Tangis Si Kecil di Tengah Malam yang Mengaduk-aduk Perasaan Bunda
Rabu, 24 Juni 2020 - 18:10 WIB
loading...
A
A
A
أَمْ حَسِبَ الَّذِينَ اجْتَرَحُوا السَّيِّئَاتِ أَنْ نَجْعَلَهُمْ كَالَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ سَوَاءً مَحْيَاهُمْ وَمَمَاتُهُمْ ۚ سَاءَ مَا يَحْكُمُونَ
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (QS Al-Jatsiyah: 21)
Baca juga: 3 Karomah Utsman Bin Affan, Sahabat Berjuluk Dzun Nurain
Beliau menghabiskan sepanjang malamnya untuk salat dan mengulang-ulang ayat tersebut hingga fajar, sementara air mata membahasi kedua pipinya.
Berita tentang rasa takut Rabi bin Khutsaim kepada Allah begitu banyak, di antara contohnya adalah yang dikisahkan salah seorang kawannya.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
"Suatu hari kami pergi menyertai Abdullah bin Masud ke suatu tempat bersama ar-Rabi bin Khutsaim," katanya. "Tatkala perjalanan kami sampai di tepi sungai Eufrat, kami melewati suatu perapian besar tempat membakar batu bata. Apinya menyala berkobar-kobar, terbayang akan kengeriannya, semburan apinya menjilat dengan dahsyatnya, gemuruh suara percikan apinya dan gemertak batu bata yang sudah dimasukkan ke dalamnya."
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Tatkala melihat pemandangan itu, ar-Rabi terpaku di tempatnya, tubuhnya mengigil dengan hebatnya lalu beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Taala:
إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا
وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا
"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan." (QS Al-Furqan: 12-13)
Baca juga: Kisah Al-Ghafiqi, Terulangnya Tragedi Uhud yang Memilukan
"Hingga akhirnya beliau pingsan. Kami merawatnya hingga sadar kembali lalu membawanya pulang ke rumahnya,"
Ar-Rabi mengisi seluruh hidupnya untuk menanti kematian dan mempersiapkan bekal untuk menjumpainya. Pada saat ajal mendekatinya, putrinya menangis, lalu beliau berkata, "Apa yang membuatmu menangis Wahai purtiku, padahal kebaikan tengah menanti di hadapan ayahmu?" Sebentar kemudian ruhnya kembali kehariban Rabb-nya.(Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah )
Apakah orang-orang yang membuat kejahatan itu menyangka bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, yaitu sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka sangka itu. (QS Al-Jatsiyah: 21)
Baca juga: 3 Karomah Utsman Bin Affan, Sahabat Berjuluk Dzun Nurain
Beliau menghabiskan sepanjang malamnya untuk salat dan mengulang-ulang ayat tersebut hingga fajar, sementara air mata membahasi kedua pipinya.
Berita tentang rasa takut Rabi bin Khutsaim kepada Allah begitu banyak, di antara contohnya adalah yang dikisahkan salah seorang kawannya.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
"Suatu hari kami pergi menyertai Abdullah bin Masud ke suatu tempat bersama ar-Rabi bin Khutsaim," katanya. "Tatkala perjalanan kami sampai di tepi sungai Eufrat, kami melewati suatu perapian besar tempat membakar batu bata. Apinya menyala berkobar-kobar, terbayang akan kengeriannya, semburan apinya menjilat dengan dahsyatnya, gemuruh suara percikan apinya dan gemertak batu bata yang sudah dimasukkan ke dalamnya."
Baca juga: 4 Perkara Syarat Diterimanya Amal Saleh dan Digandakan Pahalanya
Tatkala melihat pemandangan itu, ar-Rabi terpaku di tempatnya, tubuhnya mengigil dengan hebatnya lalu beliau membaca firman Allah Subhanahu wa Taala:
إِذَا رَأَتْهُمْ مِنْ مَكَانٍ بَعِيدٍ سَمِعُوا لَهَا تَغَيُّظًا وَزَفِيرًا
وَإِذَا أُلْقُوا مِنْهَا مَكَانًا ضَيِّقًا مُقَرَّنِينَ دَعَوْا هُنَالِكَ ثُبُورًا
"Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka mendengar kegeramannya dan suara nyalanya. Dan apabila mereka dilemparkan ke tempat yang sempit di neraka itu dengan dibelenggu, mereka di sana mengharapkan kebinasaan." (QS Al-Furqan: 12-13)
Baca juga: Kisah Al-Ghafiqi, Terulangnya Tragedi Uhud yang Memilukan
"Hingga akhirnya beliau pingsan. Kami merawatnya hingga sadar kembali lalu membawanya pulang ke rumahnya,"
Ar-Rabi mengisi seluruh hidupnya untuk menanti kematian dan mempersiapkan bekal untuk menjumpainya. Pada saat ajal mendekatinya, putrinya menangis, lalu beliau berkata, "Apa yang membuatmu menangis Wahai purtiku, padahal kebaikan tengah menanti di hadapan ayahmu?" Sebentar kemudian ruhnya kembali kehariban Rabb-nya.(Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah )
(mhy)
Lihat Juga :