Haji Mabrur: Penyembelihan Kurban Adalah Mengurbankan Hawa Nafsu
Jum'at, 15 Juli 2022 - 11:26 WIB
loading...
A
A
A
وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفۡسِىۡۚ اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىۡ ؕاِنَّ رَبِّىۡ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ
Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. ( QS Yusuf [12] : 53)
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Teliti Kembali Tawaf yang Telah Dilakukan
Islah Gusmian dalam buku berjudul "Surat Cinta al-Ghazali Nasihat-Nasihat Pencerah Hati" menyebutkan bahwa dengan menundukkan hawa nafsu berarti menyadarkan kita akan keberpihakan kepada hati yang diterangi cahaya Ilahi. Dengan kesadaran demikian, orientasi hidup manusia akan selalu berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan yang didasarkan pada semangat keikhlasan.
Menurut para sufi, kata Jalaluddin Rakhmat , bahwa dalam diri manusia ada tiga kekuatan hawa nafsu. Pertama, kekuatan kebinatangan (quwwatun bahimiyyah). Kekuatan ini mendorong manusia untuk mencari kepuasan lahiriyah dan kenikmatan sensual yang hedonis. Dan yang menjadi orentasi dalam hidupnya adalah hal-hal yang bersifat profan dan duniawi.
Kedua, kekuatan binatang buas (quwwatun sabi’iyyah). Kekuatan ini memproduksi kesenangan-kesenangan untuk menyerang orang lain, mendengki, menghujat, memaki, dan menghancurkannya. Ketiga, kekuatan setan (quwwatun syaithaniyyah). Kekuatan ini mendorong manusia untuk membenarkan segala kejahatan yang ia lakukan dengan mengukuhkan berbagai logika dan dasar hukum.
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Melihat Kembali Jejak Kita di Arafah
Di samping tiga kekuatan yang menopang hawa nafsu tersebut, Tuhan juga menganugerahkan dalam diri manusia kekuatan Tuhan (quwwatun rabbaniyah).
Kekuatan ini berasal dari percikan cahaya Tuhan (Nur Ilahi) yang terletak pada akal sehat. Jika kekuatan Tuhan ini mampu menakhlukkan tiga kekuatan hawa nafsu di atas, maka akan membentuk citra kemanusiaan yang sempurna. Sebaliknya, jika kekuatan hawa nafsu yang menjadi pemenang, maka yang akan terbentuk adalah individu yang secara ruhaniah tak lebih seperti bintang buas.
Ketiga kekuatan tersebut harus diperangi karena menyebabkan manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya. Jika manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, maka hati, mata dan telinga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya ( QS. Al-A’raf [17] : 179). Allah Taala berfirman:
Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. ( QS Yusuf [12] : 53)
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Teliti Kembali Tawaf yang Telah Dilakukan
Islah Gusmian dalam buku berjudul "Surat Cinta al-Ghazali Nasihat-Nasihat Pencerah Hati" menyebutkan bahwa dengan menundukkan hawa nafsu berarti menyadarkan kita akan keberpihakan kepada hati yang diterangi cahaya Ilahi. Dengan kesadaran demikian, orientasi hidup manusia akan selalu berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan yang didasarkan pada semangat keikhlasan.
Menurut para sufi, kata Jalaluddin Rakhmat , bahwa dalam diri manusia ada tiga kekuatan hawa nafsu. Pertama, kekuatan kebinatangan (quwwatun bahimiyyah). Kekuatan ini mendorong manusia untuk mencari kepuasan lahiriyah dan kenikmatan sensual yang hedonis. Dan yang menjadi orentasi dalam hidupnya adalah hal-hal yang bersifat profan dan duniawi.
Kedua, kekuatan binatang buas (quwwatun sabi’iyyah). Kekuatan ini memproduksi kesenangan-kesenangan untuk menyerang orang lain, mendengki, menghujat, memaki, dan menghancurkannya. Ketiga, kekuatan setan (quwwatun syaithaniyyah). Kekuatan ini mendorong manusia untuk membenarkan segala kejahatan yang ia lakukan dengan mengukuhkan berbagai logika dan dasar hukum.
Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Melihat Kembali Jejak Kita di Arafah
Di samping tiga kekuatan yang menopang hawa nafsu tersebut, Tuhan juga menganugerahkan dalam diri manusia kekuatan Tuhan (quwwatun rabbaniyah).
Kekuatan ini berasal dari percikan cahaya Tuhan (Nur Ilahi) yang terletak pada akal sehat. Jika kekuatan Tuhan ini mampu menakhlukkan tiga kekuatan hawa nafsu di atas, maka akan membentuk citra kemanusiaan yang sempurna. Sebaliknya, jika kekuatan hawa nafsu yang menjadi pemenang, maka yang akan terbentuk adalah individu yang secara ruhaniah tak lebih seperti bintang buas.
Ketiga kekuatan tersebut harus diperangi karena menyebabkan manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya. Jika manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, maka hati, mata dan telinga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya ( QS. Al-A’raf [17] : 179). Allah Taala berfirman:
Lihat Juga :