi kematian, akan tetapi aku menangis karena jauhnya perjalanan dan alangkah sedikitnya bekal. Sungguh, aku berada di antara tebing dan jurang… bisa jadi ke jannah bisa jadi pula tergelincir ke neraka, aku tidak tahu di mana aku akan sampai...”
Kemudian beliau menghela nafas pelan sedang lisannya basah dengan zikrullah. Di sana, di kiblat yang pertama, Haramain yang ketiga, tempat Rasul melakukan isra’ Amir bin Abdilah At-Tamimi berdiam diri.
(mhy)
Lihat Juga :