Mariyah al-Qibthiyah dan Sisi Romantis Kehidupan Nabi Muhammad SAW
Selasa, 19 April 2022 - 15:46 WIB
loading...
Saat pertama kali melihat Maria, Rasulullah SAW terpesona dengan paras dan akhlak wanita dari kalangan Kristen Koptik yang memang cantik dan anggun itu. Foto/Ilustrasi: Wallpaper Access
A
A
A
Kisah cinta Rasulullah SAW dengan Mariyah al-Qibthiyah atau Maria sejatinya telah mengungkap sisi-sisi romantis kehidupan Nabi. Saat pertama kali melihat Maria, Rasulullah SAW terpesona dengan paras dan akhlak wanita dari kalangan Kristen Koptik yang memang cantik dan anggun itu.
Keterpesonaan Rasulullah kepada Mariyah ini membuat istri-istri yang lain merasa cemburu. Mariyah adalah sosok wanita yang memiliki pemahaman agama yang baik. Dia juga telah disucikan Allah SWT dari prasangka buruk manusia.
"Belum pernah aku terpukau dengan keelokan seorang perempuan seperti halnya keterpukauanku kepada Mariyah. Rasulullah pun terpukau dengan kecantikan paras dan akhlaknya," demikian pujian Sayyidah ‘Aisyah untuk Maria.
Baca juga: Kisah Hikmah : Pakaian Malu Istri Nabi Musa
Mariyah Al-Qibthiyah binti Syam'um merupakan budak dari Mesir. Menurut Imam al-Baladziri, ibunda Mariyah adalah keturunan bangsa Romawi. Mariyah mewarisi kecantikan ibunya sehingga memiliki kulit yang putih, berparas cantik, berpengetahuan luas, dan berambut ikal.
Pada suatu ketika Rasulullah SAW mengirim utusan, Hathib bin Abi Balta'ah untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Raja Qibti al-Muqauqis yang berisi ajakan untuk memeluk Islam.
Raja menolak ajakan ini namun mengirim hadiah kepada Nabi. Hadiah itu antara lain budak bernama Mariyah, Sirin, dan Maburi serta hadiah kerajinan dari Mesir. Selain itu, raja tersebut juga memberikan hadiah keledai dan kuda putih.
Menurut Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, selanjutnya Rasulullah mengambil Mariyah untuk dirinya. Sementara, Sirin diberikan kepada Hasan bin Tsabit.
Kecemburuan segera membakar hati para istri Rasulullah ketika berita kedatangan Mariyah terdengar dalam rumah tangga Nabi, terutama Sayyidah Aisyah. Musababnya, Rasulullah sudah memperistri Mariyah.
Rasulullah SAW menyadari apa yang terjadi antara Aisyah dan para istrinya yang cemburu kepada Mariyah, sehingga Mariyah dipindahkan ke al-Aliyah, sejauh 3 mil dari Madinah, di sanalah Mariyah menetap.
Baca juga: Kedermawanan Ri'lah binti Mudhadh, Istri Nabi Ismail
Setahun di Madinah, Allah menghendaki perempuan yang sopan dan ramah ini hamil. Suatu malam Mariyah menceritakan kepada Rasulullah bahwa ia telah mengandung. Beliau pun menerima kabar itu dengan memuji dan bersyukur kepada Allah.
Berita tersebut langsung tersebar di Madinah dan semua menanti kabar gembira tersebut, namun para istri Nabi menyambut dengan sedih. Ketika perut mereka bersikap "kikir", perut Mariyah itu bersikap "pemurah".
Rasulullah SAW pantas sangat bahagia mendengar kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia. Mariyah adalah istri Rasulullah setelah Sayyidah Khadijah yang bisa memberi Rasulullah anak.
Keterpesonaan Rasulullah kepada Mariyah ini membuat istri-istri yang lain merasa cemburu. Mariyah adalah sosok wanita yang memiliki pemahaman agama yang baik. Dia juga telah disucikan Allah SWT dari prasangka buruk manusia.
"Belum pernah aku terpukau dengan keelokan seorang perempuan seperti halnya keterpukauanku kepada Mariyah. Rasulullah pun terpukau dengan kecantikan paras dan akhlaknya," demikian pujian Sayyidah ‘Aisyah untuk Maria.
Baca juga: Kisah Hikmah : Pakaian Malu Istri Nabi Musa
Mariyah Al-Qibthiyah binti Syam'um merupakan budak dari Mesir. Menurut Imam al-Baladziri, ibunda Mariyah adalah keturunan bangsa Romawi. Mariyah mewarisi kecantikan ibunya sehingga memiliki kulit yang putih, berparas cantik, berpengetahuan luas, dan berambut ikal.
Pada suatu ketika Rasulullah SAW mengirim utusan, Hathib bin Abi Balta'ah untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Raja Qibti al-Muqauqis yang berisi ajakan untuk memeluk Islam.
Raja menolak ajakan ini namun mengirim hadiah kepada Nabi. Hadiah itu antara lain budak bernama Mariyah, Sirin, dan Maburi serta hadiah kerajinan dari Mesir. Selain itu, raja tersebut juga memberikan hadiah keledai dan kuda putih.
Menurut Buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, selanjutnya Rasulullah mengambil Mariyah untuk dirinya. Sementara, Sirin diberikan kepada Hasan bin Tsabit.
Kecemburuan segera membakar hati para istri Rasulullah ketika berita kedatangan Mariyah terdengar dalam rumah tangga Nabi, terutama Sayyidah Aisyah. Musababnya, Rasulullah sudah memperistri Mariyah.
Rasulullah SAW menyadari apa yang terjadi antara Aisyah dan para istrinya yang cemburu kepada Mariyah, sehingga Mariyah dipindahkan ke al-Aliyah, sejauh 3 mil dari Madinah, di sanalah Mariyah menetap.
Baca juga: Kedermawanan Ri'lah binti Mudhadh, Istri Nabi Ismail
Setahun di Madinah, Allah menghendaki perempuan yang sopan dan ramah ini hamil. Suatu malam Mariyah menceritakan kepada Rasulullah bahwa ia telah mengandung. Beliau pun menerima kabar itu dengan memuji dan bersyukur kepada Allah.
Berita tersebut langsung tersebar di Madinah dan semua menanti kabar gembira tersebut, namun para istri Nabi menyambut dengan sedih. Ketika perut mereka bersikap "kikir", perut Mariyah itu bersikap "pemurah".
Rasulullah SAW pantas sangat bahagia mendengar kehamilan Mariyah, terlebih setelah putra-putrinya, yaitu Abdullah, Qasim, dan Ruqayah meninggal dunia. Mariyah adalah istri Rasulullah setelah Sayyidah Khadijah yang bisa memberi Rasulullah anak.
Lihat Juga :