Haji Mabrur: Penyembelihan Kurban Adalah Mengurbankan Hawa Nafsu

Jum'at, 15 Juli 2022 - 11:26 WIB
loading...
Haji Mabrur: Penyembelihan Kurban Adalah Mengurbankan Hawa Nafsu
Kurban adalah simbol totalisan penyerahan diri, sebagai upaya mendekatkan diri kepada Tuhan yang diiringi dengan sikap pasrah. Foto/Ilustrasi: the independent
A A A
Suatu ketika Imam Junaid al-Baghdadi mendapat kunjungan dari seseorang yang baru saja pulang menunaikan haji. Meski ritual haji telah ia jalani, orang ini belum menunjukkan perubahan perilaku apa-apa dalam hidupnya. Beliau pun banyak bertanya kepada lelaki itu. Salah satunya perihal penyembelihan kurban .

“Ketika engkau sampai di tempat penyembelihan dan melakukan kurban, apakah engkau telah mengurbankan segala hawa nafsumu?” tanya Imam Junaid Al-Baghdadi.

“Tidak!” lelaki itu menjawab.

“Berarti engkau tidak berkurban,” ujar Imam Junaid.

Baca juga: Idul Kurban dan Spirit Pembebasan

Imam Junaid Al-Baghdadi adalah seorang ulama besar yang semasa hidupnya bermukim di Baghdad. Nama lengkapnya Al-Junaid bin Muhammad bin al-Junaid Abu Qasim al-Qawariri al-Khazzaz al-Nahawandi Al-Baghdadi As-Syafi'i.

Beliau lahir di Nihawand, Persia, tetapi keluarganya bermukim di Baghdad, tempat ia belajar hukum Islam mazhab Syafi'i , dan akhirnya menjadi qadi kepala di Baghdad. Beliau mempelajari ilmu fiqih kepada Abu Tsur al-Kalbi yang merupakan murid langsung dari Imam Asy-Syafi'i.

Jihad Akbar
Imam Junaid menasihati, saat menyembelih kurban sebagai simbolisasi jihad akbar, maka sembelihlah segala hawa nafsumu. Niatkan untuk menyembelih “nafsu kebinatangan” yang ada dalam diri. Sifat egoisme, dehumanisme, sifat kerakusan, keserakahan, ketamakan dan sifat-sifat buruk lainnya yang merupakan kumpulan sifat-sifat kebinatangan yang bersemayam di dalam diri.

Menyembelih hawa nafsu berarti kembali berpihak kepada hati nurani yang diterangi cahaya keilahian. Sebab hawa nafsu merupakan pangkal lahirnya segala bentuk kesesatan dan kedhaliman.

Allah Taala berfirman:

وَمَاۤ اُبَرِّئُ نَفۡسِىۡ‌ۚ اِنَّ النَّفۡسَ لَاَمَّارَةٌۢ بِالسُّوۡٓءِ اِلَّا مَا رَحِمَ رَبِّىۡ ؕاِنَّ رَبِّىۡ غَفُوۡرٌ رَّحِيۡمٌ

Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas (dari kesalahan), karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan, kecuali (nafsu) yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun, Maha Penyayang. ( QS Yusuf [12] : 53)

Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Teliti Kembali Tawaf yang Telah Dilakukan

Islah Gusmian dalam buku berjudul "Surat Cinta al-Ghazali Nasihat-Nasihat Pencerah Hati" menyebutkan bahwa dengan menundukkan hawa nafsu berarti menyadarkan kita akan keberpihakan kepada hati yang diterangi cahaya Ilahi. Dengan kesadaran demikian, orientasi hidup manusia akan selalu berpihak kepada kebenaran, keadilan dan kemanusiaan yang didasarkan pada semangat keikhlasan.

Menurut para sufi, kata Jalaluddin Rakhmat , bahwa dalam diri manusia ada tiga kekuatan hawa nafsu. Pertama, kekuatan kebinatangan (quwwatun bahimiyyah). Kekuatan ini mendorong manusia untuk mencari kepuasan lahiriyah dan kenikmatan sensual yang hedonis. Dan yang menjadi orentasi dalam hidupnya adalah hal-hal yang bersifat profan dan duniawi.

Kedua, kekuatan binatang buas (quwwatun sabi’iyyah). Kekuatan ini memproduksi kesenangan-kesenangan untuk menyerang orang lain, mendengki, menghujat, memaki, dan menghancurkannya. Ketiga, kekuatan setan (quwwatun syaithaniyyah). Kekuatan ini mendorong manusia untuk membenarkan segala kejahatan yang ia lakukan dengan mengukuhkan berbagai logika dan dasar hukum.

Baca juga: Sudah Mabrurkah Haji Anda? Melihat Kembali Jejak Kita di Arafah

Di samping tiga kekuatan yang menopang hawa nafsu tersebut, Tuhan juga menganugerahkan dalam diri manusia kekuatan Tuhan (quwwatun rabbaniyah).

Kekuatan ini berasal dari percikan cahaya Tuhan (Nur Ilahi) yang terletak pada akal sehat. Jika kekuatan Tuhan ini mampu menakhlukkan tiga kekuatan hawa nafsu di atas, maka akan membentuk citra kemanusiaan yang sempurna. Sebaliknya, jika kekuatan hawa nafsu yang menjadi pemenang, maka yang akan terbentuk adalah individu yang secara ruhaniah tak lebih seperti bintang buas.

Ketiga kekuatan tersebut harus diperangi karena menyebabkan manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya. Jika manusia kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya, maka hati, mata dan telinga tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya ( QS. Al-A’raf [17] : 179). Allah Taala berfirman:
Halaman :
Komentar
Copyright © 2023 SINDOnews.com
read/ rendering in 0.1470 seconds (10.177#12.26)