Kisah Dalam Al-Qur'an yang Terulang dan yang Tak Terulang Kembali
Jum'at, 06 Mei 2022 - 14:13 WIB
loading...
Jika Al-Quran tidak menyebut secara eksplisit nama tokoh dalam konteks kisahnya, maka peristiwa serupa dapat terulang. Sebaliknya, jika Al-Quran menyebut nama tokohnya, maka peristiwa itu tidak akan terulang. Foto/Ilustrasi : SINDOnews
A
A
A
Imam as-Sya’rawi dalam tafsirnya memformulasikan bahwa kisah dalam Al-Qur'an menjadi dua kaidah. Pertama, jika Al-Qur'an tidak menyebut secara eksplisit nama tokoh dalam konteks kisahnya, maka peristiwa serupa dapat terulang. Kedua, sebaliknya. Jika Al-Qur'an menyebut nama tokohnya, maka peristiwa itu tidak akan terulang.
Sekadar mengingatkan Imam as-Sya’rawi adalah tokoh yang menyandang gelar Mujadid Abad ke-20. Tokoh ini memiliki nama lengkap Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi. Tokoh kelahiran 16 April 1911 M ini cukup berpengaruh pada abad ke-20, baik dalam bidang keagamaan, sosial, maupun politik internasional, khususnya wilayah Timur Tengah.
Baca juga: Kisah-kisah dalam Al-Quran, Pelajaran Penting Umat Manusia
Menurut as-Sya’rawi, kaidah pertama berbunyi, “Jika Al-Qur'an tidak menyebut secara eksplisit nama tokoh, maka peristiwa serupa dapat terulang.” Sebagai contohnya adalah kisah Firaun dan bala tentaranya.
Dalam kisah itu, Allah tidak menyebutkan siapa diri Firaun yang sezaman dengan Nabi Musa itu, pada tahun berapa dan di mana latar tempat kisah itu terjadi. Demikian ini karena tujuan dari kisah itu bukan untuk mengetahui siapa sebenarnya Fir’aun, di mana dan kapan ia hidup.
Sehingga, menurut as-Sya’rawi, pengkajian kisah Firaun dengan mencari data sejarahnya dalam Al-Qur'an tidaklah penting. Apakah Firaun yang semasa dengan Nabi Musa adalah Ramses II atau Ramses keberapa. "Penelitian semacam ini hanya membuang waktu. Karena yang menjadi tujuan dari kisah dalam Al-Qur'an adalah pelajaran dari kisah tersebut," ujar ulama asal Desa Daqadus, Distrik Mith Ghamr, Provinsi Daqahlia, Republik Arab Mesir ini.
Sosok Firaun oleh as-Sya’rawi digambarkan sebagai orang yang zalim dan menuhankan dirinya, ia berkata “akulah Tuhanmu yang tertinggi” ( QS An Nazi’at [79] : 24).
Kezalimannya terhadap Bani Israil berupa penindasan yang sangat kejam dan membunuh bayi laki-laki yang terlahir dari kaum mereka ( QS Al Baqarah [2] : 49, QS Al A’raf 7 : 141, QS Ibrahim [14] : 6), karena ia takut kehilangan kekuasaannya setelah bermimpi akan datang seorang anak dari kalangan Bani Israil yang mampu menggulingkan tahtanya. Namun akhirnya Firaun dengan para pengikutnya musnah ditenggelamkan oleh Allah dan diberikan balasan siksa di dunia dan akhirat (QS An Nazi’at [79]: 25).
Baca juga: Kisah si Kafir Abu Jahal Mencuri Dengar Rasulullah SAW Membaca Al-Quran
Kisah Firaun tersebut memberi pelajaran bahwa di sepanjang zaman akan ada orang-orang yang menuhankan dirinya, dan orang-orang diktaktor yang berlaku zalim sebagimana dilakukan oleh Firaun.
Sekadar mengingatkan Imam as-Sya’rawi adalah tokoh yang menyandang gelar Mujadid Abad ke-20. Tokoh ini memiliki nama lengkap Syaikh Muhammad Mutawalli Asy-Sya'rawi. Tokoh kelahiran 16 April 1911 M ini cukup berpengaruh pada abad ke-20, baik dalam bidang keagamaan, sosial, maupun politik internasional, khususnya wilayah Timur Tengah.
Baca juga: Kisah-kisah dalam Al-Quran, Pelajaran Penting Umat Manusia
Menurut as-Sya’rawi, kaidah pertama berbunyi, “Jika Al-Qur'an tidak menyebut secara eksplisit nama tokoh, maka peristiwa serupa dapat terulang.” Sebagai contohnya adalah kisah Firaun dan bala tentaranya.
Dalam kisah itu, Allah tidak menyebutkan siapa diri Firaun yang sezaman dengan Nabi Musa itu, pada tahun berapa dan di mana latar tempat kisah itu terjadi. Demikian ini karena tujuan dari kisah itu bukan untuk mengetahui siapa sebenarnya Fir’aun, di mana dan kapan ia hidup.
Sehingga, menurut as-Sya’rawi, pengkajian kisah Firaun dengan mencari data sejarahnya dalam Al-Qur'an tidaklah penting. Apakah Firaun yang semasa dengan Nabi Musa adalah Ramses II atau Ramses keberapa. "Penelitian semacam ini hanya membuang waktu. Karena yang menjadi tujuan dari kisah dalam Al-Qur'an adalah pelajaran dari kisah tersebut," ujar ulama asal Desa Daqadus, Distrik Mith Ghamr, Provinsi Daqahlia, Republik Arab Mesir ini.
Sosok Firaun oleh as-Sya’rawi digambarkan sebagai orang yang zalim dan menuhankan dirinya, ia berkata “akulah Tuhanmu yang tertinggi” ( QS An Nazi’at [79] : 24).
Kezalimannya terhadap Bani Israil berupa penindasan yang sangat kejam dan membunuh bayi laki-laki yang terlahir dari kaum mereka ( QS Al Baqarah [2] : 49, QS Al A’raf 7 : 141, QS Ibrahim [14] : 6), karena ia takut kehilangan kekuasaannya setelah bermimpi akan datang seorang anak dari kalangan Bani Israil yang mampu menggulingkan tahtanya. Namun akhirnya Firaun dengan para pengikutnya musnah ditenggelamkan oleh Allah dan diberikan balasan siksa di dunia dan akhirat (QS An Nazi’at [79]: 25).
Baca juga: Kisah si Kafir Abu Jahal Mencuri Dengar Rasulullah SAW Membaca Al-Quran
Kisah Firaun tersebut memberi pelajaran bahwa di sepanjang zaman akan ada orang-orang yang menuhankan dirinya, dan orang-orang diktaktor yang berlaku zalim sebagimana dilakukan oleh Firaun.
Lihat Juga :