Kisah Tabiin Cerdas Iyas Bin Mu’awiyah Al-Muzanni
Jum'at, 26 Juni 2020 - 10:23 WIB
loading...
A
A
A
“Celaka benar orang-orang berjenggot ini, apakah di sini tidak ada lagi orang tua yang bisa memimpin, sampai anak sekecil ini dijadikan pemimpin mereka?” ujar Abdul Malik, lalu menoleh kepada Iyas dan bertanya, “Berapa usiamu wahai anak muda?”
Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)
“Usiaku sama dengan usia Usamah bin Zaid saat diangkat oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam sebagai panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar wahai Amir –semoga Allah memanjangkan umur Anda.”
“Kemari, kemarilah wahai anak muda, semoga Allah memberkatimu,” sambut Abdul Malik kemudian.
Melihat Hilal
Di suatu tahun, orang-orang keluar untuk mencari Hilal Ramadhan dipimpin langsung oleh sahabat utama Anas bin Malik al-Anshari. Ketika itu beliau telah berusia senja dan hampir mencapai umur 100 tahun.
Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Orang-orang memperhatikan seluruh penjuru langit, namun tidak menemukan apa-apa di langit. Akan tetapi, Anas terus mencari-cari lalu berkata, “Aku telah melihat Hilal, itu dia!” sambil menunjuk dengan tangannya ke langit, padahal tidak seorangpun melihatnya selain beliau.
Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala
Ketika itu Iyas memperhatikan Anas Radhiyallahu’anhu ternyata ada sehelai rambut panjang yang berada di alisnya hingga menjulur ke pelupuk matanya. Dengan santun dia meminta izin untuk merapihkan rambut Anas yang terjulur itu lalu bertanya, “Apakah Anda masih melihat Hilal itu wahai shahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam.”
Baca juga: Dulu Haram Kini Halal: Niat Mencuri Malah Dapat Istri
“Tidak! Aku tidak melihatnya… Aku tidak melihatnya…” kata Anas.
Tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas. Orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula hendak berdebat kusir.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Di antara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah dan di kalangan Persi dahulu) yang datang ke majelisnya dan bertanya,
“Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?” tanya Duhqan.
“Haram!” jawab Iyas singkat.
Baca juga: Kisah Tabi’in Amir bin Abdillah At-Tamimi (1)
“Usiaku sama dengan usia Usamah bin Zaid saat diangkat oleh Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam sebagai panglima pasukan yang di dalamnya ada Abu Bakar dan Umar wahai Amir –semoga Allah memanjangkan umur Anda.”
“Kemari, kemarilah wahai anak muda, semoga Allah memberkatimu,” sambut Abdul Malik kemudian.
Melihat Hilal
Di suatu tahun, orang-orang keluar untuk mencari Hilal Ramadhan dipimpin langsung oleh sahabat utama Anas bin Malik al-Anshari. Ketika itu beliau telah berusia senja dan hampir mencapai umur 100 tahun.
Baca juga: Di Kaki Ka'bah, Tatkala Khalifah Meminta Fatwa dari Bekas Budak
Orang-orang memperhatikan seluruh penjuru langit, namun tidak menemukan apa-apa di langit. Akan tetapi, Anas terus mencari-cari lalu berkata, “Aku telah melihat Hilal, itu dia!” sambil menunjuk dengan tangannya ke langit, padahal tidak seorangpun melihatnya selain beliau.
Baca juga: Ridha Dengan Bala untuk Meraih Cinta Allah Ta'ala
Ketika itu Iyas memperhatikan Anas Radhiyallahu’anhu ternyata ada sehelai rambut panjang yang berada di alisnya hingga menjulur ke pelupuk matanya. Dengan santun dia meminta izin untuk merapihkan rambut Anas yang terjulur itu lalu bertanya, “Apakah Anda masih melihat Hilal itu wahai shahabat Rasulullah Sholallahu ‘alaihi wasalam.”
Baca juga: Dulu Haram Kini Halal: Niat Mencuri Malah Dapat Istri
“Tidak! Aku tidak melihatnya… Aku tidak melihatnya…” kata Anas.
Tersebarlah berita tentang kecerdasan Iyas. Orang-orang berdatangan kepadanya dari berbagai penjuru untuk bertanya tentang ilmu dan agama. Sebagian ingin belajar, sebagian lagi ada yang ingin menguji dan ada pula hendak berdebat kusir.
Baca juga: Amalan Yang Bisa Menjadi Dosa Bagi Seorang Istri
Di antara mereka ada Duhqan (seperti jabatan lurah dan di kalangan Persi dahulu) yang datang ke majelisnya dan bertanya,
“Wahai Abu Wa’ilah, bagaimana pendapatmu tentang minuman yang memabukkan?” tanya Duhqan.
“Haram!” jawab Iyas singkat.
Lihat Juga :