Nasehat Mahal dan Menyentuh dari Tabiin Syaikh Ar-Rabi bin Khutsaim

Kamis, 25 Juni 2020 - 13:15 WIB
loading...
A A A
قُلِ اللَّهُمَّ فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِي مَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ

"Katakanlah, Wahai Allah, pencipta langit dan bumi, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, Engkaulah yang memutuskan antara hamba-hamba-Mu tentang apa yang selalu mereka perselisihkan." (QS. Az-Zumar: 46)

Baca juga
: Kisah Al-Ghafiqi, Terulangnya Tragedi Uhud yang Memilukan

Akan tetapi, rupanya orang itu belum puas dengan reaksi Syaikh, sehingga dia bertanya, "Bagaimana pendapat Anda tentang pembunuhnya?" Beliau berkata, "Kepada Allah dia kembali dan menjadi hak perhitungannya."

Setelah Hilal melihat waktu hampir memasuki zuhur, ia berkata, "Wahai Syaikh, berilah aku nasihat."

"Wahai Hilal, janganlah engkau terpedaya dengan banyaknya sanjungan orang terhadapmu, sebab orang-orang tidak mengetahui siapa dirimu yang sebenarnya, melainkan hanya melihat lahiriahmu saja. Ketahuilah, sesungguhnya engkau tergantung pada amalanmu, setiap amalan yang dikerjakan bukan karena Allah Subhanahu wa Taala akan sia-sia," nasehatnya.

Selanjutnya Mundzir juga meminta hal yang sama. "Berilah wasiat kepadaku juga, semoga Allah membalas kebaikan Anda," katanya.

"Wahai Mundzir, bertakwalah kepada Allah Subhanahu wa Taala terhadap ilmu yang telah kau ketahui dan yang masih tersembunyi bagimu, serahkanlah kepada yang mengetahuinya".

"Wahai Mundzir jangan sekali-kali salah satu dari kalian berdoa: 'Ya Allah, aku telah bertaubat', lalu tidak melakukannya, sebab dia dianggap dusta. Tapi katakanlah: 'Ya Allah, ampunilah aku', maka itu akan menjadi doa."

"Ketahuilah wahai Mundzir, tidak ada kebaikan dalam ucapan melainkan untuk tahlil, tahmid, takbir, dan tasbih kepada Allah, kemudian bertanya tentang kebaikan, menjaga dari kejahatan, menyeru yang maruf, mencegah dari yang mungkar, dan membaca Alquran."

Baca juga: 3 Karomah Utsman Bin Affan, Sahabat Berjuluk Dzun Nurain

Mundzir mendengarkan dengan khidmat. Namun ada sesuatu yang terasa kurang. "Telah lama kami duduk bersama Anda, namun sedikit pun kami tidak mendengar ucapan syair dari Anda, sedangkan kami melihat sebagian dari sahabat Anda mengucapkannya," tanyanya.

"Tak ada sepatah katapun yang aku ucapkan kecuali akan dicatat di dunia dan kelak akan dibacakan di akhirat. Aku tidak suka mendapatkan bukuku dibacakan di hari kiamat sedangkan di dalamnya ada kata-kata syair," jawanya kemudian beliau memperhatikan kedua tamunya itu dan berkata, "Perbanyaklah mengingat mati, karena ia adalah perkara ghaib yang amat dekat tiba saatnya. Sesuatu yang ghaib meskipun lama waktunya, pasti serasa dekat ketika datangnya."

Beliau terisak menangis sambil berkata terbata-bata, "Apa yang akan kita perbuat kelak tatkala ...." ujarnya, kemudian membaca firman Allah:

كَلَّاۤ اِذَا دُكَّتِ الۡاَرۡضُ دَكًّا دَكًّا
وَّجَآءَ رَبُّكَ وَالۡمَلَكُ صَفًّا صَفًّا
وَجِاىْٓءَ يَوۡمَٮِٕذٍۢ بِجَهَنَّمَ ۙ‌ يَوۡمَٮِٕذٍ يَّتَذَكَّرُ الۡاِنۡسَانُ وَاَنّٰى لَـهُ الذِّكۡرٰىؕ

