Pesta Fitrah, Proses Penyucian dan Kemenangan Melawan Diri Sendiri
Minggu, 01 Mei 2022 - 19:24 WIB
loading...
Kata fitri diartikan dengan makan. Idul fitri, dengan begitu dimaknai dengan kembali makan. Foto/Ilustrasi: freepik
A
A
A
Banyak di antara para ulama yang menjelaskan tentang Idul Fitri . Secara umum ada yang melihat kepada makna substansinya di satu sisi. Ada juga yang memandang dari aspek makna literalnya dan asal kata “fitri”.
Untuk kategori yang pertama ada Ibnu Jarir al-Thabari. Dalam kitab tafsir al-Thabari, idul fitri bermakna kepada proses penyucian diri dalam bentuk kejernihan berpikir dan berperilaku dalam keseharian.
Dengan demikian penyucian diri adalah suatu upaya yang sangat ditentukan oleh akhlak, etika sosial dari seorang individu. Artinya, tiap seorang muslim memiliki peran besar dalam melakukan aktualisasi moral dan perannya di masyarakat.
Konsep penyucian diri selama puasa setidaknya berkaitan dengan self-controlling (menahan diri) dari etika yang tercela.
Baca juga: Sejarah Idul Fitri dan Perayaannya
Konsep penyucian diri, di mana ia berfondasi pada self-controlling, senada dengan penyucian diri ala para sufi. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa seorang muslim mengimplementasikan ketaatan pada ranah masyarakat yang ia kembali kepada ketenangan diri. Artinya berbuat baik sesama muslim pada idul fitri tidak lain adalah bentuk dari penyucian diri.
Pada dasarnya makna Idul Fitri merupakan akumulasi dari kebajikan selama bulan Ramadlan. Jika seseorang berbuat baik sesama secara istiqamah ia akan memperoleh kesenangan diri. Hal ini sebagaimana dituliskan dalam firman Allah SWT “qad aflaha man tazakka”.
Menurut al-Thantawi tentang penjelasan tafsir ayat ini bahwa penyucian diri akan menyebabkan seseorang merasa senang dan bisa membagikan kesenangan kepada orang lain.
Bagai Bayi Baru Lahir
Pakar Tasawuf KH M Luqman Hakim menerangkan, anugerah agung dari Allah SWT ini diperoleh manusia setelah selama satu bulan menjalani puasa Ramadhan dengan sebenar-benarnya sehingga memperoleh derajat takwa. Takwa ini kemudian ditingkatkan di hari-hari selanjutnya.
Pendidikan Allah di bulan puasa ialah agar seseorang keluar dari kemelut kegelapan alam asfala safilin kembali ke alam ahsanu taqwim.
Untuk kategori yang pertama ada Ibnu Jarir al-Thabari. Dalam kitab tafsir al-Thabari, idul fitri bermakna kepada proses penyucian diri dalam bentuk kejernihan berpikir dan berperilaku dalam keseharian.
Dengan demikian penyucian diri adalah suatu upaya yang sangat ditentukan oleh akhlak, etika sosial dari seorang individu. Artinya, tiap seorang muslim memiliki peran besar dalam melakukan aktualisasi moral dan perannya di masyarakat.
Konsep penyucian diri selama puasa setidaknya berkaitan dengan self-controlling (menahan diri) dari etika yang tercela.
Baca juga: Sejarah Idul Fitri dan Perayaannya
Konsep penyucian diri, di mana ia berfondasi pada self-controlling, senada dengan penyucian diri ala para sufi. Imam al-Ghazali mengatakan bahwa seorang muslim mengimplementasikan ketaatan pada ranah masyarakat yang ia kembali kepada ketenangan diri. Artinya berbuat baik sesama muslim pada idul fitri tidak lain adalah bentuk dari penyucian diri.
Pada dasarnya makna Idul Fitri merupakan akumulasi dari kebajikan selama bulan Ramadlan. Jika seseorang berbuat baik sesama secara istiqamah ia akan memperoleh kesenangan diri. Hal ini sebagaimana dituliskan dalam firman Allah SWT “qad aflaha man tazakka”.
Menurut al-Thantawi tentang penjelasan tafsir ayat ini bahwa penyucian diri akan menyebabkan seseorang merasa senang dan bisa membagikan kesenangan kepada orang lain.
Bagai Bayi Baru Lahir
Pakar Tasawuf KH M Luqman Hakim menerangkan, anugerah agung dari Allah SWT ini diperoleh manusia setelah selama satu bulan menjalani puasa Ramadhan dengan sebenar-benarnya sehingga memperoleh derajat takwa. Takwa ini kemudian ditingkatkan di hari-hari selanjutnya.
Pendidikan Allah di bulan puasa ialah agar seseorang keluar dari kemelut kegelapan alam asfala safilin kembali ke alam ahsanu taqwim.
Lihat Juga :