Sudah Mabrurkah Haji Anda? Teliti Kembali Tawaf yang Telah Dilakukan

loading...
Sudah Mabrurkah Haji Anda? Teliti Kembali Tawaf yang Telah Dilakukan
Ketika engkau mengelilingi Kakbah, apakah engkau sudah memandangi keindahan nonmateriil Tuhan di tempat-Nya yang suci? Foto/Ilustrasi: Ist
Suatu hari, datanglah seorang laki-laki ke hadapan Imam Junaid al-Baghdadi . Lelaki ini baru saja pulang haji . Maka sang Imam pun bertanya seputar apa yang sudah dilakukan lelaki itu selama berhaji.

“Ketika engkau mengelilingi Kakbah (tawaf), apakah engkau sudah memandangi keindahan nonmateriil Tuhan di tempat-Nya yang suci?” tanya Imam Junaid al-Baghdadi.

“Tidak,” jawab lelaki itu.

“Berarti engkau tidak mengelilingi Kakbah,” ujar Imam Junaid.

Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Mari Kita Teliti Kembali Niat dan Pakaian Ihram

Tawaf adalah mengelilingi Kakbah yang berputar dengan berlawanan arah jarum jam. Kakbah yang menghadap ke segala arah melambangkan universitalitas dan kemutlakan Tuhan; suatu sifat Tuhan yang tidak berpihak tetapi merahmati seluruh alam

Allah SWT berfirman:

وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ

Artinya: Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam. ( QS Al-Anbiya [21] : 107).

Nurcholish Madjid dalam buku berjudul "Perjalanan Religius Umrah dan Haji" mengatakan tawaf pada hakikatnya menirukan gerakan seluruh alam raya. Thawaf yang dilakukan seluruh alam raya ini merupakan pertanda bahwa semua mahluk harus tunduk kepada sang Khalik. Dan ternyata, seluruh jagad raya ini juga melakukan thawaf. Misalnya, bulan thawaf mengelilingi bumi, bumi juga thawaf mengelilingi matahari.

Tawaf mengandung makna bahwa manusia harus menjadikannya titik orientasinya semata-mata hanya kepada Allah dalam setiap gerak dan langkahnya. Sebagaimana bumi berputar pada porosnya.

Baca juga: Begini Tata Cara Thawaf Menurut Sejumlah Ulama

Ketika tawaf harus ada dalam kesadaran, bahwa kita bagian dari seluruh jagad raya yang selalu tunduk dan patuh kepada Allah. Sekaligus gambaran akan larut dan leburnya manusia dalam hadirat Ilahi (al-fana’fi Allah). "Jadi ke-aku-annya akan lebur dalam ke-Maha Agung-an Tuhan. Ketika melakukan thawaf, pandanglah keindahan non materiil Tuhan di 'tempat-Nya' yang suci," ujar Quraish Shihab dalam bukunya berjudul " Membumikan al-Qur’an ".

Seperti kesakasian Ibrahim , bahwa sholat, ibadah, hidup, dan matinya semata-mata hanya untuk Allah.

Allah SWT berfirman:

قُلۡ اِنَّ صَلَاتِىۡ وَنُسُكِىۡ وَ مَحۡيَاىَ وَمَمَاتِىۡ لِلّٰهِ رَبِّ الۡعٰلَمِيۡنَۙ
لَا شَرِيۡكَ لَهٗ‌ۚ وَبِذٰلِكَ اُمِرۡتُ وَاَنَا اَوَّلُ الۡمُسۡلِمِيۡنَ

"Katakanlah (Muhammad), "Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan seluruh alam, tidak ada sekutu bagi-Nya; dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)." ( QS Al-An’am :162- 163)

Kesadaran manusia sebagai hamba ini menuntut sebuah pengakuan dan ketegasan sikap, bahwa hanya Allah sebagai satu-satunya yang paling berhak untuk menerima ketundukan dan penyerahan diri.

Manusia bila sudah mampu mengorientasikan segala apa yang ada pada dirinya hanya kepada Tuhan, sebagai konsekuensi dari kehambaannya, maka dirinya akan menjadi manusia yang merdeka. Mampu keluar dari hegemoni kepentingan hawa nafsu yang cenderung menjauhkan diri dari menuju Tuhan.

Baca juga: Pendapat Ulama tentang Thawaf: Haruskah Dimulai dari Hajar Aswad
(mhy)
preload video