"Jangan (berbuat demikian). Apabila bumi digoncangkan berturut-turut, dan datanglah Tuhanmu; sedang malaikat berbaris-baris. Dan pada hari itu diperlihatkan neraka Jahannam; dan pada hari itu ingatlah manusia akan tetapi tidak berguna lagi mengingat itu baginya." (QS. Al-Fajar: 21-23)

Belum lagi beliau selesai bicara, terdengar suara azan zuhur. Bersamaan dengan itu putranya datang, lalu Syaikh berkata kepadanya, "Mari kita sambut panggilan Allah."

Baca juga: Kisah Khalifah Umar bin Abdul Aziz dan Putranya Saat Merayakan Hari Raya

Putranya berkata kepada kami, "Tolong bantu saya untuk memapah beliau ke masjid. Semoga Allah Subhanahu wa Taala membalas kebaikan kepada kalian."

Kemudian mereka memapahnya bersama-sama sehingga beliau bisa bergantung di antara Hila dan putranya pada saat berjalan.

"Wahai Abu Yazid, sesungguhnya Allah Subhanahu wa Taala memberi rukhsah (keringanan) bagi Anda untuk boleh salat di rumah," Mundzir seakan mengingatkan.

"Memang benar apa yang Anda katakan, akan tetapi aku mendengar seruan, 'Marilah menuju kemenangan!' Barangsiapa mendengar seruan itu hendaknya mendatanginya walau harus dengan merangkak," jawabnya. (Baca juga: Zubair: Orang Pertama yang Menghunuskan Pedang di Jalan Allah )
(mhy)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!
Artikel Terkait
Kisah Hikmah : Perempuan...
Kisah Hikmah : Perempuan yang Sering Menangis karena Allah
Kisah Hikmah : Rumah...
Kisah Hikmah : Rumah dan Tamunya yang Mencari Jalan
Kisah Hikmah : Roti...
Kisah Hikmah : Roti dan Permata, Ketika Takdir Telah Campur Tangan
Kisah Sahabat Nabi :...
Kisah Sahabat Nabi : Wafat Seorang Diri dan Kelak Dibangkitkan Sendirian
Nasihat Penuh Hikmah...
Nasihat Penuh Hikmah Tabi'in Hasan Al-Bashri kepada Pejabat Tinggi
Tokoh-tokoh Tabiin yang...
Tokoh-tokoh Tabiin yang Melakukan Ijtihad sebelum Mazhab-Mazhab
Rekomendasi
7 Lapisan Langit, Ternyata...
7 Lapisan Langit, Ternyata Sudah Jelas di Al-Qur'an
Masuk ke Sumur Neraka...
Masuk ke Sumur Neraka Yaman, Penjelajah Gua Temukan Mahluk Tak Terduga
Peneliti Temukan Fakta...
Peneliti Temukan Fakta Mengejutkan Belut Listrik di Hutan Amazon
Artikel Terkini
Teladan Rasulullah SAW...
Teladan Rasulullah SAW kepada Tetangga: Akhlak Mulia yang Tetap Relevan hingga Kini
5 Adab Bertetangga dalam...
5 Adab Bertetangga dalam Islam, Lengkap dengan Dalilnya
Orang yang Mengganggu...
Orang yang Mengganggu Tetangganya Bukan Mukmin, Ini Dalil Hadis dan Penjelasan Ulama
Butuh 7 Hari, CQF Bangun...
Butuh 7 Hari, CQF Bangun Masjid Pertama Asmaul Husna di Aceh Tamiang
Kasus Teror Tetangga...
Kasus Teror Tetangga Viral, Begini Hak Tetangga Menurut Al-Qur'an dan Hadis
Mengapa Surat Al-Fatihah...
Mengapa Surat Al-Fatihah Disebut Induk Al-Qur'an? Ini Makna dan Keistimewaannya
Infografis
Fakta Fenomena Hujan...
Fakta Fenomena Hujan Meteor Berbahaya Bagi Bumi dan Manusia
Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved