Tangis Si Kecil di Tengah Malam yang Mengaduk-aduk Perasaan Bunda
Rabu, 24 Juni 2020 - 18:10 WIB
loading...
A
A
A
"Wahai ibu, jangan beritahukan kepada siapapun, aku telah membunuh jiwaku dengan dosa-dosa," jawab ar-Rabi.
Beliau adalah murid dari Abdullah bin Masud, sahabat Rasulullah SAW. Dialah murid yang paling banyak meneladani sikap dan perilakunya. Hubungan ar-Rabi dengan gurunya layaknya seorang anak dengan ibunya.
Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)
Kecintaan guru terhadap muridnya laksana kasih sayang seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Ar-Rabi biasa keluar masuk rumah gurunya tanpa harus meminta izin. Bila dia datang, maka yang lain tidak diizinkan masuk sebelum ar-Rabi keluar.
Ibnu Masud merasakan ketulusan dan keikhlasan ar-Rabi. Kebagusan ibadahnya yang memancar kuat di hatinya, rasa kecewanya lantaran tertinggal dari zaman Nabi, sehingga tidak mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu sahabat beliau.
Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Ibnu Masud berkata kepadanya: "Wahai Abu Yazid, seandainya Rasulullah melihatmu, tentulah beliau mencintaimu."
Beliau juga berkata, "Setiap kali melihatmu, aku teringat pada para mukhbitin [orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah].”
Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Masud tidaklah berlebihan. Rabi bin Khutsaim telah mampu mencapai kesederhanaan dan ketakwaan yang jarang bisa dilakukan oleh orang lain dan selalu diunggulkan dalam berita-berita yang mengharumkan lembaran sejarah.
Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala
Seorang temannya berkata, "Sudah 20 tahun aku berteman dengan ar-Rabi, namun belum pernah kudengar dia mengucapkan suatu perkataan kecuali perkataan yang naik kepada Allah, lalu beliau membaca:
نْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS Fathir: 10)
Baca juga: Dulu Haram Kini Halal: Niat Mencuri Malah Dapat Istri
Abdurrahman bin Ajlan bercerita: "Suatu malam aku menginap di rumah ar-Rabi. Ketika dia merasa yakin bahwa aku telah tertidur, beliau bangun lalu salat sambil membaca ayat:
Beliau adalah murid dari Abdullah bin Masud, sahabat Rasulullah SAW. Dialah murid yang paling banyak meneladani sikap dan perilakunya. Hubungan ar-Rabi dengan gurunya layaknya seorang anak dengan ibunya.
Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)
Kecintaan guru terhadap muridnya laksana kasih sayang seorang ibu terhadap anak tunggalnya. Ar-Rabi biasa keluar masuk rumah gurunya tanpa harus meminta izin. Bila dia datang, maka yang lain tidak diizinkan masuk sebelum ar-Rabi keluar.
Ibnu Masud merasakan ketulusan dan keikhlasan ar-Rabi. Kebagusan ibadahnya yang memancar kuat di hatinya, rasa kecewanya lantaran tertinggal dari zaman Nabi, sehingga tidak mendapat kesempatan untuk menjadi salah satu sahabat beliau.
Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Ibnu Masud berkata kepadanya: "Wahai Abu Yazid, seandainya Rasulullah melihatmu, tentulah beliau mencintaimu."
Beliau juga berkata, "Setiap kali melihatmu, aku teringat pada para mukhbitin [orang-orang yang tunduk patuh kepada Allah].”
Apa yang dikatakan oleh Abdullah bin Masud tidaklah berlebihan. Rabi bin Khutsaim telah mampu mencapai kesederhanaan dan ketakwaan yang jarang bisa dilakukan oleh orang lain dan selalu diunggulkan dalam berita-berita yang mengharumkan lembaran sejarah.
Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala
Seorang temannya berkata, "Sudah 20 tahun aku berteman dengan ar-Rabi, namun belum pernah kudengar dia mengucapkan suatu perkataan kecuali perkataan yang naik kepada Allah, lalu beliau membaca:
نْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا ۚ إِلَيْهِ يَصْعَدُ الْكَلِمُ الطَّيِّبُ وَالْعَمَلُ الصَّالِحُ يَرْفَعُهُ ۚ وَالَّذِينَ يَمْكُرُونَ السَّيِّئَاتِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۖ وَمَكْرُ أُولَٰئِكَ هُوَ يَبُورُ
Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. Kepada-Nya-lah naik perkataan-perkataan yang baik dan amal yang saleh dinaikkan-Nya. Dan orang-orang yang merencanakan kejahatan bagi mereka azab yang keras. Dan rencana jahat mereka akan hancur. (QS Fathir: 10)
Baca juga: Dulu Haram Kini Halal: Niat Mencuri Malah Dapat Istri
Abdurrahman bin Ajlan bercerita: "Suatu malam aku menginap di rumah ar-Rabi. Ketika dia merasa yakin bahwa aku telah tertidur, beliau bangun lalu salat sambil membaca ayat:
Lihat Juga :