Tauhid: Kata Allah Tak Digunakan pada Wahyu Pertama, Begini Penjelasan Quraish Shihab

loading...
Tauhid: Kata Allah Tak Digunakan pada Wahyu Pertama, Begini Penjelasan Quraish Shihab
Uraian Al-Quran tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad SAW dimulai dengan pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya. Foto/Ilustrasi: Dok. SINDOnews
Quraish Shihab mengatakan walaupun semua nabi membawa ajaran tauhid , terlihat melalui ayat-ayat Al-Qur'an bahwa ada perbedaan dalam pemaparan mereka tentang prinsip tauhid.

"Jelas sekali bahwa Nabi Muhammad SAW, melalui Al-Qur'an diperkaya oleh Allah dengan aneka penjelasan dan bukti, serta jawaban yang membungkam siapa pun yang mempersekutukan Tuhan," ujar Quraish Shihab dalam bukunya yang berjudul " Wawasan Al-Quran , Tafsir Maudhu'i atas Pelbagai Persoalan Umat".

Baca juga: Kisah Nabi Ibrahim Mengajarkan Agama Tauhid

Menurut Quraish Shihab, Allah SWT menyesuaikan tuntunan yang dianugerahkan kepada para Nabi-Nya sesuai dengan tingkat kedewasaan berpikir umat mereka.

Uraian Al-Qur'an tentang Tuhan kepada umat Nabi Muhammad SAW dimulai dengan pengenalan tentang perbuatan dan sifat-Nya. Ini terlihat secara jelas ketika wahyu pertama turun.

"Bacalah demi Tuhan-Mu yang menciptakan (segala sesuatu). Dia telah menciptakan manusia dari 'alaq. Bacalah dan Tuhan-mulah yang (bersifat) Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan qalam, mengajar manusia apa yang tidak diketahui(-nya)" ( QS Al-'Alaq [96] : 1-5).

Menurut Quraish, dalam rangkaian wahyu-wahyu pertama, Al-Quran menunjuk kepada kepada Tuhan Yang Maha Esa dengan kata Rabbuka (Tuhan) Pemeliharamu (Wahai Muhammad), bukan kata "Allah."

Hal ini untuk menggarisbawahi Wujud Tuhan Yang Maha Esa, yang dapat dibuktikan melalui ciptaan atau perbuatan-Nya.

Dari satu sisi memang dikenal satu ungkapan yang oleh sementara pakar dinilai sebagai hadis Qudsi yang berbunyi: "Aku adalah sesuatu yang tersembunyi, Aku berkehendak untuk dikenal, maka Kuciptakan makhluk agar mereka mengenal-Ku."

Di sisi lain, tidak digunakannya kata "Allah" pada wahyu-wahyu pertama itu, adalah dalam rangka meluruskan keyakinan kaum musyrik, karena mereka juga menggunakan kata "Allah" untuk menunjuk kepada Tuhan, namun keyakinan mereka tentang Allah berbeda dengan keyakinan yang diajarkan oleh Islam.

Mereka misalnya beranggapan bahwa ada hubungan antara "Allah" dan jin ( QS Al-Shaffat [37] : 158), dan bahwa Allah memiliki anak-anak wanita ( QS Al-Isra' [17] : 40), serta manusia tidak mampu berhubungan dan berdialog dengan Allah, karena Dia demikian tinggi dan suci, sehingga para malaikat dan berhala-berhala perlu disembah sebagai perantara-perantara antara mereka dengan Allah ( QS Al-Zumar [39] : 3)

Baca juga: Beda Ajaran Tauhid Nabi Ibrahim dan Nabi Sebelumnya

Dan kekeliruan-kekeliruan itu, maka Al-Qur'an melakukan pelurusan-pelurusan yang dipaparkannya dengan berbagai gaya bahasa, cara dan bukti. Sekali dengan pernyataan tegas yang didahului dengan sumpah, misalnya:

"Demi (rombongan) yang bershaf-shaf dengan sebenar-benarnya, dan demi (rombongan) yang melarang (perbuatan durhaka) dengan sebenar-benamya, dan demi (rombongan) yang membacakan pelajaran. Sesungguhnya Tuhanmu benar-benar Esa, Tuhan langit dan bumi serta apa yang ada di antara keduanya, dan Tuhan tempat-tempat terbitnya matahari" (QS Al-Shaffat [37]: 1-5).

Dalam ayat lain diajukan pertanyaan yang mengandung kecaman,

"Manakah yang baik, tuhan-tuhan yang banyak bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa?" ( QS Yusuf [12] : 39).

Kemudian Al-Qur'an juga menggunakan gaya perumpamaan, seperti:

"Perumpamaan orang-orang yang mengambil pelindung-pelindung selain Allah adalah seperti laba-laba yang membuat rumah. Sesungguhnya rumah yang paling rapuh adalah rumah laba-laba, kalau mereka mengetahui" ( QS Al-'Ankabut [29] : 41).

Baca juga: Islam, Agama Tauhid yang Memuliakan Perempuan

Quraish menjelaskan, ayat ini memberi perumpamaan mengenai orang-orang yang meminta perlindungan kepada selain Allah, sebagai serangga yang berlindung ke sarang laba-laba.

Serangga itu tentu akan terjerat menjadi mangsa laba-laba, dan bukannya terlindung olehnya. Bahkan jangankan serangga yang berlainan jenisnya, yang satu jenis pun seperti jantan laba-laba, berusaha diterkam oleh laba-laba betina begitu mereka selesai berhubungan seks. Kemudian telur-telur laba-laba yang baru saja menetas, saling tindih-menindih sehingga yang menjadi korban adalah yang tertindih.

Dalam kesempatan lain, Al-Qur'an memaparkan kisah-kisah yang bertujuan menegakkan tauhid, seperti kisah Nabi Ibrahim ketika memorak-porandakan berhala-berhala kaumnya (QS Al-Anbiya' [21]: 51-71)

Baca juga: Mewarnai Sendi-Sendi Kehidupan dengan Tauhid
(mhy)
preload video