Puasa, Momentum Mikraj Rohani
Sabtu, 25 April 2020 - 07:36 WIB
loading...
A
A
A
Menyikapi momentum Ramadhan yang dijalankan di tengah pandemi corona, Haedar mengajak umat Islam muhasabah, muroqobah, dan mujahadah.
"Muhasabah yakni selalu introspeksi diri kita, merefleksi diri kita, siapa tahu kita dalam perjalanan hidup ini banyak berbuat kesalahan dan sedikit amal kebajikan. Muroqobah yakni selalu dekat dengan Allah dan merasa diawasi Allah, dan mujahadah yakni selalu bersungguh-sungguh di dalam kehidupan," katanya.
Dengan penghayatan rohani yang mendalam seperti itu, kata Haedar, maka puasa Ramadan yang dijalankan akan sampai pada tangga takwa, yakni la’allakum tattaquun.
Sementara itu, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefuddin mengatakan bahwa semua kegiatan yang baik di bulan suci ini akan dilipatgandakan pahalanya. Maknanya, aktivitas yang terlihat kecil, biasa saja, misalnya mencuci tangan, duduk-duduk, baca-baca, menulis, berjemur, dan perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan dengan penuh kesadaran itu adalah ibadah. Perbuatan sekecil apa pun, kata dia, akan memberi manfaat untuk kesehatan rohani dan jasmani.
“Semuanya adalah ibadah yang pada ujungnya akan mengerem hawa nafsu dan mencapai ketakwaan. Inilah hakikat puasa,” ujarnya kepada Koran SINDO kemarin.
Guru Besar IPB ini melanjutkan, puasa sebagai upaya mencapai ketakwaan itu merupakan sarana untuk melatih hawa nafsu agar lurus kembali ke fitrah atau kesucian manusia. Dia mengatakan, secara fisik, umat Islam pun menyadari bahwa dia tidak diperbolehkan makan dan minum pada siang hari. Maknanya adalah dalam kehidupan sehari-hari pun umat Islam seharusnya tidak berperilakum konsumtif.
"Di sini, kita dilatih untuk tidak berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Bukan malah segalanya masuk pada saat buka. Bila hal ini terjadi, berarti menjaga hawa nafsu yang paling kecil pun kita tidak berhasil. Bagaimana hawa nafsu lainnya yang tidak kentara, tentu lebih sulit lagi,” ujarnya. (Neneng Zubaidah/Sindonews)
"Muhasabah yakni selalu introspeksi diri kita, merefleksi diri kita, siapa tahu kita dalam perjalanan hidup ini banyak berbuat kesalahan dan sedikit amal kebajikan. Muroqobah yakni selalu dekat dengan Allah dan merasa diawasi Allah, dan mujahadah yakni selalu bersungguh-sungguh di dalam kehidupan," katanya.
Dengan penghayatan rohani yang mendalam seperti itu, kata Haedar, maka puasa Ramadan yang dijalankan akan sampai pada tangga takwa, yakni la’allakum tattaquun.
Sementara itu, Rektor Universitas Al Azhar Indonesia Asep Saefuddin mengatakan bahwa semua kegiatan yang baik di bulan suci ini akan dilipatgandakan pahalanya. Maknanya, aktivitas yang terlihat kecil, biasa saja, misalnya mencuci tangan, duduk-duduk, baca-baca, menulis, berjemur, dan perilaku hidup bersih dan sehat yang dilakukan dengan penuh kesadaran itu adalah ibadah. Perbuatan sekecil apa pun, kata dia, akan memberi manfaat untuk kesehatan rohani dan jasmani.
“Semuanya adalah ibadah yang pada ujungnya akan mengerem hawa nafsu dan mencapai ketakwaan. Inilah hakikat puasa,” ujarnya kepada Koran SINDO kemarin.
Guru Besar IPB ini melanjutkan, puasa sebagai upaya mencapai ketakwaan itu merupakan sarana untuk melatih hawa nafsu agar lurus kembali ke fitrah atau kesucian manusia. Dia mengatakan, secara fisik, umat Islam pun menyadari bahwa dia tidak diperbolehkan makan dan minum pada siang hari. Maknanya adalah dalam kehidupan sehari-hari pun umat Islam seharusnya tidak berperilakum konsumtif.
"Di sini, kita dilatih untuk tidak berlebih-lebihan dalam mengonsumsi makanan dan minuman. Bukan malah segalanya masuk pada saat buka. Bila hal ini terjadi, berarti menjaga hawa nafsu yang paling kecil pun kita tidak berhasil. Bagaimana hawa nafsu lainnya yang tidak kentara, tentu lebih sulit lagi,” ujarnya. (Neneng Zubaidah/Sindonews)
(ysw)
Lihat Juga :