Ibadah Haji: Haruskah Mencium Hajar Aswad dan Mengusap Rukun Yamani?
Rabu, 06 Juli 2022 - 17:36 WIB
loading...
Hajar Aswad: Mencium batu hitam ini karena mengikuti hal yang dilakukan Rasulullah SAW. Foto/Ilustrasi: Ist
A
A
A
Imam al-Bukhâri dan Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Abdullah bin Umar ra :
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَقْدَمُ مَكَّةَ اسْتَلَمَ الرُّكْنَ الأَسْوَدَ أَوَّلَ مَا يَطُوفُ حِينَ يَقْدَمُ يَخُبُّ ثَلاثَةَ أَطْوَافٍ مِنَ السَّبْعِ
Aku pernah melihat Rasulullah SAW ketika tiba di Mekkah jika telah mengusap Hajar Aswad , diawal ibadah thawaf , Beliau SAW mempercepat langkah pada tiga putaran (pertama) dari tujuh putaran. [Shahîh al-Bukhâri, no. 1603 dan Shahîh Muslim, no. 1261]
Lalu, Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Jabir bin Abdullah ra, beliau mengatakan:
لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَاسْتَلَمَ الْحَجَرَ ثُمَّ مَضَى عَنْ يَمِينِهِ فَرَمَلَ ثَلاثًا وَمَشَى أَرْبَعًا
Ketika Nabi SAW tiba di Mekkah, Beliau SAW memasuki masjidil Haram lalu mengusap Hajar Aswad, kemudian Beliau SAW berlalu di arah sebelah kanan Hajar Aswad. Beliau SAW berlari kecil pada tiga putaran dan berjalan pada empat putaran …[Shahîh Muslim, 2/893]
Baca juga: Menakjubkan, Indahnya Hajar Aswad Dilihat dari Jarak Dekat
Inilah yang menjadi pegangan kaum Muslimin dalam mencium Hajar Aswad atau mengusapnya. Mereka melakukan itu dalam rangka mengikuti Rasulullah SAW dan menjadikan Beliau sebagai suri tauladan, bukan karena meyakini bahwa Hajar Aswad bisa mendatangkan manfaat atau bisa mendatangkan celaka.
Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab ra mengatakan:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
Sesugguhnya saya tahu bahwa kamu itu hanya sebongkah batu yang tidak bisa mendatangkan manfaat juga tidak bisa mendatangkan bahaya. Kalau bukan karena saya melihat Rasulullah SAW menciummu, maka saya tidak akan menciummu. [HR Al-Bukhâri dan Muslim]
رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حِينَ يَقْدَمُ مَكَّةَ اسْتَلَمَ الرُّكْنَ الأَسْوَدَ أَوَّلَ مَا يَطُوفُ حِينَ يَقْدَمُ يَخُبُّ ثَلاثَةَ أَطْوَافٍ مِنَ السَّبْعِ
Aku pernah melihat Rasulullah SAW ketika tiba di Mekkah jika telah mengusap Hajar Aswad , diawal ibadah thawaf , Beliau SAW mempercepat langkah pada tiga putaran (pertama) dari tujuh putaran. [Shahîh al-Bukhâri, no. 1603 dan Shahîh Muslim, no. 1261]
Lalu, Imam Muslim meriwayatkan hadis dari Jabir bin Abdullah ra, beliau mengatakan:
لَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَكَّةَ دَخَلَ الْمَسْجِدَ فَاسْتَلَمَ الْحَجَرَ ثُمَّ مَضَى عَنْ يَمِينِهِ فَرَمَلَ ثَلاثًا وَمَشَى أَرْبَعًا
Ketika Nabi SAW tiba di Mekkah, Beliau SAW memasuki masjidil Haram lalu mengusap Hajar Aswad, kemudian Beliau SAW berlalu di arah sebelah kanan Hajar Aswad. Beliau SAW berlari kecil pada tiga putaran dan berjalan pada empat putaran …[Shahîh Muslim, 2/893]
Baca juga: Menakjubkan, Indahnya Hajar Aswad Dilihat dari Jarak Dekat
Inilah yang menjadi pegangan kaum Muslimin dalam mencium Hajar Aswad atau mengusapnya. Mereka melakukan itu dalam rangka mengikuti Rasulullah SAW dan menjadikan Beliau sebagai suri tauladan, bukan karena meyakini bahwa Hajar Aswad bisa mendatangkan manfaat atau bisa mendatangkan celaka.
Amirul Mukminin Umar bin al-Khattab ra mengatakan:
إِنِّي أَعْلَمُ أَنَّكَ حَجَرٌ لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ وَلَوْلَا أَنِّي رَأَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُقَبِّلُكَ مَا قَبَّلْتُكَ
Sesugguhnya saya tahu bahwa kamu itu hanya sebongkah batu yang tidak bisa mendatangkan manfaat juga tidak bisa mendatangkan bahaya. Kalau bukan karena saya melihat Rasulullah SAW menciummu, maka saya tidak akan menciummu. [HR Al-Bukhâri dan Muslim]
Lihat Juga :